Menjadi Bintang [Memori yang Hilang]

0
Selasa, Februari 05, 2013


Lampu ruang operasi yang menyala merah kini telah mati, tanda bahwa proses operasi telah selesai. Seorang dokter keluar dari ruangan operasi. Farid, Citra dan seorang laki-laki paruh baya yang tak lain adalah ayah Dika langsung menghampiri dokter tersebut dengan wajah yang sangat khawatir.
“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?” ayah Dika bertanya dengan nada lesu dan sedikit sesegukan.
Dokter itu menarik napas perlahan, “Operasi berjalan lancar. Kami telah menghentikan darah yang keluar dari tubuhnya,” dokter menjelaskan hasil operasi yang ia jalankan. “Namun sekarang kondisi pasien masih kritis dan sangat lemah,” jelasnya kemudian dengan nada yang tenang agar tak semakin membuat keluarga Dika semakin cemas.
Setelah itu pintu ruang operasi terbuka. Dua orang suster mendorong ranjang yang Dika tiduri keluar dari ruangan tersebut. Tubuh Dika dipenuhi oleh balutan perban. Membuat miris semua yang melihatnya. Ayah dan kedua teman Dika mengikuti kedua suster itu.

***

Harum khas obat-obatan memenuhi ruangan serba putih itu. Keadaan hening. Sangat hening. Semua orang yang ada di sana masih larut dalam kesedihan. Hari sudah hampir pagi, namun belum ada tanda-tanda bahwa Dika akan sadar. Farid menatap Om Harry, ayah Dika, sedang tertidur disamping kanan Dika. Ayah sahabatnya itu pasti sangat kelelahan, pikirnya. Sebenarnya ia pun sudah sangat lelah. Namun rasa cemas yang menghantuinya jauh lebih kuat dari pada kelelahannya. Karena itu, ia enggan untuk tertidur. Ia merasa sangat bersalah pada sahabatnya itu. Ia merasa karena tingkah bodohnyalah yang membuat sahabatnya itu menjadi seperti ini. Sedangkan Citra sudah pulang sejak semalam. Farid yang menyuruhnya untuk pulang.
Farid menatap nanar tubuh Dika yang terkulai lemah di atas ranjang. Ia memperhatikan setiap balutan perban yang menutupi tubuh Dika. Hingga ke ujung jari tangan kiri Dika. Ia melihat ujung jari itu bergerak walau sedikit. Untuk memastikan, ia mendekatkan wajahnya, kemudian jari itu kembali bergerak. Refleks kemudian ia berlari keluar ruangan mencari dokter.

***

“Ini dimana?” itulah yang pertama Dika katakan ketika ia sadar dengan suara yang amat lemah seakan berbisik. Sebuah pertanyaan yang lazim dikatakan oleh seseorang yang baru saja sadar dari pingsan.
Kemudian dokter Hermawan, dokter yang kemarin mengoperasi Dika memeriksa keadaan Dika.
“Kamu ada di rumah sakit, Dika,” Farid menjawabnya.
“Dika?” Dika bertanya karena jawaban itu seakan bukan ditujukan padanya.
Ayah Dika dan Farid menatap dokter Hermawan mencoba mencari penjelasan.
“Sepertinya Dika mengalami amnesia akibat benturan yang dialaminya ketika kecelakaan kemarin,” Dokter Hermawan menjelaskan keadaan.
Ayah Dika dan Farid membelalakan matanya, terkejut.
“Apa dia bisa sembuh, Dok?” tanya Ayah Dika ketika ia telah mengendalikan keterkejutannya.
Dokter menggangguk, “Namun mungkin akan sedikit membutuhkan waktu,” jelasnya. “Biarkan dia mengingatnya seiring berjalanya waktu. Apabila dipaksakan itu akan mengganggu mentalnya,”

***

Pagi ini adalah pagi kedua sejak Dika kehilangan ingatannya. Semua terasa sangat asing baginya. Ia hanya berpikir dalam diamnya. Namun ia tak dapat mengingat semua dengan jelas. Hanya hal-hal yang samara yang ia ingat. Ketika coba untuk mengingat sangat dalam, saat itu kepala akan terasa sangat sakit.
Farid terbangun dari tidurnya. Ia tetap setia menemani sahabatnya di kamar inap. Hanya beberapa kali ia pergi meninggalkan ruang itu. Itu pun hanya sebentar. Ia terus membantu sahabatnya untuk mendapatkan ingatan kembali. Ia terud bercerita segala hal tentang hidup sahabatnya itu. Namun semuanya belum membuahkan hasil yang besar. Saat ia terbangun ia melihat Citra ada di ruangan itu. Citra sedang menyuapi Dika.
“Pagi sekali,” ucap Farid.
“Tadi aku ke sini dulu sebelum berangkat sekolah dan melihat suster membawa makanan untuk Dika. Jadi aku menyuapinya dulu,” menjawab Citra ucapan Farid.
Farid hanya menggangguk dan tersenyum.
“Kamu tak masuk sekolah?” tanya Citra sambil tetap menyuapi Dika.
“Entahlah,”
“Lebih baik kamu sekolah,” ucap Dika yang telah menelan makanannya.
“Aku ingin menemanimu,”
“Aku tak mau sekolahmu terganggu karena aku. Aku akan baik-baik saja,” Dika tersenyum.
Farid melihat senyum itu. Entah mengapa ia senang melihatnya. Ia sangat rindu dengan senyuman itu. Senyuman tulus sahabatnya yang telah lama menghilang. Setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Ia meyakinkan hal itu. Walau dalam keadaan yang lemah, di mata Farid, sejak kecelakaan itu Dika terlihat lebih cerah dari biasanya. Mengingatkannya dengan sahabatnya itu saat kecil dulu. “Baiklah kalau begitu,” Farid ikut tersenyum kemudian keluar dari kamar inap.
“Aku ingin cepat bisa mengingat semuanya,” gumam Dika.
“Jangan terlalu memaksakan diri,”
“Ya. Aku hanya tak ingin menyusahkan kalian,”
“Aku tak merasa disusahkan kok. Bukankah kita sahabat. Jadi kita harus saling membantu,”
“Karena itu aku ingin cepat ingat semuanya. Aku terlihat jahat tak ingat sahabat sebaik kalian,”
“Aku tak berpikir seperti itu. Keadaan yang membuatmu seperti ini. Bukan kehendakmu,” Citra tersenyum.
“Aku suka senyummu,” ucap Dika jujur.
Citra menunduk tersipu. “Hahaha,” ia tertawa mencobanya mengendalikan rasa malunya. “Ayo cepat makannya,” ia kembali menyuapi Dika.

***

Seminggu telah berlalu. Keadaan Dika telah lumayan membaik dan ia telah diperbolehkan pulang. Siang itu ia sedang ada di halaman rumahnya.
“Leganya sudah keluar dari rumah sakit. Udara di sini lebih segar dari pada udara di rumah sakit. Di sana terlalu bau obat,”
“Hahaha..itukan emang ciri khas rumah sakit,” Farid menjawabnya.
“Aku jadi ingin cepat sekolah. Aku ingin tahu bagaimana sekolahku,”
“Karena itu kau cepat sehat,” Citra ikut meramaikan suasana.
“Aku sudah sehat kok. Walau aku masih harus duduk di kursi roda ini,”
“Aku ke dalam dulu yah. Kebelet,” Farid pamit kemudian langsung berlari ke dalam rumah.
Dika memperhatikan keadaan sekitar. Ia melihat sepasang kupu-kupu sedang terbang bersama. “Kupu-kupu itu cantik,” ucapnya.
“Ya. Sangat cantik,” Citra memperhatikan kupu-kupu yang ditunjuk Dika.
Tiba-tiba Dika mengingat sesuatu. Sebuah kotak berisi sepasang kupu-kupu. Ia memegangi kepala. Rasanya sangat sakit ketika ia mengingat itu.
“Kamu sakit?” Citra melihat Dika yang terlihat kesakitan.
Dika menggelengkan kepalanya. Rasa sakitnya telah hilang. “Tadi aku hanya mengingat sesuatu. Tapi semuanya samar-samar,”
“Sudahlah jangan memaksakan diri,” Citra tersenyum mencairkan suasana.
Dika ikut tersenyum. “Aku suka senyummu,”
Citra kembali tersipu walau hal itu suah sangat sering Dika ucapkan.
“Ke dalam yuk!” ajak Dika.
Citra mengangguk kemudian membantu Dika mendorong kursi rodanya.

***

Malam harinya Dika sedang melihat langit di teras rumahnya. Kemudian Farid menghampirinya.
“Sedang apa kamu di sini? Sudah malam,” sejak Dika hilang ingatan ia jadi tak pernah menggunakan kata lo-gue lagi pada sahabatnya itu.
“Aku memang sedang ingin melihat langit malam. Selama di rumah sakit aku tak bisa melihat langit malam. Entah mengapa aku sangat merindukan langit malam,”
“Haha..itu memang hobimu sejak dulu,”
“Benarkah?”
“Sepertinya kau memang tak bisa menghilang kebiasaanmu itu walau kau hilang ingatan,”
“Aku suka langit malam. Aku suka melihat bintang,”
“Karena itu kau sangat ingin menjadi bintang,”
“Ya. Bintang itu indah. Sangat indah,”
“Ia juga sangat tegar,”
Dika menatap sahabatnya itu. “Kamu bisa membaca pikiranku? Kau tahu apa yang akau pikirkan,”
“Hahaha,” Farid tertawa mendengarnya. Semua jadi serasa terbalik. “Bukan aku yang bisa membaca pikiran orang. Tapi kamu yang bisa,”
“Benarkah? Aku tak ingat,”
“Hahaha..semuanya serasa terbalik,”
“Hmmm..aku semakin rindu dengan ingatanku,”
“Semua pasti ada waktunya,”
Dika kembali menatap langit. Begitu juga dengan Farid. Suasana menjadi hening. Dika meluapkan semua rasa rindunya dengan langit malam.
“Bintang itu tegar. Ia selalu bersinar dalam keadaan apa pun. Tak perduli apakah akan ada orang yang akan memperhatikannya. Tak perduli walau saat dirinya tertutup awan dan tak terlihat bahkan ketika cahaya matahari mengalahkan cahayanya. Bagaimana pun ia akan selalu berusaha menyinari bumi walau hanya menjadi seberkas cahaya kecil yang tak selalu terlihat. Ia hanya ingin memberikan sinarnya, ia selalu ingin berusaha berguna,” jelas Farid mengingat apa yang selalu Dika ucapkan ketika melihat langit seperti ini.
Dika melihat Farid yang sedang berbicara sambil menatap langit. Ia ingat semua kata-kata itu.
Farid memalingkan tatapan dari langit kemudian melihat sahabatnya. Ia tersenyum, “Itu yang selalu kamu katakan. Kamu selalu berkata ingin setegar bintang. Bahkan terkadang aku bosan mendengarnya,”
“Aku ingat itu semua,”
“Sepertinya kamu memang sangat ingin menjadi seperti bintang,”
Dika mengangguk.
“Bahkan saat kamu melupakan segala hal. Impian itu tak kamu lupakan,”

About the author

Donec non enim in turpis pulvinar facilisis. Ut felis. Praesent dapibus, neque id cursus faucibus. Aenean fermentum, eget tincidunt.

0 komentar: