Menjadi Bintang [Maaf Kawan]
0
Waktu
terus berlalu. Kini kondisi Dika sudah membaik. Ia sudah tak perlu menggunakan
kursi roda lagi. Namun ingatannya masih belum pulih. Dika tak
mempermasalahkannya lagi. Walau tak bisa mengingat masa lalunya, ia tetap bisa
hidup bahagia dengan memulai semuanya dari awal. Bahkan semua orang mengatakan
bahwa sekarang ia jauh lebih ceria dari pada ia yang dulu.
Dika
dan Farid sedang menyusuri lorong sekolah. Mereka hendak pergi menyusul Citra
ke kantin.
“Apa
kamu berpikir Citra itu sangat cantik,” ucap Dika di tengah perjalanan ke
kantin.
“Tentu
saja. Dia sangat cantik juga manis,”
“Haha,
benar. Aku sangat suka dengan senyumnya yang manis,”
Farid
berhenti berjalan, memperhatikan wajah Dika. Ada yang aneh dengan nada bicaranya.
“Kenapa?”
Dika bertanya melihat Farid yang sedang memperhatikannya.
Farid
menggeleng kemudian kembali berjalan.
“Apa
ia sudah punya pacar?” tanya Dika berbisik ketika Farid telah sejajar
dengannya.
Farid
terbatuk mendengar pertanyaan itu dan kembali menghentikan langkahnya. “Akulah
pacarnya,” itu yang ia pikirkan namun tak ia ucapkan. “Apa kamu menyukainya?”
Farid balik bertanya.
“Sepertinya
hanya orang bodoh yang tak menyukainya,” Dika memperlihatkan senyum lebarnya ke
arah Farid.
Farid
tertegun dengan jawaban Dika. “Mengapa semuanya menjadi rumit begini. Apa aku
harus mengatakan semuanya? Apa aku tega menghancurkan kembali senyumnya yang
baru-baru ini hadir kembali setelah sekian lama,” pikirnya.
Dika
mengguncang pundak Farid, “Kenapa kamu tak menjawabnya? Apa Citra sudah punya
pacar?” Dika kembali bertanya.
Hati
Farid terasa lebih terkoyak. Kemudian Farid menggelang, “Entahlah. Sepertinya
belum,” Ia terpaksa berbohong. Ia tak tega harus menghancurkan hati sahabatnya
setelah apa yang Dika lakukan kemarin untuk menyelamatkan hidupnya.
Dika
tersenyum puas mendapat jawaban seperti itu, “Kalau begitu aku masih punya
harapan,”
“Eh,
aku ke toilet dulu yah, kebelet,” tanpa mendengarkan jawaban Dika, Farid
langsung meninggalkan Dika.
Dika
menggelengkan kepalanya memperhatikan tigkah Farid.
***
Di
toilet, Farid mencuci mukanya mencoba menyegarkan kembali suasana hatinya. Ia
menatap dirinya di depan cermin. Kemudian mengacak-ngacak rambutnya. Masalah
baru telah muncul. Membuat seluruh pikirannya menjadi semrawut. Ia bingung
menghadapi masalah ini.
Seorang
laki-laki masuk ke dalam toilet. Ia adalah kakak angkatan Farid. Ia melihat
wajah Farid yang sangat kusut.
“Lo
ada masalah?” tanya laki-laki itu.
Farid
menatap kakak kelasnya itu. Farid hanya menggelengkan kepala menjawab
pertanyaan itu. Saking pusingnya ia memikirkan masalahnya ia sama sekali tak
sadar ada orang lain yang masuk ke dalam toilet.
“Berdiam
diri di sini tak akan menyelesaikan masalah,” ucap kakak kelas itu so’ bijak.
Melihat reaksi Farid yang terlihat tak senang kemudian laki-laki itu melangkah
keluar.
“Kalau
lo lebih milih cinta atau sahabat?” akhirnya Farid membuka suara.
Laki-laki
itu menghentikan langkahnya kemudian berbalik melihat Farid. “Aku akan memilih
sahabat,” jawabnya mantap. “Tapi kalau bisa aku akan berusaha mempertahankan
keduanya,”
“Walau
itu akan menyakiti perasaan, lo?”
Laki-laki
itu mengangguk, “Jika itu cinta sejati lo walau sekarang lo harus terpisah
darinya suatu saat lo dan cinta sejati lo pasti akan bersatu kembali. Tapi jika
lo menyakiti sahabat lo, walau suatu saat kalian akan akrab kembali, lo pasti
akan sangat menyesal telah menyakiti sahabat yang selalu ada buat lo,” Setelah
menjawab itu laki-laki itu kemudian keluar dari toilet.
Farid
kembali memperhatikan wajahnya di cermin. Ia kembali berpikir dan mengingat
kata-kata yang kakak kelasnya tadi ucapkan. Setelah cukup lama berpikir
kemudian sekali lagi ia membasuh wajahnya. Menata kembali tampilannya yang tadi
kusut. Kemudian melangkah keluar dari toilet.
***
“Farid
mana, Dik?” Citra bertanya melihat Dika ke kantin tak bersama Farid.
“Tadi
dia bilang mau ke toilet dulu,”
“Oh.
Mau makan apa?”
“Kamu
mau makan apa?”
“Kok
malah balik nanya?”
“Samain
aja deh sama kamu,” Dika tersenyum.
“OK.
Kalau gitu aku pesan dulu yah,” Kemudian Citra berdiri dan melangkah hendak
memesan makanan.
Kini
Citra telah kembali duduk dengan Dika. Tapi Farid sama sekali belum datang.
“Farid
lama banget,” gumam Citra.
“Tuh
dia datang,” Diak menunjuk dengan dagu.
Citra
melihat arah yang Dika tunjuk dan benar di sana ada Farid. “Ke toilet lama banget?”
tanyanya ketika Farid telah duduk di bangku tempat ia dan Dika duduk.
Farid
cengengesan, “Kenapa? Kangen?”
“Pede,”
Citra menjulurkan lidahnya.
Kemudian
makanan yang Citra pesan datang.
“Aku
gak dipesanin?”
“Tadi
kan kamu
belum datang. Jadi gak aku pesanin,”
“Tega.
Ya sudah aku pesan dulu,” Kemudian Farid langsung meninggalkan Dika dan Citra.
Ketika
Farid telah memesan dan hendak kembali ke tempat tadi ia duduk, ia
memperhatikan Citra dan Dika yang sedang berdua. Mereka tampak sedang bercanda
dan terlihat bahagia. Dadanya terasa sesak. Cemburu. Itu yang sedang ia
rasakan. Namun ia pun bahagia melihat dua orang yang ia sayangi bahagai seperti
itu. Dan ia sama sekali tak ingin melihat salah satu diantara mereka kehilangan
kebahagiaan itu. Untuk saat ini, biarlah dia dulu yang berkorban.
***
Kini
Dika, Farid dan Citra sedang menunggu bis di halte depan sekolah. Sejak Dika
kehilangan ingatannya, ia lebih suka naik bis untuk pulang sekolah. Ia pikir
dengan begitu akan semakin banyak hal yang ia lalui bersama dua sahabatnya. Ia
berharap dengan begitu ingatan akan lebih cepat pulih.
Ketika
mereka sedang menunggu terjadi sebuah kecelakaan hebat. Sebuah motor yang
sedang melaju dengan cepat menabrak mobil dari arah berlawanan. Pengendara itu
terlempar jauh dari motornya. Darah mengotori jalan. Keadaan menjadi riuh.
Beberapa orang telah mengerumuni tempat itu.
Farid
hendak ikut melihat, namun ia mengurungkan niatnya ketika melihat keadaan Dika.
Dika sedang kelihatan syok. Tubuhnya menggigil. Matanay melihat nanar kea rah
kecelakaan tadi terjadi. Kemudian ia terjatuh. Seluruh tubuhnya tiba-tiba
melemas. Ia benar-benar ketakutan. Farid mengahmpiri sahabatnya itu. Ia
mengerti keadaan Dika. Ketika melihat sebuah taksi, ia langsung
memberhentikannya. Citra baru sadar dengan keadaan Dika. Ia langsung membantu
Farid yang sedang mengangkat tubuh Dika ke dalam taksi. Kemudian ia masuk ke
tempat duduk bagian depan. Setelah Farid memberitahukan kepada supir taksi
tujuan mereka, taksi itu langsung melaju.
***
“Kenapa
tak dibawa ke rumah sakit?” tanya Citra pada Farid ketika mereka sampai ke
rumah Dika.
“Itu
malah akan memperburuk keadaan,” jawab Farid.
Kemudian
Farid keluar dari taksi sambil menggendong Dika. Citra menyusulnya setelah
terlebih dulu membayar taksi. Ketika sampai di depan pintu, mereka disambut
tatapan khawatir Bi Ijah, pembantu di rumah Dika. Farid langsung membawa Dika
ke kamar. Sedangkan Citra menjelaskan apa yang terjadi kepada Bi Ijah. Kemudian
ia menyusul Farid ke dalam kamar.
“Sebenarnya
ada apa dengan Dika? Kenapa dia bisa seperti ini?” tanya Citra cemas kepada
Farid ketika dia sampai ke kamar dan melihat Dika yang pingsan di atas kasur.
“Sebernarnya
dia itu homophobia,”
“Hah?”
“Hemophobia.
Dia takut pada darah,”
“Kok
bisa?”
“Ia
mulai takut darah sejak kejadian 12 tahun yang lalu. Kejadian yang merubah
hidupnya. Yang merenggut kebahagiaannya,”
“Apa
maksudnya?”
Farid
menarik napasnya kemudian ia mulai bercerita, “Dua belas tahun yang lalu. Saat
itu Dika masih berumur 5 tahun. Sama seperti anak kecil kebanyakan ia sangat
suka bermain bersama ibunya. Suatu ketika dia hampir tertabrak mobil kemudian
ibunya menyelamatkannya. Persis seperti yang dia lakukan kemarin padaku. Namun
saat itu ia harus kehilangan ibunya untuk selamanya. Di depan matanya sendiri
dia melihat bagaimana ibunya tertabrak dan berlumuran darah kemudian meninggal.
Sejak itu ia menjadi sangat takut pada darah. Tubuhnya akan menggigil seperti
tadi,”
Citra
mendengar dengan seksama cerita Farid. Ia memperhatikan Dika. Ia tak menyangka
sahabatnya itu mengalami hal seperti itu. Masih banyak hal yang tak ia ketahui.
“Lebih
baik kita keluar. Dia butuh istirahat,”
Citra
mengangguk kemudian mengikuti Farid keluar dari kamar.
Dika
memperhatikan mereka berdua. Sebenarnya tadi ia telah sadar namun berpura-pura
tetap pingsan. Ada
sesuatu yang mengganjal pikirannya. Sesuatu yang membuatnya merasa sedih dan
sangat bersalah kepada kedua sahabatnya terutama pada Farid.
***
“Dik,
jadi ikut kita gak?” Farid bertanya ketika mereka hendak pulang.
“Aku
mau dijemput sama Pak Herman,”
“Tumben,”
“Tadi
aku yang minta jemput. Masih kurang enak badan,”
“Oh.
Ya udah kalau gitu kita berdua duluan yah,”
Dika
mengangguk. Ia memperhatikan Farid dan Citra yang sedang keluar. “Maaf,”
gumamnya. Sebenarnya ia bukan sedang tak enak badan. Ia memang sengaja
menghindari mereka berdua. Ia merasa tak nyaman dengan mereka berdua sedang
kejadian kemarin.
***
Tiga
hari berlalu. Farid akhirnya menyadari kalau ada yang aneh dengan Dika. Dika
menjadi kembali pendiam dan ia merasa kalau Dika sedang menjauhinya. Sore itu,
ia bermain ke rumah Dika.
“Dik,
kamu gak kenapa-kenapa kan?”
Dika
menggeleng.
“Aku
ngerasa ada yang beda sama kamu. Aku rasa kamu sedang menghindari aku dan
Citra,”
“Itu
cuma perasaan kamu aja,”
“Aku
yakin ada yang salah. Aku memang tak bisa membaca isi pikiran orang seperti
kamu. Tapi aku tetap sahabatmu. Kamu tak pernah seperti ini sebelumnya,”
Dika
menundukkan kepalanya.
“Sebenarnya
ada apa?”
“Maaf,”
gumam Dika.
“Maaf?”
Farid tak mengerti.
“Maaf
aku telah mengkhianatimu,”
Farid
memandangi Dika semakin tak mengerti.
“Maaf
aku telah menyukai pacarmu,”
Farid
membelalakan matanya.
“Aku
sudah ingat segalanya. Harusnya kamu mengatkan di itu pacarmu,”
“Aku
hanya tak ingin merusak kebahagiaanmu. Kebahagiaan yang lama hilang dari
dirimu,”
“Aku
tahu kamu baik,” Dika memperlihatkan senyumnya. “Tapi harusnya kamu tak
berkorban seperti ini untukku,”
“Maaf,”
“Maaf?”
“Maaf
telah menghancurkan hatimu,”
Dika
menggeleng, “Kamu tak perlu minta. Aku sangat berterimakasih. Aku bersyukur
punya sahabat sebaik kamu,” Diak kembali tersenyum.
“Apa
kamu tak sakit hati?”
“Sakit
memang. Tapi mau bagaimana lagi. Aku tak boleh terpuruk terus-menerus.
Setidaknya aku yakin orang yang aku cintai memiliki orang yang tepat,”
“Terimakasih,”
Dika
mengangguk.




0 komentar: