Menjadi Bintang [Maaf Kawan]

0
Selasa, Februari 05, 2013


Waktu terus berlalu. Kini kondisi Dika sudah membaik. Ia sudah tak perlu menggunakan kursi roda lagi. Namun ingatannya masih belum pulih. Dika tak mempermasalahkannya lagi. Walau tak bisa mengingat masa lalunya, ia tetap bisa hidup bahagia dengan memulai semuanya dari awal. Bahkan semua orang mengatakan bahwa sekarang ia jauh lebih ceria dari pada ia yang dulu.
Dika dan Farid sedang menyusuri lorong sekolah. Mereka hendak pergi menyusul Citra ke kantin.

“Apa kamu berpikir Citra itu sangat cantik,” ucap Dika di tengah perjalanan ke kantin.
“Tentu saja. Dia sangat cantik juga manis,”
“Haha, benar. Aku sangat suka dengan senyumnya yang manis,”
Farid berhenti berjalan, memperhatikan wajah Dika. Ada yang aneh dengan nada bicaranya.
“Kenapa?” Dika bertanya melihat Farid yang sedang memperhatikannya.
Farid menggeleng kemudian kembali berjalan.
“Apa ia sudah punya pacar?” tanya Dika berbisik ketika Farid telah sejajar dengannya.
Farid terbatuk mendengar pertanyaan itu dan kembali menghentikan langkahnya. “Akulah pacarnya,” itu yang ia pikirkan namun tak ia ucapkan. “Apa kamu menyukainya?” Farid balik bertanya.
“Sepertinya hanya orang bodoh yang tak menyukainya,” Dika memperlihatkan senyum lebarnya ke arah Farid.
Farid tertegun dengan jawaban Dika. “Mengapa semuanya menjadi rumit begini. Apa aku harus mengatakan semuanya? Apa aku tega menghancurkan kembali senyumnya yang baru-baru ini hadir kembali setelah sekian lama,” pikirnya.
Dika mengguncang pundak Farid, “Kenapa kamu tak menjawabnya? Apa Citra sudah punya pacar?” Dika kembali bertanya.
Hati Farid terasa lebih terkoyak. Kemudian Farid menggelang, “Entahlah. Sepertinya belum,” Ia terpaksa berbohong. Ia tak tega harus menghancurkan hati sahabatnya setelah apa yang Dika lakukan kemarin untuk menyelamatkan hidupnya.
Dika tersenyum puas mendapat jawaban seperti itu, “Kalau begitu aku masih punya harapan,”
“Eh, aku ke toilet dulu yah, kebelet,” tanpa mendengarkan jawaban Dika, Farid langsung meninggalkan Dika.
Dika menggelengkan kepalanya memperhatikan tigkah Farid.

***

Di toilet, Farid mencuci mukanya mencoba menyegarkan kembali suasana hatinya. Ia menatap dirinya di depan cermin. Kemudian mengacak-ngacak rambutnya. Masalah baru telah muncul. Membuat seluruh pikirannya menjadi semrawut. Ia bingung menghadapi masalah ini.
Seorang laki-laki masuk ke dalam toilet. Ia adalah kakak angkatan Farid. Ia melihat wajah Farid yang sangat kusut.
“Lo ada masalah?” tanya laki-laki itu.
Farid menatap kakak kelasnya itu. Farid hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan itu. Saking pusingnya ia memikirkan masalahnya ia sama sekali tak sadar ada orang lain yang masuk ke dalam toilet.
“Berdiam diri di sini tak akan menyelesaikan masalah,” ucap kakak kelas itu so’ bijak. Melihat reaksi Farid yang terlihat tak senang kemudian laki-laki itu melangkah keluar.
“Kalau lo lebih milih cinta atau sahabat?” akhirnya Farid membuka suara.
Laki-laki itu menghentikan langkahnya kemudian berbalik melihat Farid. “Aku akan memilih sahabat,” jawabnya mantap. “Tapi kalau bisa aku akan berusaha mempertahankan keduanya,”
“Walau itu akan menyakiti perasaan, lo?”
Laki-laki itu mengangguk, “Jika itu cinta sejati lo walau sekarang lo harus terpisah darinya suatu saat lo dan cinta sejati lo pasti akan bersatu kembali. Tapi jika lo menyakiti sahabat lo, walau suatu saat kalian akan akrab kembali, lo pasti akan sangat menyesal telah menyakiti sahabat yang selalu ada buat lo,” Setelah menjawab itu laki-laki itu kemudian keluar dari toilet.
Farid kembali memperhatikan wajahnya di cermin. Ia kembali berpikir dan mengingat kata-kata yang kakak kelasnya tadi ucapkan. Setelah cukup lama berpikir kemudian sekali lagi ia membasuh wajahnya. Menata kembali tampilannya yang tadi kusut. Kemudian melangkah keluar dari toilet.

***

“Farid mana, Dik?” Citra bertanya melihat Dika ke kantin tak bersama Farid.
“Tadi dia bilang mau ke toilet dulu,”
“Oh. Mau makan apa?”
“Kamu mau makan apa?”
“Kok malah balik nanya?”
“Samain aja deh sama kamu,” Dika tersenyum.
“OK. Kalau gitu aku pesan dulu yah,” Kemudian Citra berdiri dan melangkah hendak memesan makanan.
Kini Citra telah kembali duduk dengan Dika. Tapi Farid sama sekali belum datang.
“Farid lama banget,” gumam Citra.
“Tuh dia datang,” Diak menunjuk dengan dagu.
Citra melihat arah yang Dika tunjuk dan benar di sana ada Farid. “Ke toilet lama banget?” tanyanya ketika Farid telah duduk di bangku tempat ia dan Dika duduk.
Farid cengengesan, “Kenapa? Kangen?”
“Pede,” Citra menjulurkan lidahnya.
Kemudian makanan yang Citra pesan datang.
“Aku gak dipesanin?”
“Tadi kan kamu belum datang. Jadi gak aku pesanin,”
“Tega. Ya sudah aku pesan dulu,” Kemudian Farid langsung meninggalkan Dika dan Citra.
Ketika Farid telah memesan dan hendak kembali ke tempat tadi ia duduk, ia memperhatikan Citra dan Dika yang sedang berdua. Mereka tampak sedang bercanda dan terlihat bahagia. Dadanya terasa sesak. Cemburu. Itu yang sedang ia rasakan. Namun ia pun bahagia melihat dua orang yang ia sayangi bahagai seperti itu. Dan ia sama sekali tak ingin melihat salah satu diantara mereka kehilangan kebahagiaan itu. Untuk saat ini, biarlah dia dulu yang berkorban.

***
Kini Dika, Farid dan Citra sedang menunggu bis di halte depan sekolah. Sejak Dika kehilangan ingatannya, ia lebih suka naik bis untuk pulang sekolah. Ia pikir dengan begitu akan semakin banyak hal yang ia lalui bersama dua sahabatnya. Ia berharap dengan begitu ingatan akan lebih cepat pulih.
Ketika mereka sedang menunggu terjadi sebuah kecelakaan hebat. Sebuah motor yang sedang melaju dengan cepat menabrak mobil dari arah berlawanan. Pengendara itu terlempar jauh dari motornya. Darah mengotori jalan. Keadaan menjadi riuh. Beberapa orang telah mengerumuni tempat itu.
Farid hendak ikut melihat, namun ia mengurungkan niatnya ketika melihat keadaan Dika. Dika sedang kelihatan syok. Tubuhnya menggigil. Matanay melihat nanar kea rah kecelakaan tadi terjadi. Kemudian ia terjatuh. Seluruh tubuhnya tiba-tiba melemas. Ia benar-benar ketakutan. Farid mengahmpiri sahabatnya itu. Ia mengerti keadaan Dika. Ketika melihat sebuah taksi, ia langsung memberhentikannya. Citra baru sadar dengan keadaan Dika. Ia langsung membantu Farid yang sedang mengangkat tubuh Dika ke dalam taksi. Kemudian ia masuk ke tempat duduk bagian depan. Setelah Farid memberitahukan kepada supir taksi tujuan mereka, taksi itu langsung melaju.

***

“Kenapa tak dibawa ke rumah sakit?” tanya Citra pada Farid ketika mereka sampai ke rumah Dika.
“Itu malah akan memperburuk keadaan,” jawab Farid.
Kemudian Farid keluar dari taksi sambil menggendong Dika. Citra menyusulnya setelah terlebih dulu membayar taksi. Ketika sampai di depan pintu, mereka disambut tatapan khawatir Bi Ijah, pembantu di rumah Dika. Farid langsung membawa Dika ke kamar. Sedangkan Citra menjelaskan apa yang terjadi kepada Bi Ijah. Kemudian ia menyusul Farid ke dalam kamar.
“Sebenarnya ada apa dengan Dika? Kenapa dia bisa seperti ini?” tanya Citra cemas kepada Farid ketika dia sampai ke kamar dan melihat Dika yang pingsan di atas kasur.
“Sebernarnya dia itu homophobia,”
“Hah?”
“Hemophobia. Dia takut pada darah,”
“Kok bisa?”
“Ia mulai takut darah sejak kejadian 12 tahun yang lalu. Kejadian yang merubah hidupnya. Yang merenggut kebahagiaannya,”
“Apa maksudnya?”
Farid menarik napasnya kemudian ia mulai bercerita, “Dua belas tahun yang lalu. Saat itu Dika masih berumur 5 tahun. Sama seperti anak kecil kebanyakan ia sangat suka bermain bersama ibunya. Suatu ketika dia hampir tertabrak mobil kemudian ibunya menyelamatkannya. Persis seperti yang dia lakukan kemarin padaku. Namun saat itu ia harus kehilangan ibunya untuk selamanya. Di depan matanya sendiri dia melihat bagaimana ibunya tertabrak dan berlumuran darah kemudian meninggal. Sejak itu ia menjadi sangat takut pada darah. Tubuhnya akan menggigil seperti tadi,”
Citra mendengar dengan seksama cerita Farid. Ia memperhatikan Dika. Ia tak menyangka sahabatnya itu mengalami hal seperti itu. Masih banyak hal yang tak ia ketahui.
“Lebih baik kita keluar. Dia butuh istirahat,”
Citra mengangguk kemudian mengikuti Farid keluar dari kamar.
Dika memperhatikan mereka berdua. Sebenarnya tadi ia telah sadar namun berpura-pura tetap pingsan. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Sesuatu yang membuatnya merasa sedih dan sangat bersalah kepada kedua sahabatnya terutama pada Farid.

***

“Dik, jadi ikut kita gak?” Farid bertanya ketika mereka hendak pulang.
“Aku mau dijemput sama Pak Herman,”
“Tumben,”
“Tadi aku yang minta jemput. Masih kurang enak badan,”
“Oh. Ya udah kalau gitu kita berdua duluan yah,”
Dika mengangguk. Ia memperhatikan Farid dan Citra yang sedang keluar. “Maaf,” gumamnya. Sebenarnya ia bukan sedang tak enak badan. Ia memang sengaja menghindari mereka berdua. Ia merasa tak nyaman dengan mereka berdua sedang kejadian kemarin.

***

Tiga hari berlalu. Farid akhirnya menyadari kalau ada yang aneh dengan Dika. Dika menjadi kembali pendiam dan ia merasa kalau Dika sedang menjauhinya. Sore itu, ia bermain ke rumah Dika.
“Dik, kamu gak kenapa-kenapa kan?”
Dika menggeleng.
“Aku ngerasa ada yang beda sama kamu. Aku rasa kamu sedang menghindari aku dan Citra,”
“Itu cuma perasaan kamu aja,”
“Aku yakin ada yang salah. Aku memang tak bisa membaca isi pikiran orang seperti kamu. Tapi aku tetap sahabatmu. Kamu tak pernah seperti ini sebelumnya,”
Dika menundukkan kepalanya.
“Sebenarnya ada apa?”
“Maaf,” gumam Dika.
“Maaf?” Farid tak mengerti.
“Maaf aku telah mengkhianatimu,”
Farid memandangi Dika semakin tak mengerti.
“Maaf aku telah menyukai pacarmu,”
Farid membelalakan matanya.
“Aku sudah ingat segalanya. Harusnya kamu mengatkan di itu pacarmu,”
“Aku hanya tak ingin merusak kebahagiaanmu. Kebahagiaan yang lama hilang dari dirimu,”
“Aku tahu kamu baik,” Dika memperlihatkan senyumnya. “Tapi harusnya kamu tak berkorban seperti ini untukku,”
“Maaf,”
“Maaf?”
“Maaf telah menghancurkan hatimu,”
Dika menggeleng, “Kamu tak perlu minta. Aku sangat berterimakasih. Aku bersyukur punya sahabat sebaik kamu,” Diak kembali tersenyum.
“Apa kamu tak sakit hati?”
“Sakit memang. Tapi mau bagaimana lagi. Aku tak boleh terpuruk terus-menerus. Setidaknya aku yakin orang yang aku cintai memiliki orang yang tepat,”
“Terimakasih,”
Dika mengangguk.

About the author

Donec non enim in turpis pulvinar facilisis. Ut felis. Praesent dapibus, neque id cursus faucibus. Aenean fermentum, eget tincidunt.

0 komentar: