Jodoh Takkan Kemana #2#
0
#####
Indah menarik napas lalu mulai meluncur cerita dari mulutnya “Asal lo tahu, sebenarnya Dika lebih dulu mencintai Citra dibanding lo. Dika bilang bahwa ia jatuh cinta pada pandangan pertama tepat sehari sebelum Citra jadi siswi di sekolah kita. Namun sebelum ia bisa memperlihatkan cintanya, lo bilang kalau lo suka sama Citra. Demi persahabatan kalian, dia mengorbankan perasaannya. Dia gak mau persahabatannya hancur cuma gara-gara cewek,”
*****
Ketika bel akhir pelajaran berbunyi aku bergegas keluar kelas dan menuju parkiran. Hari ini benar-benar hari yang menyebalkan sekaligus melelahkan. Aku ingin segera pulang dan merebahkan badan di atas kasur. Aku segera melesatkan motorku meninggalkan halaman sekolah. Semua masalah yang sedang ku pikirkan membuatku mengendarai motor dengan agak ngebut. Hingga di persimpangan jalan agak jauh dari sekolah, aku kehilangan kendali. Motor menabrak sebuah angkutan umum dan aku terlempar dari motor. Kepalaku membentur badan jalan. Sempat aku melihat darah segar yang keluar dari kepalaku hingga akhirnya semua menjadi gelap dan aku kehilangan kesadaran.
*****
Saat aku tersadar, yang pertama aku lihat adalah atap ruangan berwarna putih. Bau obat menyeruak di dalam ruangan itu. Aku tahu kini aku berada di dalam kamar rawat sebuah rumah sakit. Aku ingat dengan kecelakaan yang aku alami sebelumnya. Seluruh tubuhku terasa sakit dan semua tenagaku seakan hilang.
“Ka, kamu udah sadar,” terdengar suara.
Aku menoleh ke arah sumber suara itu. Seorang gadis sedang menatapku dengan wajah cemas. Aku ingin mengatakan sesuatu namun aku tak mampu mengeluarkan kata apa pun.
“Syukurlah kamu sudah sadar,” ucap Citra. Wajahnya mulai berubah, ada seringai kebahagiaan diwajahnya. “Sudah seharian kamu tak sadarkan diri. Tadi orang tuamu menyuruhku untuk menemanimu dulu. Mereka bilang, mereka mau berbicara dengan dokter dulu,” jelas Citra.
Di sati sisi aku senang bisa melihat dia ada di sini. Menemaniku yang sedang lemah tak berdaya. Namun di sisi lain aku teringat pada Adi. Aku tak mungkin mengkhianati dia. “Kamu sendiri?” akhirnya aku bisa mengeluarkan suara.
“Ya, aku sendiri. Aku sangat cemas dengan keadaanmu,”
Senang hati ini medengar dia berbicara seperti itu. “emm..Adi mana?” tanyaku. Walau senang namuna aku tak boleh egois.
”Aku tak tau. Sejak awal aku di sini, alu belum melihat dia,”
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aku melihat kedua orang tuaku masuk. Saat melihatku sudah siuman. Mereka terlihat senang dan menghampiriku."Dika, syukurlah kamu sudah sadar. Kami sangat khawatir saat mengetahui bahwa kamu mengalami kecelakaan. Untung dokter bilang kalau kamu tak mengalami luka yang parah," mamahku menjelaskan kondisiku.
*****
Seminggu telah berlalu dan aku telah pulang ke rumah. Walau sudah keluar dari rumah sakit, aku masih belum bisa beraktivitas seperti biasa. Hari-hari berlangsung membosankan. Namun dibalik itu semua aku pun senang. Karena gadis yang aku cintai selalu menemaniku. Walau aku belum memilikinya bahkan mungkin tak bisa memilikinya. Bagiku bisa berada di dekatnya pun sudah cukup. Yang menjadi pikiranku, sejak kecelakaan itu, aku belum pernah melihat Adi. Tak pernah sekalipun dia menjengukku. Ada apa dengannya? apa dia marah padaku? tapi apa salahku? Semakin aku berpikir aku semakin bingung.
Tiga minggu setelah kecelakaan itu, kesehatanku sudah sangat membaik. Bahkan kini aku sudah kembali bersekolah. Rindu rasanya dengan keadaan sekolah. Saat aku berpapasan dengan Adi, dia seakan menghindariku. Aku semakin bingung dengan sikapnya. Namun aku belum bisa bertanya lansung padanya.
Saat istirahat aku pergi ke kantin. Di sana aku lihat Adi duduk sendiri. Aku hampiri dia. Aku ingin mendengar pejelasan darinya. Dia hendak kembali menghindar, namun aku menarik tangannya dan menyuruhnya duduk kembali.
"kenapa lo menghindar dari gue? apa gue punya salah sama lo? tapi apa salah gue?" segera aku membentaknya dengan rentetan pertanyaan. Dia diam menunduk. "di, lo tuh kenapa? gue pengen penjelasan dari lo!" kembali aku membentaknya. Mungkin kini hampir seluruh mata di kantin memperhatikan perdebatan kami.
Tiba-tiba Indah datang dan menarik kami berdua keluar dari kantin. Indah membawa kami ke halaman belakang sekolah. Tempat itu lebih sepi dari pada di kantin.




0 komentar: