Jodoh Takkan Kemana #1#
0
“Hoaam..” aku terbangun dari tidurku. “Mumpung libur mending lari pagi,” pikirku ketika menatap keluar dan melihat hari masih gelap.
Aku pun segera masuk kamar mandi untuk mencuci mukaku dan mengganti pakaian. Setelah itu aku menuruni tangga dan bergegas keluar rumah. Setelah di halaman,aku melihat Mang Ujang sedang mencuci mobil.
“Eh, Mang Ujang ! pagi-pagi udah nyuci mobil,” ujarku padanya.
“Eh, Den Dika. Tumben udah bangun?” sahutnya.
“Iya nih. Mumpung libur saya mau lari pagi dulu. Saya berangkat dulu ya Mang. Kalau ada yang nanya bilang aja saya lagi lari pagi!” kataku sambil melangkah meninggalkannya.
Setelah melewati gerbang, aku melihat orang-orang mulai dari yang tua sampai anak-anak juga sedang lari pagi. Ketika melewati belokan aku melihat sepasang kekasih sedang lari dengan arah yang berlawanan denganku. Mereka tertawa bersama dan saling bercanda.
“Akh….enaknya kalau jadi mereka,” pikirku dalam hati sambil memperhatikan mereka yang berjalan melewatiku.
Aku memutuskan untuk pergi ke taman. Sesampainya ditaman, aku melihat semakin banyak pasangan remaja yang sedang berduaan. Aku memperhatikan setiap sudut taman. Di bawah pohon besar di ujung taman, aku melihat Adi. Adi adalah sahabat dekatku. Rumah kami saling bersebelahan dan kami pun bersekolah di sekolah yang sama bahkan dikelas yang sama. Oleh karena itu, kami sudah seperti keluarga. Aku melangkah mendekatinya.
“Hai. Di!” sahutku mengagetkannya.
“Eh, elo. Hampir aja jantung gue copot.” Jawabnya dengan napas yang memburu karena terkejut.
“Hahaha,” aku tertawa lepas melihat ekspresinya. “Sendirian aja lo?” tanyaku.
“Lo gak liat apa!” jawabnya agak kesal.
“Sewot amat? Maaf deh!”
“Gampang banget minta maaf.. Untung gue gak jantungan.”
“Maaf deh, gimana kalau ntar siang gue traktir lo?” tanyaku.
“Hahaha, kalau gitu gue maafin lo,” terlukis senyuman di wajahnya.
“Dasar, tuan gak bermodal. Denger kata traktir langsung sikap lo berubah,”
“Rejeki gak boleh di tolak,”
Aku ikut duduk di rumput bersamanya sambil menyandarkan tubuhku pada batang pohon. Lari dari rumah ke taman cukup membuatku kelelahan. Aku memperhatikan orang-orang yang melintas di depanku. Hingga seorang gadis berjalan dihadapanku. Gadis itu sangat menawan bagiku, namun aku tak mempunyai keberanian untuk mendekatinya. Aku hanya memperhatikannya hingga ia hilang dikerumunan orang. Aku merasa sangat kecewa karena tak bisa berkenalan dengannya.
“Eh pulang yuk!” ajak Adi membuyarkan lamunanku.
Aku hanya mengangguk dan bangkit dari dudukku. Kami pun meninggalkan pohon besar itu dan melangkah keluar taman. Sambil berjalan aku memperhatikan kerumunan orang, berharap aku bisa bertemu kembali dengan gadis yang kulihat tadi. Namun sayang, hingga aku sampai rumah tak terlihat sedikit pun wajahnya.
“Dik, awas janji lo ntar siang traktir gue,” sahut Adi ketika aku akan memasuki gerbang rumahku.
“OK,gue gak bakalan ingkar janji,” jawabku.
Setelah itu Adi berjalan kembali dan aku masuk ke dalam halaman rumah. Terlihat Mang Ujang yang sedang menyiram tanaman. Tanpa menyapanya aku langsung masuk rumah. Aku segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku.
*****
Siangnya seperti janjiku. Aku mentraktir Adi disebuah café dekat komplek. Café itu terlihat sepi. Hanya ada kami dan beberapa remaja yang berada disana. Aku dan Adi duduk di sudut dekat jendela. Seorang pelayanan menghampiri kami dan kami pun memesan beberapa makanan. Ketika menunggu makanan, terdengar suara pintu café terbuka. Aku memperhatikan pengunjung yang masuk. Aku terkaget ketika mulai menyadari bahwa pengunjung itu adalah gadis yang kulihat ditaman dengan seorang temannya. Mereka duduk di sudut café yang berlawanan denganku. Namun, sama seperti kejadian di taman tadi, aku tak mempunyai keberanian untuk mendekatinya. Aku terus memperhatikannya, hingga pesananku datang.
“Akhirnya datang juga. Perut gue udah demo dari tadi,” ucap Adi menyambut kedatangan pesanan kami.
Kami pun segera menikmati pesanan kami. Sesekali aku melirik gadis itu. Wajahnya yang begitu sejuk dapat kulihat dengan jelas. Adi menyadari aku tak menikmati pesananku.
“Lo kenapa?” tanyanya.
“Gue lagi gak nafsu,” jawabku sambil berhenti melihat ke arah gadis itu.
Aku gak mungkin mengatakan kalau sedari tadi aku memperhatikan gadis itu. Adi pasti akan menertawakanku dan mengejekku ‘cemen lo, ngajak kenalan aja gak berani’. Akhirnya habis semua makanan yang kami pesan. Kami memutuskan untuk segera pulang. Sebenarnya, aku masih tetap ingin berada di café itu agar dapat tetap melihat gadis itu. Namun, di luar langit sudah agak mendung, karena takut hujan akhirnya terpaksa aku meninggalkan café itu.
*****
Besoknya di sekolah aku mendengar bahwa akan ada siswi baru di kelasku. Ketika pelajaran pertama di mulai siswi baru itu datang. Aku terkejut melihat gadis itu. Ternyata ia adalah gadis yang sedari kemarin menghantui pikiranku. Setelah ia memperkenalkan dirinya, baru aku tahu bahwa namanya Citra. Ia duduk di belakang bersama Indah. Ketika pelajaran berlangsung sesekali aku melirik kebelakang dan memperhatikan wajahnya.
Jam istirahat tiba. Seluruh siswa keluar dari kelas. Aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan sedangkan Adi pergi ke kantin.
Sesampai di perpustakaan, aku menyusuri setiap rak mencari buku yang aku butuhkan. Ketika sedang memilih-milih buku, tak sengaja aku menabrak seseorang.
“Eh maaf. Aku gak sengaja,” ucapku sambil mengambil buku yang terjatuh dari genggamannya. Ketika aku melihat wajah gadis yang aku tabrak, seluruh aliran darahku seakan bergerak semakin cepat. Ternyata itu adalah Citra.
“Gak apa-apa kok. Lagi pula aku juga yang salah,” jawabnya. “Kamu satu kelas denganku kan?” tanyanya.
Aku mengangguk, “Aku Dika,” ucapku sambil mengulurkan tangan.
Citra menyambut tanganku dan menggenggamnya.Deg…hatiku mulai kembali bergejolak. “Citra..” ucapnya ramah.
Akhirnya kami terlibat pembicaraan kecil. Tak terasa waktu istirahat telah berakhir dan kami pun bergegas kembali ke kelas.
*****
Seluruh pelajaran hari ini telah usai. Seperti biasa, aku pulang bersama dengan Adi menaiki mobilnya. Ditengah jalan Adi mengatakan sesuatu.
“Dik, menurut lo Citra cantik gak?” tanyanya padaku.
“Cantik. Kenapa?” aku berbalik bertanya.
“Sepertinya gue suka sama dia,” jawabnya.
Aku terkejut setengah mati. “Ternyata sahabatku juga mencintai orang yang aku cintai” pikirku dalam hati.
“Menurut lo gimana?” tanya Adi.
Aku terdiam. Aku kembali berpikir “Adi adalah sahabatku, aku tak mau persahabatanku dengannya hancur hanya karena seorang gadis. Lebih baik aku merelakan Citra untuknya.”
“Gimana?” tanyanya kembali sambil menyenggolku.
“Kalau elo emang suka sama dia, mending elo deketin dia,” jawabku sambil menahan sakit hatiku.”Menurut gue,elo cocok kok ma dia” lanjutku.
“OK, elo bener. Bolehkan gue minta bantuan lo?”
“Bantuan?” sahutku singkat.
“Elo kan deket tuh ma Indah dan Indah tuh udah lumayan deket ma Citra. Elo tolong dong mintain ma Indah untuk bantuin gue deket ma Citra!” pintanya padaku
“Kenapa gak elo sendri yang minta?”
“Kan kalau elo yang minta, Indah pasti mau,”
“OK, tapi ntar sebagai gantinya elo traktir gue selama seminggu yah,” sahutku mencoba menutupi perasaanku yang sesungguhnya.
“Gak masalah,” Adi menyetujuinya.
*****
Keesokan harinya, aku menceritakan tentang perasaanku terhadap Citra kepada Indah dan dengan berat hati mengatakan permintaan Adi.
“Lalu bagaimana denganmu?” tanya Indah ketika aku selesai menceritakan permintaan Adi.
“Biarlah aku memendamnya. Aku tak mau persahabatanku dengan Adi rusak hanya karena cinta,” jawabku.
“Baiklah, aku akan membantu Adi. Tapi, aku juga akan memcoba mendekatkan kamu dengan Citra, biarlah nanti Citra yang memilih,” ucapnya.
Aku hanya terdiam, mencoba menahan hatiku yang sedang merintih.
Hari-hari pun berlalu. Adi dan Citra mulai semakin dekat, begitu juga antara aku dan Citra. Namun berbeda dengan Adi, aku bersikap seperti tak mempunyai perasaan apa pun pada Citra. Setiap hari, aku melihat Adi terus berusaha merebut hati Citra.
“Dik, thanks yah. Berkat elo dan Indah, sekarang gue udah semakin deket ma Citra,” ucap Adi padaku ketika kami sedang makan di café.
Hari ini, Adi kembali mentraktirku makan. “Itulah gunanya sahabat,” aku pura-pura tersenyum.
“Gue harap elo juga nanti akan menemukan cewek yang lo suka, dan jangan sungkan minta bantuan gue yah,” sahutnya.
Aku hanya mengangguk. “Sekarang pun gue udah bertemu cewek itu,Di. Dan itu adalah Citra, namun gue akan selalu menyimpan rahasia ini dari elo,” gumamku dalam hati.
*****
Sudah sebulan lebih Adi PDKT dengan Citra.
“Dik, rencananya, hari ini gue bakalan nembak Citra,” jelasnya padaku ketika kami berangkat sekolah.
Aku terkejut mendengar ucapannya. Dengan susah payah aku berusaha menjawabnya dengan senormal mungkin “Wah…makin cepat makin baik. Kayanya hari ini bakalan ada pesta nih,”
“Pesta?” tanyanya bingung.
“Pesta perayaan lo jadian,” jawabku.
“Pasti elo maunya gue traktir, lama-lama gue bisa miskin nraktir lo terus,” balasnya
“Resiko elo dong,”
*****
Pulang sekolah, aku melihat Adi bersama Citra pergi menaiki mobil Adi. “Habis sudah kisah cintaku,” pikirku dalam hati.
“Hmmm….ada yang cemburu nih.” Terdengar suara Indah dari sampingku.
“Siapa? Aku? Sok tahu kamu. Aku udah gak punya perasaan apa pun sama Citra,” balasku mencoba menutupi perasaanku.
“Udah gak usah munafik gitu. Aku salut ma kamu, andai Adi tahu pengorbananmu untuknya,”
“Eh,jangan sampai Adi tahu,” aku memperingatkan Indah.
*****
Adi dan Citra terduduk di sebuah taman.
“Cit, aku mau ngomong sesuatu sama kamu,” ucap Adi.
“Ngomong apa? Kok mukanya serius gitu,” tanyanya.
“Aku suka kamu, Cit.”
“Apa!!!” tanya Citra terkejut.
“Aku suka sama kamu, aku ingin kamu jadi pacar aku!” Adi mengulagi ucapannya.
Citra terdiam.
“Kok diem?” tanya Adi.
“Di, maaf. Aku menghargai perasaan kamu, karena itu aku gak bisa membalas cintamu. Aku suka sama orang lain, aku gak mau berpura-pura mencintaimu. Aku gak mau membohongimu, karena itu lebih baik kita berteman aja,” jelas Citra.
Adi terdiam, hatinya hancur karena cintanya bertepuk sebelah tangan. “Baiklah, aku terima keputusanmu. Tapi, apa aku boleh tahu orang yang kamu cintai,” ujar Adi dengan nada kecewa.
“A.aku cinta sama Dika,” jawab Citra dengan tergagap.
Adi terkejut, ia tak percaya bahwa sahabatnya telah mengkhianatinya.
*****
Hari ini, aku hampir telat masuk kelas. Sejak pagi, aku menunggu Adi. Namun, ia tak datang. Akhirnya karena takut telat, aku berangkat sendiri. Betapa marah aku ketika melihat Adi telah sampai duluan ke sekolah.
“Di, lo kok gak bilang mau berangkat duluan. Hampir gue telat gara-gara nungguin lo,” sahutku agak kesal.
Namun, Adi tak menjawab pertanyaanku. Akhirnya guru datang dan aku tak mempersalahkan hal tadi lagi.
Ketika istirahat, aku semakin bingung. Adi seakan marah padaku. Aku tak tahu apa sebabnya, setiap aku mendekatinya, ia selalu menjauh. Aku pun bertanya pada Indah, namun ia pun tak mengetahui apa pun. Aku menyuruhnya untuk menanyakan lansung pada Adi.
“Hai,Di.” Sapa Indah.
“Hai,” jawab Adi singkat.
“Kok mukanya BT, harusnya kan lo seneng karena baru jadian sama Citra,”
“Gue gak jadian sama dia,” jelasnya.
“Loh? Bukannya kemaren lo nembak dia?” tanya Indah.
“Iya, tapi gue ditolak,”
“Kok bisa?”
“Citra bilang dia lebih mencintai Dika. Gue benci Dika, dulu dia bilang bakalan bantuin gue, tapi buktinya dia malah nusuk gue dari belakang,” jelas Adi.
Indah terkejut mendengar penjelasan Adi. Indah menarik nafas lalu berkata. “Andai lo tahu apa yang udah Dika korbanin buat lo,”
“Maksud lo?”
Indah menarik napas lalu mulai meluncur cerita dari mulutnya “Asal lo tahu, sebenarnya Dika lebih dulu mencintai Citra dibanding lo. Dika bilang bahwa ia jatuh cinta pada pandangan pertama tepat sehari sebelum Citra jadi siswi di sekolah kita. Namun sebelum ia bisa memperlihatkan cintanya, lo bilang kalau lo suka sama Citra. Demi persahabatan kalian, dia mengorbankan perasaannya. Dia gak mau persahabatannya hancur cuma gara-gara cewek,”
*****
Ketika bel akhir pelajaran berbunyi aku bergegas keluar kelas dan menuju parkiran. Hari ini benar-benar hari yang menyebalkan sekaligus melelahkan. Aku ingin segera pulang dan merebahkan badan di atas kasur. Aku segera melesatkan motorku meninggalkan halaman sekolah. Semua masalah yang sedang ku pikirkan membuatku mengendarai motor dengan agak ngebut. Hingga di persimpangan jalan agak jauh dari sekolah, aku kehilangan kendali. Motor menabrak sebuah angkutan umum dan aku terlempar dari motor. Kepalaku membentur badan jalan. Sempat aku melihat darah segar yang keluar dari kepalaku hingga akhirnya semua menjadi gelap dan aku kehilangan kesadaran.
*****
Saat aku tersadar, yang pertama aku lihat adalah atap ruangan berwarna putih. Bau obat menyeruak di dalam ruangan itu. Aku tahu kini aku berada di dalam kamar rawat sebuah rumah sakit. Aku ingat dengan kecelakaan yang aku alami sebelumnya. Seluruh tubuhku terasa sakit dan semua tenagaku seakan hilang.
“Ka, kamu udah sadar,” terdengar suara.
Aku menoleh ke arah sumber suara itu. Seorang gadis sedang menatapku dengan wajah cemas. Aku ingin mengatakan sesuatu namun aku tak mampu mengeluarkan kata apa pun.
“Syukurlah kamu sudah sadar,” ucap Citra. Wajahnya mulai berubah, ada seringai kebahagiaan diwajahnya. “Sudah seharian kamu tak sadarkan diri. Tadi orang tuamu menyuruhku untuk menemanimu dulu. Mereka bilang, mereka mau berbicara dengan dokter dulu,” jelas Citra.
Di sati sisi aku senang bisa melihat dia ada di sini. Menemaniku yang sedang lemah tak berdaya. Namun di sisi lain aku teringat pada Adi. Aku tak mungkin mengkhianati dia. “Kamu sendiri?” akhirnya aku bisa mengeluarkan suara.
“Ya, aku sendiri. Aku sangat cemas dengan keadaanmu,”
Senang hati ini medengar dia berbicara seperti itu. “emm..Adi mana?” tanyaku. Walau senang namuna aku tak boleh egois.
”Aku tak tau. Sejak awal aku di sini, alu belum melihat dia,”
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aku melihat kedua orang tuaku masuk. Saat melihatku sudah siuman. Mereka terlihat senang dan menghampiriku."Dika, syukurlah kamu sudah sadar. Kami sangat khawatir saat mengetahui bahwa kamu mengalami kecelakaan. Untung dokter bilang kalau kamu tak mengalami luka yang parah," mamahku menjelaskan kondisiku.
*****
Seminggu telah berlalu dan aku telah pulang ke rumah. Walau sudah keluar dari rumah sakit, aku masih belum bisa beraktivitas seperti biasa. Hari-hari berlangsung membosankan. Namun dibalik itu semua aku pun senang. Karena gadis yang aku cintai selalu menemaniku. Walau aku belum memilikinya bahkan mungkin tak bisa memilikinya. Bagiku bisa berada di dekatnya pun sudah cukup. Yang menjadi pikiranku, sejak kecelakaan itu, aku belum pernah melihat Adi. Tak pernah sekalipun dia menjengukku. Ada apa dengannya? apa dia marah padaku? tapi apa salahku? Semakin aku berpikir aku semakin bingung.
Tiga minggu setelah kecelakaan itu, kesehatanku sudah sangat membaik. Bahkan kini aku sudah kembali bersekolah. Rindu rasanya dengan keadaan sekolah. Saat aku berpapasan dengan Adi, dia seakan menghindariku. Aku semakin bingung dengan sikapnya. Namun aku belum bisa bertanya lansung padanya.
Saat istirahat aku pergi ke kantin. Di sana aku lihat Adi duduk sendiri. Aku hampiri dia. Aku ingin mendengar pejelasan darinya. Dia hendak kembali menghindar, namun aku menarik tangannya dan menyuruhnya duduk kembali.
"kenapa lo menghindar dari gue? apa gue punya salah sama lo? tapi apa salah gue?" segera aku membentaknya dengan rentetan pertanyaan. Dia diam menunduk. "di, lo tuh kenapa? gue pengen penjelasan dari lo!" kembali aku membentaknya. Mungkin kini hampir seluruh mata di kantin memperhatikan perdebatan kami.
Tiba-tiba Indah datang dan menarik kami berdua keluar dari kantin. Indah membawa kami ke halaman belakang sekolah. Tempat itu lebih sepi dari pada di kantin.
Aku pun segera masuk kamar mandi untuk mencuci mukaku dan mengganti pakaian. Setelah itu aku menuruni tangga dan bergegas keluar rumah. Setelah di halaman,aku melihat Mang Ujang sedang mencuci mobil.
“Eh, Mang Ujang ! pagi-pagi udah nyuci mobil,” ujarku padanya.
“Eh, Den Dika. Tumben udah bangun?” sahutnya.
“Iya nih. Mumpung libur saya mau lari pagi dulu. Saya berangkat dulu ya Mang. Kalau ada yang nanya bilang aja saya lagi lari pagi!” kataku sambil melangkah meninggalkannya.
Setelah melewati gerbang, aku melihat orang-orang mulai dari yang tua sampai anak-anak juga sedang lari pagi. Ketika melewati belokan aku melihat sepasang kekasih sedang lari dengan arah yang berlawanan denganku. Mereka tertawa bersama dan saling bercanda.
“Akh….enaknya kalau jadi mereka,” pikirku dalam hati sambil memperhatikan mereka yang berjalan melewatiku.
Aku memutuskan untuk pergi ke taman. Sesampainya ditaman, aku melihat semakin banyak pasangan remaja yang sedang berduaan. Aku memperhatikan setiap sudut taman. Di bawah pohon besar di ujung taman, aku melihat Adi. Adi adalah sahabat dekatku. Rumah kami saling bersebelahan dan kami pun bersekolah di sekolah yang sama bahkan dikelas yang sama. Oleh karena itu, kami sudah seperti keluarga. Aku melangkah mendekatinya.
“Hai. Di!” sahutku mengagetkannya.
“Eh, elo. Hampir aja jantung gue copot.” Jawabnya dengan napas yang memburu karena terkejut.
“Hahaha,” aku tertawa lepas melihat ekspresinya. “Sendirian aja lo?” tanyaku.
“Lo gak liat apa!” jawabnya agak kesal.
“Sewot amat? Maaf deh!”
“Gampang banget minta maaf.. Untung gue gak jantungan.”
“Maaf deh, gimana kalau ntar siang gue traktir lo?” tanyaku.
“Hahaha, kalau gitu gue maafin lo,” terlukis senyuman di wajahnya.
“Dasar, tuan gak bermodal. Denger kata traktir langsung sikap lo berubah,”
“Rejeki gak boleh di tolak,”
Aku ikut duduk di rumput bersamanya sambil menyandarkan tubuhku pada batang pohon. Lari dari rumah ke taman cukup membuatku kelelahan. Aku memperhatikan orang-orang yang melintas di depanku. Hingga seorang gadis berjalan dihadapanku. Gadis itu sangat menawan bagiku, namun aku tak mempunyai keberanian untuk mendekatinya. Aku hanya memperhatikannya hingga ia hilang dikerumunan orang. Aku merasa sangat kecewa karena tak bisa berkenalan dengannya.
“Eh pulang yuk!” ajak Adi membuyarkan lamunanku.
Aku hanya mengangguk dan bangkit dari dudukku. Kami pun meninggalkan pohon besar itu dan melangkah keluar taman. Sambil berjalan aku memperhatikan kerumunan orang, berharap aku bisa bertemu kembali dengan gadis yang kulihat tadi. Namun sayang, hingga aku sampai rumah tak terlihat sedikit pun wajahnya.
“Dik, awas janji lo ntar siang traktir gue,” sahut Adi ketika aku akan memasuki gerbang rumahku.
“OK,gue gak bakalan ingkar janji,” jawabku.
Setelah itu Adi berjalan kembali dan aku masuk ke dalam halaman rumah. Terlihat Mang Ujang yang sedang menyiram tanaman. Tanpa menyapanya aku langsung masuk rumah. Aku segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku.
*****
Siangnya seperti janjiku. Aku mentraktir Adi disebuah café dekat komplek. Café itu terlihat sepi. Hanya ada kami dan beberapa remaja yang berada disana. Aku dan Adi duduk di sudut dekat jendela. Seorang pelayanan menghampiri kami dan kami pun memesan beberapa makanan. Ketika menunggu makanan, terdengar suara pintu café terbuka. Aku memperhatikan pengunjung yang masuk. Aku terkaget ketika mulai menyadari bahwa pengunjung itu adalah gadis yang kulihat ditaman dengan seorang temannya. Mereka duduk di sudut café yang berlawanan denganku. Namun, sama seperti kejadian di taman tadi, aku tak mempunyai keberanian untuk mendekatinya. Aku terus memperhatikannya, hingga pesananku datang.
“Akhirnya datang juga. Perut gue udah demo dari tadi,” ucap Adi menyambut kedatangan pesanan kami.
Kami pun segera menikmati pesanan kami. Sesekali aku melirik gadis itu. Wajahnya yang begitu sejuk dapat kulihat dengan jelas. Adi menyadari aku tak menikmati pesananku.
“Lo kenapa?” tanyanya.
“Gue lagi gak nafsu,” jawabku sambil berhenti melihat ke arah gadis itu.
Aku gak mungkin mengatakan kalau sedari tadi aku memperhatikan gadis itu. Adi pasti akan menertawakanku dan mengejekku ‘cemen lo, ngajak kenalan aja gak berani’. Akhirnya habis semua makanan yang kami pesan. Kami memutuskan untuk segera pulang. Sebenarnya, aku masih tetap ingin berada di café itu agar dapat tetap melihat gadis itu. Namun, di luar langit sudah agak mendung, karena takut hujan akhirnya terpaksa aku meninggalkan café itu.
*****
Besoknya di sekolah aku mendengar bahwa akan ada siswi baru di kelasku. Ketika pelajaran pertama di mulai siswi baru itu datang. Aku terkejut melihat gadis itu. Ternyata ia adalah gadis yang sedari kemarin menghantui pikiranku. Setelah ia memperkenalkan dirinya, baru aku tahu bahwa namanya Citra. Ia duduk di belakang bersama Indah. Ketika pelajaran berlangsung sesekali aku melirik kebelakang dan memperhatikan wajahnya.
Jam istirahat tiba. Seluruh siswa keluar dari kelas. Aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan sedangkan Adi pergi ke kantin.
Sesampai di perpustakaan, aku menyusuri setiap rak mencari buku yang aku butuhkan. Ketika sedang memilih-milih buku, tak sengaja aku menabrak seseorang.
“Eh maaf. Aku gak sengaja,” ucapku sambil mengambil buku yang terjatuh dari genggamannya. Ketika aku melihat wajah gadis yang aku tabrak, seluruh aliran darahku seakan bergerak semakin cepat. Ternyata itu adalah Citra.
“Gak apa-apa kok. Lagi pula aku juga yang salah,” jawabnya. “Kamu satu kelas denganku kan?” tanyanya.
Aku mengangguk, “Aku Dika,” ucapku sambil mengulurkan tangan.
Citra menyambut tanganku dan menggenggamnya.Deg…hatiku mulai kembali bergejolak. “Citra..” ucapnya ramah.
Akhirnya kami terlibat pembicaraan kecil. Tak terasa waktu istirahat telah berakhir dan kami pun bergegas kembali ke kelas.
*****
Seluruh pelajaran hari ini telah usai. Seperti biasa, aku pulang bersama dengan Adi menaiki mobilnya. Ditengah jalan Adi mengatakan sesuatu.
“Dik, menurut lo Citra cantik gak?” tanyanya padaku.
“Cantik. Kenapa?” aku berbalik bertanya.
“Sepertinya gue suka sama dia,” jawabnya.
Aku terkejut setengah mati. “Ternyata sahabatku juga mencintai orang yang aku cintai” pikirku dalam hati.
“Menurut lo gimana?” tanya Adi.
Aku terdiam. Aku kembali berpikir “Adi adalah sahabatku, aku tak mau persahabatanku dengannya hancur hanya karena seorang gadis. Lebih baik aku merelakan Citra untuknya.”
“Gimana?” tanyanya kembali sambil menyenggolku.
“Kalau elo emang suka sama dia, mending elo deketin dia,” jawabku sambil menahan sakit hatiku.”Menurut gue,elo cocok kok ma dia” lanjutku.
“OK, elo bener. Bolehkan gue minta bantuan lo?”
“Bantuan?” sahutku singkat.
“Elo kan deket tuh ma Indah dan Indah tuh udah lumayan deket ma Citra. Elo tolong dong mintain ma Indah untuk bantuin gue deket ma Citra!” pintanya padaku
“Kenapa gak elo sendri yang minta?”
“Kan kalau elo yang minta, Indah pasti mau,”
“OK, tapi ntar sebagai gantinya elo traktir gue selama seminggu yah,” sahutku mencoba menutupi perasaanku yang sesungguhnya.
“Gak masalah,” Adi menyetujuinya.
*****
Keesokan harinya, aku menceritakan tentang perasaanku terhadap Citra kepada Indah dan dengan berat hati mengatakan permintaan Adi.
“Lalu bagaimana denganmu?” tanya Indah ketika aku selesai menceritakan permintaan Adi.
“Biarlah aku memendamnya. Aku tak mau persahabatanku dengan Adi rusak hanya karena cinta,” jawabku.
“Baiklah, aku akan membantu Adi. Tapi, aku juga akan memcoba mendekatkan kamu dengan Citra, biarlah nanti Citra yang memilih,” ucapnya.
Aku hanya terdiam, mencoba menahan hatiku yang sedang merintih.
Hari-hari pun berlalu. Adi dan Citra mulai semakin dekat, begitu juga antara aku dan Citra. Namun berbeda dengan Adi, aku bersikap seperti tak mempunyai perasaan apa pun pada Citra. Setiap hari, aku melihat Adi terus berusaha merebut hati Citra.
“Dik, thanks yah. Berkat elo dan Indah, sekarang gue udah semakin deket ma Citra,” ucap Adi padaku ketika kami sedang makan di café.
Hari ini, Adi kembali mentraktirku makan. “Itulah gunanya sahabat,” aku pura-pura tersenyum.
“Gue harap elo juga nanti akan menemukan cewek yang lo suka, dan jangan sungkan minta bantuan gue yah,” sahutnya.
Aku hanya mengangguk. “Sekarang pun gue udah bertemu cewek itu,Di. Dan itu adalah Citra, namun gue akan selalu menyimpan rahasia ini dari elo,” gumamku dalam hati.
*****
Sudah sebulan lebih Adi PDKT dengan Citra.
“Dik, rencananya, hari ini gue bakalan nembak Citra,” jelasnya padaku ketika kami berangkat sekolah.
Aku terkejut mendengar ucapannya. Dengan susah payah aku berusaha menjawabnya dengan senormal mungkin “Wah…makin cepat makin baik. Kayanya hari ini bakalan ada pesta nih,”
“Pesta?” tanyanya bingung.
“Pesta perayaan lo jadian,” jawabku.
“Pasti elo maunya gue traktir, lama-lama gue bisa miskin nraktir lo terus,” balasnya
“Resiko elo dong,”
*****
Pulang sekolah, aku melihat Adi bersama Citra pergi menaiki mobil Adi. “Habis sudah kisah cintaku,” pikirku dalam hati.
“Hmmm….ada yang cemburu nih.” Terdengar suara Indah dari sampingku.
“Siapa? Aku? Sok tahu kamu. Aku udah gak punya perasaan apa pun sama Citra,” balasku mencoba menutupi perasaanku.
“Udah gak usah munafik gitu. Aku salut ma kamu, andai Adi tahu pengorbananmu untuknya,”
“Eh,jangan sampai Adi tahu,” aku memperingatkan Indah.
*****
Adi dan Citra terduduk di sebuah taman.
“Cit, aku mau ngomong sesuatu sama kamu,” ucap Adi.
“Ngomong apa? Kok mukanya serius gitu,” tanyanya.
“Aku suka kamu, Cit.”
“Apa!!!” tanya Citra terkejut.
“Aku suka sama kamu, aku ingin kamu jadi pacar aku!” Adi mengulagi ucapannya.
Citra terdiam.
“Kok diem?” tanya Adi.
“Di, maaf. Aku menghargai perasaan kamu, karena itu aku gak bisa membalas cintamu. Aku suka sama orang lain, aku gak mau berpura-pura mencintaimu. Aku gak mau membohongimu, karena itu lebih baik kita berteman aja,” jelas Citra.
Adi terdiam, hatinya hancur karena cintanya bertepuk sebelah tangan. “Baiklah, aku terima keputusanmu. Tapi, apa aku boleh tahu orang yang kamu cintai,” ujar Adi dengan nada kecewa.
“A.aku cinta sama Dika,” jawab Citra dengan tergagap.
Adi terkejut, ia tak percaya bahwa sahabatnya telah mengkhianatinya.
*****
Hari ini, aku hampir telat masuk kelas. Sejak pagi, aku menunggu Adi. Namun, ia tak datang. Akhirnya karena takut telat, aku berangkat sendiri. Betapa marah aku ketika melihat Adi telah sampai duluan ke sekolah.
“Di, lo kok gak bilang mau berangkat duluan. Hampir gue telat gara-gara nungguin lo,” sahutku agak kesal.
Namun, Adi tak menjawab pertanyaanku. Akhirnya guru datang dan aku tak mempersalahkan hal tadi lagi.
Ketika istirahat, aku semakin bingung. Adi seakan marah padaku. Aku tak tahu apa sebabnya, setiap aku mendekatinya, ia selalu menjauh. Aku pun bertanya pada Indah, namun ia pun tak mengetahui apa pun. Aku menyuruhnya untuk menanyakan lansung pada Adi.
“Hai,Di.” Sapa Indah.
“Hai,” jawab Adi singkat.
“Kok mukanya BT, harusnya kan lo seneng karena baru jadian sama Citra,”
“Gue gak jadian sama dia,” jelasnya.
“Loh? Bukannya kemaren lo nembak dia?” tanya Indah.
“Iya, tapi gue ditolak,”
“Kok bisa?”
“Citra bilang dia lebih mencintai Dika. Gue benci Dika, dulu dia bilang bakalan bantuin gue, tapi buktinya dia malah nusuk gue dari belakang,” jelas Adi.
Indah terkejut mendengar penjelasan Adi. Indah menarik nafas lalu berkata. “Andai lo tahu apa yang udah Dika korbanin buat lo,”
“Maksud lo?”
Indah menarik napas lalu mulai meluncur cerita dari mulutnya “Asal lo tahu, sebenarnya Dika lebih dulu mencintai Citra dibanding lo. Dika bilang bahwa ia jatuh cinta pada pandangan pertama tepat sehari sebelum Citra jadi siswi di sekolah kita. Namun sebelum ia bisa memperlihatkan cintanya, lo bilang kalau lo suka sama Citra. Demi persahabatan kalian, dia mengorbankan perasaannya. Dia gak mau persahabatannya hancur cuma gara-gara cewek,”
*****
Ketika bel akhir pelajaran berbunyi aku bergegas keluar kelas dan menuju parkiran. Hari ini benar-benar hari yang menyebalkan sekaligus melelahkan. Aku ingin segera pulang dan merebahkan badan di atas kasur. Aku segera melesatkan motorku meninggalkan halaman sekolah. Semua masalah yang sedang ku pikirkan membuatku mengendarai motor dengan agak ngebut. Hingga di persimpangan jalan agak jauh dari sekolah, aku kehilangan kendali. Motor menabrak sebuah angkutan umum dan aku terlempar dari motor. Kepalaku membentur badan jalan. Sempat aku melihat darah segar yang keluar dari kepalaku hingga akhirnya semua menjadi gelap dan aku kehilangan kesadaran.
*****
Saat aku tersadar, yang pertama aku lihat adalah atap ruangan berwarna putih. Bau obat menyeruak di dalam ruangan itu. Aku tahu kini aku berada di dalam kamar rawat sebuah rumah sakit. Aku ingat dengan kecelakaan yang aku alami sebelumnya. Seluruh tubuhku terasa sakit dan semua tenagaku seakan hilang.
“Ka, kamu udah sadar,” terdengar suara.
Aku menoleh ke arah sumber suara itu. Seorang gadis sedang menatapku dengan wajah cemas. Aku ingin mengatakan sesuatu namun aku tak mampu mengeluarkan kata apa pun.
“Syukurlah kamu sudah sadar,” ucap Citra. Wajahnya mulai berubah, ada seringai kebahagiaan diwajahnya. “Sudah seharian kamu tak sadarkan diri. Tadi orang tuamu menyuruhku untuk menemanimu dulu. Mereka bilang, mereka mau berbicara dengan dokter dulu,” jelas Citra.
Di sati sisi aku senang bisa melihat dia ada di sini. Menemaniku yang sedang lemah tak berdaya. Namun di sisi lain aku teringat pada Adi. Aku tak mungkin mengkhianati dia. “Kamu sendiri?” akhirnya aku bisa mengeluarkan suara.
“Ya, aku sendiri. Aku sangat cemas dengan keadaanmu,”
Senang hati ini medengar dia berbicara seperti itu. “emm..Adi mana?” tanyaku. Walau senang namuna aku tak boleh egois.
”Aku tak tau. Sejak awal aku di sini, alu belum melihat dia,”
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aku melihat kedua orang tuaku masuk. Saat melihatku sudah siuman. Mereka terlihat senang dan menghampiriku."Dika, syukurlah kamu sudah sadar. Kami sangat khawatir saat mengetahui bahwa kamu mengalami kecelakaan. Untung dokter bilang kalau kamu tak mengalami luka yang parah," mamahku menjelaskan kondisiku.
*****
Seminggu telah berlalu dan aku telah pulang ke rumah. Walau sudah keluar dari rumah sakit, aku masih belum bisa beraktivitas seperti biasa. Hari-hari berlangsung membosankan. Namun dibalik itu semua aku pun senang. Karena gadis yang aku cintai selalu menemaniku. Walau aku belum memilikinya bahkan mungkin tak bisa memilikinya. Bagiku bisa berada di dekatnya pun sudah cukup. Yang menjadi pikiranku, sejak kecelakaan itu, aku belum pernah melihat Adi. Tak pernah sekalipun dia menjengukku. Ada apa dengannya? apa dia marah padaku? tapi apa salahku? Semakin aku berpikir aku semakin bingung.
Tiga minggu setelah kecelakaan itu, kesehatanku sudah sangat membaik. Bahkan kini aku sudah kembali bersekolah. Rindu rasanya dengan keadaan sekolah. Saat aku berpapasan dengan Adi, dia seakan menghindariku. Aku semakin bingung dengan sikapnya. Namun aku belum bisa bertanya lansung padanya.
Saat istirahat aku pergi ke kantin. Di sana aku lihat Adi duduk sendiri. Aku hampiri dia. Aku ingin mendengar pejelasan darinya. Dia hendak kembali menghindar, namun aku menarik tangannya dan menyuruhnya duduk kembali.
"kenapa lo menghindar dari gue? apa gue punya salah sama lo? tapi apa salah gue?" segera aku membentaknya dengan rentetan pertanyaan. Dia diam menunduk. "di, lo tuh kenapa? gue pengen penjelasan dari lo!" kembali aku membentaknya. Mungkin kini hampir seluruh mata di kantin memperhatikan perdebatan kami.
Tiba-tiba Indah datang dan menarik kami berdua keluar dari kantin. Indah membawa kami ke halaman belakang sekolah. Tempat itu lebih sepi dari pada di kantin.




0 komentar: