Menjadi Bintang [Memori yang Hilang]
0
Lampu
ruang operasi yang menyala merah kini telah mati, tanda bahwa proses operasi
telah selesai. Seorang dokter keluar dari ruangan operasi. Farid, Citra dan
seorang laki-laki paruh baya yang tak lain adalah ayah Dika langsung menghampiri
dokter tersebut dengan wajah yang sangat khawatir.
“Bagaimana
keadaan anak saya, Dok?” ayah Dika bertanya dengan nada lesu dan sedikit
sesegukan.
Dokter
itu menarik napas perlahan, “Operasi berjalan lancar. Kami telah menghentikan
darah yang keluar dari tubuhnya,” dokter menjelaskan hasil operasi yang ia
jalankan. “Namun sekarang kondisi pasien masih kritis dan sangat lemah,”
jelasnya kemudian dengan nada yang tenang agar tak semakin membuat keluarga
Dika semakin cemas.
Setelah
itu pintu ruang operasi terbuka. Dua orang suster mendorong ranjang yang Dika
tiduri keluar dari ruangan tersebut. Tubuh Dika dipenuhi oleh balutan perban.
Membuat miris semua yang melihatnya. Ayah dan kedua teman Dika mengikuti kedua
suster itu.
***
Harum
khas obat-obatan memenuhi ruangan serba putih itu. Keadaan hening. Sangat
hening. Semua orang yang ada di sana
masih larut dalam kesedihan. Hari sudah hampir pagi, namun belum ada
tanda-tanda bahwa Dika akan sadar. Farid menatap Om Harry, ayah Dika, sedang
tertidur disamping kanan Dika. Ayah sahabatnya itu pasti sangat kelelahan,
pikirnya. Sebenarnya ia pun sudah sangat lelah. Namun rasa cemas yang
menghantuinya jauh lebih kuat dari pada kelelahannya. Karena itu, ia enggan
untuk tertidur. Ia merasa sangat bersalah pada sahabatnya itu. Ia merasa karena
tingkah bodohnyalah yang membuat sahabatnya itu menjadi seperti ini. Sedangkan
Citra sudah pulang sejak semalam. Farid yang menyuruhnya untuk pulang.
Farid
menatap nanar tubuh Dika yang terkulai lemah di atas ranjang. Ia memperhatikan
setiap balutan perban yang menutupi tubuh Dika. Hingga ke ujung jari tangan
kiri Dika. Ia melihat ujung jari itu bergerak walau sedikit. Untuk memastikan,
ia mendekatkan wajahnya, kemudian jari itu kembali bergerak. Refleks kemudian
ia berlari keluar ruangan mencari dokter.
***
“Ini
dimana?” itulah yang pertama Dika katakan ketika ia sadar dengan suara yang
amat lemah seakan berbisik. Sebuah pertanyaan yang lazim dikatakan oleh
seseorang yang baru saja sadar dari pingsan.
Kemudian
dokter Hermawan, dokter yang kemarin mengoperasi Dika memeriksa keadaan Dika.
“Kamu
ada di rumah sakit, Dika,” Farid menjawabnya.
“Dika?”
Dika bertanya karena jawaban itu seakan bukan ditujukan padanya.
Ayah
Dika dan Farid menatap dokter Hermawan mencoba mencari penjelasan.
“Sepertinya
Dika mengalami amnesia akibat benturan yang dialaminya ketika kecelakaan
kemarin,” Dokter Hermawan menjelaskan keadaan.
Ayah
Dika dan Farid membelalakan matanya, terkejut.
“Apa
dia bisa sembuh, Dok?” tanya Ayah Dika ketika ia telah mengendalikan keterkejutannya.
Dokter
menggangguk, “Namun mungkin akan sedikit membutuhkan waktu,” jelasnya. “Biarkan
dia mengingatnya seiring berjalanya waktu. Apabila dipaksakan itu akan
mengganggu mentalnya,”
***
Pagi
ini adalah pagi kedua sejak Dika kehilangan ingatannya. Semua terasa sangat
asing baginya. Ia hanya berpikir dalam diamnya. Namun ia tak dapat mengingat
semua dengan jelas. Hanya hal-hal yang samara yang ia ingat. Ketika coba untuk
mengingat sangat dalam, saat itu kepala akan terasa sangat sakit.
Farid
terbangun dari tidurnya. Ia tetap setia menemani sahabatnya di kamar inap.
Hanya beberapa kali ia pergi meninggalkan ruang itu. Itu pun hanya sebentar. Ia
terus membantu sahabatnya untuk mendapatkan ingatan kembali. Ia terud bercerita
segala hal tentang hidup sahabatnya itu. Namun semuanya belum membuahkan hasil
yang besar. Saat ia terbangun ia melihat Citra ada di ruangan itu. Citra sedang
menyuapi Dika.
“Pagi
sekali,” ucap Farid.
“Tadi
aku ke sini dulu sebelum berangkat sekolah dan melihat suster membawa makanan
untuk Dika. Jadi aku menyuapinya dulu,” menjawab Citra ucapan Farid.
Farid
hanya menggangguk dan tersenyum.
“Kamu
tak masuk sekolah?” tanya Citra sambil tetap menyuapi Dika.
“Entahlah,”
“Lebih
baik kamu sekolah,” ucap Dika yang telah menelan makanannya.
“Aku
ingin menemanimu,”
“Aku
tak mau sekolahmu terganggu karena aku. Aku akan baik-baik saja,” Dika
tersenyum.
Farid
melihat senyum itu. Entah mengapa ia senang melihatnya. Ia sangat rindu dengan
senyuman itu. Senyuman tulus sahabatnya yang telah lama menghilang. Setiap
kejadian pasti ada hikmahnya. Ia meyakinkan hal itu. Walau dalam keadaan yang
lemah, di mata Farid, sejak kecelakaan itu Dika terlihat lebih cerah dari
biasanya. Mengingatkannya dengan sahabatnya itu saat kecil dulu. “Baiklah kalau
begitu,” Farid ikut tersenyum kemudian keluar dari kamar inap.
“Aku
ingin cepat bisa mengingat semuanya,” gumam Dika.
“Jangan
terlalu memaksakan diri,”
“Ya.
Aku hanya tak ingin menyusahkan kalian,”
“Aku
tak merasa disusahkan kok. Bukankah kita sahabat. Jadi kita harus saling
membantu,”
“Karena
itu aku ingin cepat ingat semuanya. Aku terlihat jahat tak ingat sahabat sebaik
kalian,”
“Aku
tak berpikir seperti itu. Keadaan yang membuatmu seperti ini. Bukan
kehendakmu,” Citra tersenyum.
“Aku
suka senyummu,” ucap Dika jujur.
Citra
menunduk tersipu. “Hahaha,” ia tertawa mencobanya mengendalikan rasa malunya.
“Ayo cepat makannya,” ia kembali menyuapi Dika.
***
Seminggu
telah berlalu. Keadaan Dika telah lumayan membaik dan ia telah diperbolehkan
pulang. Siang itu ia sedang ada di halaman rumahnya.
“Leganya
sudah keluar dari rumah sakit. Udara di sini lebih segar dari pada udara di
rumah sakit. Di sana
terlalu bau obat,”
“Hahaha..itukan
emang ciri khas rumah sakit,” Farid menjawabnya.
“Aku
jadi ingin cepat sekolah. Aku ingin tahu bagaimana sekolahku,”
“Karena
itu kau cepat sehat,” Citra ikut meramaikan suasana.
“Aku
sudah sehat kok. Walau aku masih harus duduk di kursi roda ini,”
“Aku
ke dalam dulu yah. Kebelet,” Farid pamit kemudian langsung berlari ke dalam
rumah.
Dika
memperhatikan keadaan sekitar. Ia melihat sepasang kupu-kupu sedang terbang
bersama. “Kupu-kupu itu cantik,” ucapnya.
“Ya.
Sangat cantik,” Citra memperhatikan kupu-kupu yang ditunjuk Dika.
Tiba-tiba
Dika mengingat sesuatu. Sebuah kotak berisi sepasang kupu-kupu. Ia memegangi
kepala. Rasanya sangat sakit ketika ia mengingat itu.
“Kamu
sakit?” Citra melihat Dika yang terlihat kesakitan.
Dika
menggelengkan kepalanya. Rasa sakitnya telah hilang. “Tadi aku hanya mengingat
sesuatu. Tapi semuanya samar-samar,”
“Sudahlah
jangan memaksakan diri,” Citra tersenyum mencairkan suasana.
Dika
ikut tersenyum. “Aku suka senyummu,”
Citra
kembali tersipu walau hal itu suah sangat sering Dika ucapkan.
“Ke
dalam yuk!” ajak Dika.
Citra
mengangguk kemudian membantu Dika mendorong kursi rodanya.
***
Malam
harinya Dika sedang melihat langit di teras rumahnya. Kemudian Farid
menghampirinya.
“Sedang
apa kamu di sini? Sudah malam,” sejak Dika hilang ingatan ia jadi tak pernah
menggunakan kata lo-gue lagi pada sahabatnya itu.
“Aku
memang sedang ingin melihat langit malam. Selama di rumah sakit aku tak bisa
melihat langit malam. Entah mengapa aku sangat merindukan langit malam,”
“Haha..itu
memang hobimu sejak dulu,”
“Benarkah?”
“Sepertinya
kau memang tak bisa menghilang kebiasaanmu itu walau kau hilang ingatan,”
“Aku
suka langit malam. Aku suka melihat bintang,”
“Karena
itu kau sangat ingin menjadi bintang,”
“Ya.
Bintang itu indah. Sangat indah,”
“Ia
juga sangat tegar,”
Dika
menatap sahabatnya itu. “Kamu bisa membaca pikiranku? Kau tahu apa yang akau
pikirkan,”
“Hahaha,”
Farid tertawa mendengarnya. Semua jadi serasa terbalik. “Bukan aku yang bisa
membaca pikiran orang. Tapi kamu yang bisa,”
“Benarkah?
Aku tak ingat,”
“Hahaha..semuanya
serasa terbalik,”
“Hmmm..aku
semakin rindu dengan ingatanku,”
“Semua
pasti ada waktunya,”
Dika
kembali menatap langit. Begitu juga dengan Farid. Suasana menjadi hening. Dika
meluapkan semua rasa rindunya dengan langit malam.
“Bintang
itu tegar. Ia selalu bersinar dalam keadaan apa pun. Tak perduli apakah akan
ada orang yang akan memperhatikannya. Tak perduli walau saat dirinya tertutup
awan dan tak terlihat bahkan ketika cahaya matahari mengalahkan cahayanya.
Bagaimana pun ia akan selalu berusaha menyinari bumi walau hanya menjadi
seberkas cahaya kecil yang tak selalu terlihat. Ia hanya ingin memberikan
sinarnya, ia selalu ingin berusaha berguna,” jelas Farid mengingat apa yang
selalu Dika ucapkan ketika melihat langit seperti ini.
Dika
melihat Farid yang sedang berbicara sambil menatap langit. Ia ingat semua kata-kata
itu.
Farid
memalingkan tatapan dari langit kemudian melihat sahabatnya. Ia tersenyum, “Itu
yang selalu kamu katakan. Kamu selalu berkata ingin setegar bintang. Bahkan
terkadang aku bosan mendengarnya,”
“Aku
ingat itu semua,”
“Sepertinya
kamu memang sangat ingin menjadi seperti bintang,”
Dika
mengangguk.
“Bahkan
saat kamu melupakan segala hal. Impian itu tak kamu lupakan,”




0 komentar: