Menjadi Bintang [Hadirnya Sang Putri]

0
Rabu, Oktober 31, 2012
Seorang pria sedang memandang langit malam di taman rumahnya. Dia termenung mengingat masa lalu. Mengingat seseorang yang berharga baginya. Seseorang yang memiliki hobi seperti yang ia lakukan sekarang, melihat langit malam bertabur bintang. Mengingat impian orang tersebut yang ingin menjadi bintang. Terngiang di pikirannya alasan mengapa orang tersebut sangat ingin menjadi bintang.
“Kamu sekarang telah menjadi bintang. Bintang yang lebih bersinar dari bintang-bintang yang aku lihat malam ini,” gumamnya.
Saat ia melamun datang seorang wanita dengan anaknya.
“Dika,” ucap pria itu pada anak yang menghampirinya.


***

Seorang gadis sedang berdiri di depan kelas. Hampir seluruh murid memperhatikan apa yang akan gadis itu katakan, hanya siswa yang duduk di pojok kanan belakang yang tidak memperhatikannya..
“Pagi, semua!” sapa gadis itu memulai pengenalan dirinya.
“Pagi!”
“Perkenalkan. Saya Citra Apriliani Kusuma. Kalian bisa memanggil saya Citra. Saya murid pindahan dari salah satu sekolah di Jakarta. Mohon kerjasamanya,”
“Sekarang tinggal dimana?”
“Kenapa pindah?
“Apa sudah punya pacar?”
Sesi perkenalan tersebut disambut oleh pertanyaan para siswa laki-laki yang ingin tahu segala hal tentang gadis cantik yang berdiri di depan kelas.
“Lebih baik lo jangan ikut-ikut,” ucap siswa yang duduk di pojok kepada teman sebangkunya ketika temannya itu ingin ikut memeriahkan suasana dengan melontarkan pertanyaan.
Temannya itu hanya menatapnya tak mengerti.
“Lihat wajah cewek itu. Dia terlihat gak senang dengan keadaan ini. Dia pasti gak suka dengan laki-laki yang banyak bicara dan serba ingin tahu. Jadi, kalau lo emang tertarik sama cewek itu, gue saranin lo diam,”
“Ya. Ya. Ya. Gue emang gak perlu meragukan semua analisa lo. Kalau gitu apa lo juga tertarik sama cewek itu? Karena itu lo sejak awal diam terus?”
“Ha.ha..ha..oh ya?”
“Mungkin saja. Lo dari tadi hanya diam saja,”
“Coba lo tebak,”
“Bodoh. Gue gak kayak lo yang bisa baca isi hati orang,”
“Emmm..sudah berapa lama kita bersahabat? Kok lo sama sekali tak bisa menilai sikap gue,”
“Gue belum pernah lihat lo jatuh cinta. Jadi gue gak tahu gimana sikap lo ketika jatuh cinta,”
“Benarkah?”
“Bodoh. Tentu itu benar. Bahkan gue ragu apa ada ruang untuk sebuah perasaan cinta di hati lo itu,”
“Hey..gue juga manusia. Tentu saja gue juga bisa jatuh cinta. Gue hanya belum merasakannya. Lagi pula ada yang harus diralat dari ucapan lo itu,”
“Apa?”
“Gue gak bisa baca hati orang. Gue cuma nebak raut wajah mereka,”
Citra memperhatikan mereka berdua. Ia merasa aneh melihat mereka berdua. Dia ini murid baru, mengapa saat perkenalan ini mereka berdua malah sibuk sendiri dan tak memperhatikannya. Ya, dia memang tak suka dengan keadaan seperti ini. Tapi kalau dicuekin seperti itu tetap tidak menyenangkan. Sambil tetap memperhatikan keduanya yang masih tetap sibuk sendiri, Citra menghampiri sebuah bangku kosong setelah dipersilahkan oleh guru yang sedang mengajar. Kelas sudah mulai tenang kembali dan pelajaran yang tadi terhenti pun dilanjutkan kembali.
Laki-laki yang dipojok itu adalah Dika dan yang duduk bersamanya adalah Farid. Dika memang pandai dalam menebak suasana hati dan karakter seseorang. Karena itu, ketika ia mengatakan pendapatnya tentang karakter teman baru di kelasnya itu, Farid langsung mempercayainya. Mereka berdua sudah bersahabat sejak masih sangat kecil. Karena itu mereka sudah sangat mengenal karakter temannya.

***

Sekarang sudah waktu istirahat. Namun kelas masih belum kosong. Ya, karena semua siswa yang biasanya langsung bertebaran keluar kelas ketika mendengar suara bel tanda istirahat berbunyi, lebih tertarik untuk mengerumuni bangku Citra. Terutama para siswa laki-laki. Mereka seakan mendapat buruan baru. Mereka sibuk cari muka di depan Citra.
“Mau kemana?” tanya Dika pada Farid.
“Gue mau ke sana,” Farid menunjuk para kawanan laki-laki yang mengerumuni Citra. “ Gue juga mau kenalan secara resmi sekaligus pedekate sama Citra,”
“Jangan,”
“Apa lo pikir dia juga gak suka?”
“Entahlah. Gue gak bisa lihat wajahnya dari sini,”
“So?”
“Gue lapar. Kita ke kantin aja yuk!” Dika memasang wajah memohon sambil memegang perutnya yang sudah menimbulkan alarm tanda sudah waktunya diisi.
“Dasar. Perut terus yang lo pikirin,”
Walau agak kesal, Farid tetap melangkahkan kaki mengikuti Dika keluar kelas.
“Dika. Tunggu!” seru Citra ketika ia melihat Dika berjalan keluar kelas.
Seluruh mata kini melihat Citra yang beranjak dari tempat duduknya menghampiri Dika.
“Aku ikut,” ucap Citra sambil menarik tangan Dika keluar kelas.

***

“Apa kalian sudah saling kenal?” tanya Farid pada Citra dan Dika ketika mereka telah duduk di salah satu bangku kantin.
Citra dan Dika menggeleng kompak.
“Lalu darimana kamu tahu nama Dika?”
“Tadi aku bertanya pada teman sebangkuku,”
“Oh…begitu,” Farid mengangguk mengerti.
“Maaf kalau tadi aku sudah so’ kenal,”
“Ya, tak masalah. Memang tak menyenangkan bila dikerumuni seperti itu,”
Citra melongo mendengar jawaban Dika. Dia tak menyangka Dika tahu isi pikirannya.
“Dia memang pandai menebak isi hati orang. Bahkan ketika kamu memperkenalkan diri aku tak diperbolehkan ikut bertanya karena dia bilang kamu tak menyukainya,” jelas Farid melihat kebingungan Citra.
“Aku hanya menebak bukan membaca isi hati orang. Kamu tak usah khawatir aku mengetahui rahasiamu,”
“Hahaha, tenang saja,”
“Oh..ya. Mau makan apa? Biar aku yang pesan,” ucap Dika sambil berdiri.
“Sekalian traktir yah, Dik,” mohon Farid.
“Enak saja. Dasar otak gratisan,”
“Hahaha..apa aja deh yang enak. Aku belum tahu makanan di sini. Soal traktir biar aku saja. Ya..sebagai perayaan pertemuan pertama,”
“Ah…Cit, tak enak kalau kamu yang traktir,”
“Halaaah..gak usah pura-pura. Kalau mau langsung bilang aja mau. Pakai jaga image segala,” ucap Dika lalu pergi meninggalkan Farid dan Citra.

***

Dika sudah kembali sembari membawa tiga mangkuk bakso.
“Akhirnya datang juga,” ujar Farid yang sudah tak tahan menahan demonstrasi seluruh cacing dalam perutnya.
“Maaf lama. Lumayan panjang antriannya,” ucap Dika sembari menaruh mangkuk ke atas meja.
“Haha..lapar apa doyan mas?” Citra tertawa melihat Farid yang langsung mengambil bakso bagiannya dan langsung menyantapnya dengan lahap.
“Dia kalau urusan makanan memang paling semangat. Semangatnya melebihi semangat para pahlawan proklamasi. Lagian perasaan gue yang ngajak lo ke sini dan gue yang tadi udah lapar. Tapi kenapa lo jadi keliatan lebih lapar dari gue?”
“Lo sih, kelamaan. Gue kan jadi ikutan lapar gara-gara liat anak-anak udah makan tapi gue malah bete nungguin lo. Dari tadi ini perut udah demo habis-habisan,”
“Huuuuh..masih untung gue pesenin,”
“Hahaha..ribut deh. Jam pelajaran selanjutnya sebentar lagi loh. Entar malah gak keburu makan lagi kalau ribut terus,” Citra menengahi sambil menahan tawa melihat tingkah laku kedua teman barunya itu.
Sambil berpacu dengan waktu, mereka mulai menyantap isi mangkuk bakso mereka masing-masing. Dan bertepatan dengan habisnya seluruh isi mangkuk mereka bel tanda istirahat berakhir pun berbunyi. Mereka segera berdiri dan melangkah meninggalkan kantin. Namun baru beberapa langkah mereka berjalan. Sebuah tangan hitam, besar dan berbulu lebat meraih bahu Farid.
“Aaaaaaaaaa!” jerit Farid yang tak siap dengan kehadiran tangan menyeramkan itu di bahu.
Jeritan Farid membuat Dika dan Citra, bahkan sang pemilik tangan itu pun ikut menjerit.
“Ya…ampun mas Farid kenapa sampai teriak alay begitu?”
“Bang Somad ngagetin aja,” ujar Farid setelah menguasai kekagetannya.
“Siapa yang ngagetin,” bantah Bang Somad yang merasa dirinya telah difitnah.
“Terus tadi ngapain?”
“Saya Cuma mau minta bayaran aja. Kalian kan belum bayar. Enak saja langsung kabur,” ucap sang pelayan kantin tersebut.
“Maaf Bang, saya lupa tadi,” ucap Dika sambil merogoh saku celananya.
“Ini, Bang,” Citra memberikan secarik uang kepada Bang Somad. “Kan tadi aku yang janji nraktir kalian,” jelasnya melihat tatapan kedua teman barunya itu.
“Oh..iya, Neng. Tunggu saya ambil kembaliannya dulu,”
“Nanti saja, Bang. Sudah bel tuh, Entar kita telat lagi. Biar nanti istirahat kedua saya ke sini lagi,”
“Oh..ya sudah, Neng, kalau begitu,”
“Eh, Bang, tunggu!” Farid menghentikan Bang Somad yang hendak meninggalkan mereka. “Lain kali, jangan panggil saya mas. Masa tampang baby face gini dipanggil mas,” protesnya yang tak sudi dipanggil mas oleh orang yang jauh lebih tua darinya.
“Panggil, Kek, aja Bang kalau nanti ketemu lagi,” ejek Dika yang langsung kabur setelah melihat kemarahan di wajah sahabatnya itu.
“Dika!” teriak Farid sembari mengejar Dika.
“Sepertinya hari-hariku akan menyenangkan,” ucap Citra dalam hati.

About the author

Donec non enim in turpis pulvinar facilisis. Ut felis. Praesent dapibus, neque id cursus faucibus. Aenean fermentum, eget tincidunt.

0 komentar: