Diari Hari #2#
2
******
Seminggu telah berlalu. Namun hingga kini Deni belum juga menemui Hari. Ia masih merasa sungkan bertemu dengan Hari. Ia merasa amat hina dihadapan Hari. Setelah apa yang Hari perbuat padanya, ia malah membalas perlakuan Hari dengan sikap kejamnya. Tak seharusnya ia menuruti amarahnya.
Kini Deni sedang berada di dalam kamarnya. Ia masih merenungkan masalah yang dihadapinya. Tak ada semangat sedikit pun dalam dirinya. Tok..tok..tok.., tiba-tiba terdengar suara pintu kamarnya diketuk. Kemudian ia bangkit dari ranjang dan membuka pintu. Terlihat ibunya di depan pintu.
“Nak, di bawah ada temanmu,” ucap ibunya.
“Siapa bu?”
“Ibu lupa menanyakannya, ia seorang gadis. Lebih baik kamu langsung menemuinya saja,”
Deni menuruti perkataan ibunya. Ketika sampai di ruang tamu ia terkejut bahwa teman yang dikatakan ibunya ternyata Cinta. Untuk apa Cinta kemari, pikirnya dalam hati. Dengan masih kaget ia menghampiri Cinta.
“Hai!” sapa Cinta dengan ramah.
“Hai!” jawab Deni singkat.
“Maaf mengganggu,”
“Tidak kok. Ada apa yah?” Tanya Deni.
“Ada yang aku ingin bicarakan,”
“Ada masalah apa yah?” Deni masih belum menangkap maksud Cinta.
“Ini masalah Hari,”
Hari? Kini Deni mulai mengerti dengan maksud Cinta.
“Apa kamu tahu keadaan dia sekarang?”
Deni tak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya.
“Dia kehilangan ingatannya,” jawab Cinta dengan agak murung.
“Apa! Dia hilang ingatan!” Deni kaget mendengar penjelasan Cinta.
“Ya. Ketika kecelakaan itu, kepalanya terbentur jalan. Dokter bilag benturan itu yang membuat ia kehilangan ingatannya,”
Tanpa sadar air mata Deni telah menetes dari kedua matanya. Ia tak menyangka bahwa sahbat mengalami itu. Semakin besar rasa bersalah yang dirasakannya.
“Sebenarnya aku tak ingin meminta bantuanmu. Mengingat semua sikapmu pada Hari. Terlebih kecelakaan yang menimpanya ada hubungannya denganmu. Namun setelah aku piker kembali, Cuma kamu yang bisa membantunya pulih kembali. Aku tak tega melihat ia seperti sekarang. Melihat ia yang seakan seperti orang asing di sekitar orang yang selama ini berada di sampingnya,” Cinta bercerita dengan terisak.
Deni hanya diam. Ia masih belum sadar sepenuhnya dari keterkejutannya. Air matanya makin deras membanjiri pipinya. Air matanya menggambarkan seberapa besar kesedihan yang dirasakannya.
“Aku tak tahu apa yang harus lakukan,” kini Deni mulai tersadar dari keterkejutannya. “Aku merasa sangat hina untuk bertemu dengannya. Aku sadar apa yang telah aku lakukan salah. Bahkan teramat salah. Aku malu bila harus bertemu dengannya,” jelas Deni.
“Apa yang telah terjadi bukanlah untuk kita sesali. Jujur, sebenarnya aku pun membenci sikapmu. Namun kini kita harus melupakan itu dulu. Kini yang terpenting bagaimana cara agar kita bisa membantu pemulihan Hari,” ujra Cinta.
“Tapi apa yang bisa aku lakukan?”
“Bukankah kamu sahabatnya? Mungkin sekarang kamu belum tahu apa yang bisa kamu lakukan. Tapi aku yakin rasa persahabatan kalian tetap ada walau Hari telah kehilangan ingatannya. Kalau kamu bisa menjadi Deni yang Hari ingat, pasti suatu saat ingatannya berlangsung pulih”
“Tapi aku tak tahu apa aku bisa. Aku malu bila harus berhadapannya dengannya,”
“Aku yakin kamu bisa. Bila kamu merasa bersalah, anggaplah ini sebagai permohonan maaf atas sikapmu selama ini,” jelas Cinta.
Deni hanya diam merenungkan perkataan Cinta. Ia masih belum bisa menerima kenyataan ini. Lama ruangan itu sepi. Tak ada seorang pun yang angkat bicara. Mereka berdua sibuk dengan pikuran mereka masing-masing.
“Mungkin lebih baik aku pulang dulu. Aku harap kamu mau mempertimbangkan apa yang aku katakana,” akhirnya Cinta pamit.
Deni hanya mengangguk dan mengantarkan Cinta hingga depan gerbang rumahnya.




terusane apa dik
BalasHapusentar kak, belum dapet ide
BalasHapus