Menjadi Bintang [Hadirnya Sang Putri]
0
Seorang pria sedang memandang langit malam di taman
rumahnya. Dia termenung mengingat masa lalu. Mengingat seseorang yang berharga
baginya. Seseorang yang memiliki hobi seperti yang ia lakukan sekarang, melihat
langit malam bertabur bintang. Mengingat impian orang tersebut yang ingin
menjadi bintang. Terngiang di pikirannya alasan mengapa orang tersebut sangat
ingin menjadi bintang.
“Kamu sekarang telah menjadi bintang. Bintang yang lebih
bersinar dari bintang-bintang yang aku lihat malam ini,” gumamnya.
Saat ia melamun datang seorang wanita dengan anaknya.
“Dika,” ucap pria itu pada anak yang menghampirinya.
***
Seorang gadis sedang berdiri di depan kelas. Hampir seluruh
murid memperhatikan apa yang akan gadis itu katakan, hanya siswa yang duduk di
pojok kanan belakang yang tidak memperhatikannya..
“Pagi, semua!” sapa gadis itu memulai pengenalan
dirinya.
“Pagi!”
“Perkenalkan. Saya Citra Apriliani Kusuma. Kalian bisa
memanggil saya Citra. Saya murid pindahan dari salah satu sekolah di Jakarta. Mohon
kerjasamanya,”
“Sekarang tinggal dimana?”
“Kenapa pindah?
“Apa sudah punya pacar?”
Sesi perkenalan tersebut disambut oleh pertanyaan para
siswa laki-laki yang ingin tahu segala hal tentang gadis cantik yang berdiri di
depan kelas.
“Lebih baik lo jangan ikut-ikut,” ucap siswa yang duduk
di pojok kepada teman sebangkunya ketika temannya itu ingin ikut memeriahkan
suasana dengan melontarkan pertanyaan.
Temannya itu hanya menatapnya tak mengerti.
“Lihat wajah cewek itu. Dia terlihat gak senang dengan
keadaan ini. Dia pasti gak suka dengan laki-laki yang banyak bicara dan serba
ingin tahu. Jadi, kalau lo emang tertarik sama cewek itu, gue saranin lo diam,”
“Ya. Ya. Ya. Gue emang gak perlu meragukan semua analisa
lo. Kalau gitu apa lo juga tertarik sama cewek itu? Karena itu lo sejak awal diam
terus?”
“Ha.ha..ha..oh ya?”
“Mungkin saja. Lo dari tadi hanya diam saja,”
“Coba lo tebak,”
“Bodoh. Gue gak kayak lo yang bisa baca isi hati orang,”
“Emmm..sudah berapa lama kita bersahabat? Kok lo sama
sekali tak bisa menilai sikap gue,”
“Gue belum pernah lihat lo jatuh cinta. Jadi gue gak
tahu gimana sikap lo ketika jatuh cinta,”
“Benarkah?”
“Bodoh. Tentu itu benar. Bahkan gue ragu apa ada ruang
untuk sebuah perasaan cinta di hati lo itu,”
“Hey..gue juga manusia. Tentu saja gue juga bisa jatuh
cinta. Gue hanya belum merasakannya. Lagi pula ada yang harus diralat dari
ucapan lo itu,”
“Apa?”
“Gue gak bisa baca hati orang. Gue cuma nebak raut wajah
mereka,”
Citra memperhatikan mereka berdua. Ia merasa aneh
melihat mereka berdua. Dia ini murid baru, mengapa saat perkenalan ini mereka
berdua malah sibuk sendiri dan tak memperhatikannya. Ya, dia memang tak suka
dengan keadaan seperti ini. Tapi kalau dicuekin seperti itu tetap tidak
menyenangkan. Sambil tetap memperhatikan keduanya yang masih tetap sibuk
sendiri, Citra menghampiri sebuah bangku kosong setelah dipersilahkan oleh guru
yang sedang mengajar. Kelas sudah mulai tenang kembali dan pelajaran yang tadi
terhenti pun dilanjutkan kembali.
Laki-laki yang dipojok itu adalah Dika dan yang duduk
bersamanya adalah Farid. Dika memang pandai dalam menebak suasana hati dan
karakter seseorang. Karena itu, ketika ia mengatakan pendapatnya tentang
karakter teman baru di kelasnya itu, Farid langsung mempercayainya. Mereka
berdua sudah bersahabat sejak masih sangat kecil. Karena itu mereka sudah
sangat mengenal karakter temannya.
***
Sekarang sudah waktu istirahat. Namun kelas masih belum
kosong. Ya, karena semua siswa yang biasanya langsung bertebaran keluar kelas
ketika mendengar suara bel tanda istirahat berbunyi, lebih tertarik untuk
mengerumuni bangku Citra. Terutama para siswa laki-laki. Mereka seakan mendapat
buruan baru. Mereka sibuk cari muka di depan Citra.
“Mau kemana?” tanya Dika pada Farid.
“Gue mau ke sana,”
Farid menunjuk para kawanan laki-laki yang mengerumuni Citra. “ Gue juga mau
kenalan secara resmi sekaligus pedekate sama Citra,”
“Jangan,”
“Apa lo pikir dia juga gak suka?”
“Entahlah. Gue gak bisa lihat wajahnya dari sini,”
“So?”
“Gue lapar. Kita ke kantin aja yuk!” Dika memasang wajah
memohon sambil memegang perutnya yang sudah menimbulkan alarm tanda sudah
waktunya diisi.
“Dasar. Perut terus yang lo pikirin,”
Walau agak kesal, Farid tetap melangkahkan kaki
mengikuti Dika keluar kelas.
“Dika. Tunggu!” seru Citra ketika ia melihat Dika
berjalan keluar kelas.
Seluruh mata kini melihat Citra yang beranjak dari
tempat duduknya menghampiri Dika.
“Aku ikut,” ucap Citra sambil menarik tangan Dika keluar
kelas.
***
“Apa kalian sudah saling kenal?” tanya Farid pada Citra
dan Dika ketika mereka telah duduk di salah satu bangku kantin.
Citra dan Dika menggeleng kompak.
“Lalu darimana kamu tahu nama Dika?”
“Tadi aku bertanya pada teman sebangkuku,”
“Oh…begitu,” Farid mengangguk mengerti.
“Maaf kalau tadi aku sudah so’ kenal,”
“Ya, tak masalah. Memang tak menyenangkan bila dikerumuni
seperti itu,”
Citra melongo mendengar jawaban Dika. Dia tak menyangka
Dika tahu isi pikirannya.
“Dia memang pandai menebak isi hati orang. Bahkan ketika
kamu memperkenalkan diri aku tak diperbolehkan ikut bertanya karena dia bilang
kamu tak menyukainya,” jelas Farid melihat kebingungan Citra.
“Aku hanya menebak bukan membaca isi hati orang. Kamu
tak usah khawatir aku mengetahui rahasiamu,”
“Hahaha, tenang saja,”
“Oh..ya. Mau makan apa? Biar aku yang pesan,” ucap Dika
sambil berdiri.
“Sekalian traktir yah, Dik,” mohon Farid.
“Enak saja. Dasar otak gratisan,”
“Hahaha..apa aja deh yang enak. Aku belum tahu makanan
di sini. Soal traktir biar aku saja. Ya..sebagai perayaan pertemuan pertama,”
“Ah…Cit, tak enak kalau kamu yang traktir,”
“Halaaah..gak usah pura-pura. Kalau mau langsung bilang
aja mau. Pakai jaga image segala,”
ucap Dika lalu pergi meninggalkan Farid dan Citra.
***
Dika sudah kembali sembari membawa tiga mangkuk bakso.
“Akhirnya datang juga,” ujar Farid yang sudah tak tahan
menahan demonstrasi seluruh cacing dalam perutnya.
“Maaf lama. Lumayan panjang antriannya,” ucap Dika
sembari menaruh mangkuk ke atas meja.
“Haha..lapar apa doyan mas?” Citra tertawa melihat Farid
yang langsung mengambil bakso bagiannya dan langsung menyantapnya dengan lahap.
“Dia kalau urusan makanan memang paling semangat.
Semangatnya melebihi semangat para pahlawan proklamasi. Lagian perasaan gue
yang ngajak lo ke sini dan gue yang tadi udah lapar. Tapi kenapa lo jadi keliatan
lebih lapar dari gue?”
“Lo sih, kelamaan. Gue kan jadi ikutan lapar gara-gara liat
anak-anak udah makan tapi gue malah bete nungguin lo. Dari tadi ini perut udah demo
habis-habisan,”
“Huuuuh..masih untung gue pesenin,”
“Hahaha..ribut deh. Jam pelajaran selanjutnya sebentar
lagi loh. Entar malah gak keburu makan lagi kalau ribut terus,” Citra menengahi
sambil menahan tawa melihat tingkah laku kedua teman barunya itu.
Sambil berpacu dengan waktu, mereka mulai menyantap isi
mangkuk bakso mereka masing-masing. Dan bertepatan dengan habisnya seluruh isi
mangkuk mereka bel tanda istirahat berakhir pun berbunyi. Mereka segera berdiri
dan melangkah meninggalkan kantin. Namun baru beberapa langkah mereka berjalan.
Sebuah tangan hitam, besar dan berbulu lebat meraih bahu Farid.
“Aaaaaaaaaa!” jerit Farid yang tak siap dengan kehadiran
tangan menyeramkan itu di bahu.
Jeritan Farid membuat Dika dan Citra, bahkan sang
pemilik tangan itu pun ikut menjerit.
“Ya…ampun mas Farid kenapa sampai teriak alay begitu?”
“Bang Somad ngagetin aja,” ujar Farid setelah menguasai
kekagetannya.
“Siapa yang ngagetin,” bantah Bang Somad yang merasa
dirinya telah difitnah.
“Terus tadi ngapain?”
“Saya Cuma mau minta bayaran aja. Kalian kan belum bayar. Enak
saja langsung kabur,” ucap sang pelayan kantin tersebut.
“Maaf Bang, saya lupa tadi,” ucap Dika sambil merogoh
saku celananya.
“Ini, Bang,” Citra memberikan secarik uang kepada Bang
Somad. “Kan
tadi aku yang janji nraktir kalian,” jelasnya melihat tatapan kedua teman
barunya itu.
“Oh..iya, Neng. Tunggu saya ambil kembaliannya dulu,”
“Nanti saja, Bang. Sudah bel tuh, Entar kita telat lagi.
Biar nanti istirahat kedua saya ke sini lagi,”
“Oh..ya sudah, Neng, kalau begitu,”
“Eh, Bang, tunggu!” Farid menghentikan Bang Somad yang
hendak meninggalkan mereka. “Lain kali, jangan panggil saya mas. Masa tampang baby face gini dipanggil mas,” protesnya
yang tak sudi dipanggil mas oleh orang yang jauh lebih tua darinya.
“Panggil, Kek, aja Bang kalau nanti ketemu lagi,” ejek
Dika yang langsung kabur setelah melihat kemarahan di wajah sahabatnya itu.
“Dika!” teriak Farid sembari mengejar Dika.
“Sepertinya hari-hariku akan menyenangkan,” ucap Citra
dalam hati.




0 komentar: