Menjadi Bintang [Mata - Mata]
0
Waktu
terus berlalu. Kini Dika, Farid dan Citra sudah menjadi sahabat dekat. Bahkan
saking dekatnya, teman-teman mereka pernah memberikan mereka julukan sebagai
tiga serangkai. Namun, suatu ketika Citra protes kepada teman-temannya. Bagi
dia sebutan tiga serangkai tak cocok untuk menggambarkan persahabatannya dengan
Dika dan Farid. Kenapa? Coba kalian ingat kembali pelajaran sejarah kalian di
masa sekolah dulu. Ingatkah sosok yang disebut tiga serangkai itu. Coba kalian
lihat apa diantara mereka ada seorang gadis? Tidak, kan? Nah…karena itu Citra protes.
Jelas-jelas diantara persahabatannya dengan Dika dan Farid ada dia yang seorang
gadis. Jadi tak cocok disebut tiga serangkai. Mendengar protesan Citra itu,
teman-temannya menjadi berhenti memanggil mereka bertiga dengan sebutan tiga
serangkai. Awalnya mereka mulai mencari julukan lain, namun karena tak kunjung
mendapatkan sebutan yang tepat, akhirnya mereka putus asa dan tak memikirkannya
lagi. Mereka berpikir mengapa mereka harus pusing memikirkan hal tak penting
seperti itu.
***
Sore
itu, Dika, Farid dan Citra sedang berada di rumah Citra. Sejak pulang sekolah
tadi, mereka langsung melancong ke rumah Citra. Mereka sedang melaksanakan
kewajiban yaitu mengerjakan tugas yang diberikan guru mereka. Lama? Ya, memang.
Tapi bukan karena tugas yang mereka dapat itu sulit dan banyak. Tapi hampir
dari setengah waktu yang mereka jalani dihabiskan dengan kegiatan diluar niat
awal. Maklum, para remaja. Apalagi Farid sejak awal memang sudah menaruh hati
pada Citra. Jadi, ia lebih sering mencari perhatian pada Citra yang pada
akhirnya acara mengobrol jauh lebih dominan dari pada acara mengerjakan tugas.
Dan Dika lah yang akhirnya menjadi korban. Kenapa? Karena ia lebih sering
diacuhkan. Sebenarnya ia tidak seratus persen diacuhkan. Namun karena pada
dasarnya ia pendiam, ia jadi tak tahu bagaimana cara ikut serta dalam topik
yang sedang kedua temannya bahas. Yang hal itu mengakibatkan ia lebih sering
diam dan menseriuskan diri dalam mengerjakan tugas.
Karena
waktu yang berputar dengan cepatnya. Matahari mulai menghilang dari peraduannya.
Sederhananya, sudah mau malam. Akhirnya Dika memutuskan untuk pulang. Dan
dengan berat hati Farid pun mengakhiri acara pedekatenya. Ketika berada di teras luar rumah Citra pun, Farid
masih terlihat sangat enggan meninggalkan kediaman pujaan hatinya tersebut. Ia
masih saja mengobrol dengan Citra. Selagi mendengar kedua temannya masih
bercuap-cuap ria, Dika memperhatikan sesuatu yang aneh. Ia melihat seorang
gadis berada di depan pagar rumah Citra. Gadis itu memperhatikan mereka
bertiga. Namun ketika mata gadis itu beradu pandang dengan mata Dika, ia
langsung pergi menghilang. Dika bingung dengan tingkah gadis itu. Awalnya ia
ingin bertanya kepada kedua temannya, namun karena tak ingin mengganggu ia
urungkan niatnya tersebut.
“E..heeem,”
Dika mencoba menghentikan perbincangan kedua sahabatnya itu. Lama-lama pegal
juga ia menunggu mereka selesai.
“Apa?”
tanya Farid merasa terganggu.
“Jadi
pulang gak? Kalau gak gue duluan aja,”
“Hey!
Kalau lo duluan, terus nasib gue gimana?”
“Itu
bukan urusan gue. Gue bosan denger omongan kalian. Gue ngerasa jadi seonggok
kayu kalian acuhkan,”
“Hahaha..mulai
deh. Aku kan
belum membunyikan lonceng. Kenapa kalian sudah mulai bertarung,” Citra ikut
bicara di tengah perdebatan kedua temannya itu yang langsung mendapat tatapan
dari mereka. “Kalian terlalu sering ribut sih. Lebih baik kalian pulang saja.
Sebelum para arwah turun dari bulan,”
“Tega.
Kamu mengusirku,” gumam Farid lemah sambil melangkahkan kaki dengan enggan
mendekati motor Dika.
“Akhirnya,”
Dika malah bergembira di atas penderitaan temannya itu .
“Haha..kau
terlalu lebay, Rid” Citra malah
tertawa melihat respon Farid atas ucapannya.
***
Sebuah
mobil berwarna hitam sedang melaju melintas jalanan kota. Membawa tiga sekawan Dika, Farid dan
Citra menjauh dari sekolah mereka. Kemarin mereka bertiga sudah membuat janji
untuk pergi ke mall hendak membeli buku di salah satu toko buku di mall
tersebut. Karena itu, tadi pagi Dika sengaja membawa mobil hitam kesayangannya
ke sekolah.
Sekitar
setengah jam kemudian, mereka telah sampai di mall dan langsung memarkirkan
mobil. Mereka tak langsung pergi ke toko buku. Seperti gadis-gadis lain, Citra
memang selalu tertarik dengan hal-hal lucu dan cantik. Karena itu, setiap
melewati sebuah toko yang di dalamnya terdapat hal yang menarik perhatiannya,
ia menyempatkan diri untuk melihat-lihat. Awalnya Dika protes, karena dia
memang tak suka acara berbelanja seperti itu. Namun karena tak ada yang
mendukungnya dia jadi ikut walau dengan ogah-ogahan. Farid? Tak usah ditanya
lagi. Walau pada dasarnya ia juga sama seperti Dika tak suka berbelanja. Namun
ia tak mungkin mengatakannya pada sang pujaan hatinya. Apalagi dengan semakin
seringnya Citra memasuki toko-toko makin lama pula waktunya bersama Citra. Ia
sudah seperti satpam bagi Citra. Ia selalu berada di samping Citra. Lihatlah.
Tangannya pun terus dipegang Citra supaya mereka selalu berdekatan. Mereka
sudah seperti sepasang kekasih.
Dika
memang bosan. Sangat bosan. Ia lebih sering menunggu di depan toko. Ia
memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di dalam mall tersebut. Terkadang
sesekali ia masuk memastikan kedua sahabatnya masih ada di dalam. Di balik kebosanannya ia juga senang melihat
kedekatan kedua sahabatnya itu. Ketika sedang memperhatikan orang-orang yang
berlalu-lalang, matanya tiba-tiba melihat seorang gadis yang tak asing baginya
berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri. Mata gadis itu tertuju ke dalam toko.
Ia melihat Citra dan Farid. Gadis itu tersenyum. Sekarang Dika ingat gadis itu
sama dengan yang ia lihat di depan rumah Citra kemarin. Ketika gadis itu
menyadari keberadaan Dika yang sedang memperhatikannya, ia langsung pergi
menjauh sambil menarik seorang temannya. Kini Dika kembali melihat keanehan pada
gadis itu. Ia masuk ke dalam toko menghampiri.
“Rid,”
ucapnya menepuk pundak Farid.
“Ada apa?”
“Gue
ke toilet dulu yah. Nanti kita ketemu di toko buku aja,”
“Heemmm,”
jawab Farid sambil kembali melihat-lihat barang yang menarik perhatian pujaan
hatinya.
Dika
meninggalkan toko itu. Bukan ke arah toilet. Tapi kea rah gadis tadi
menghilang. Ia penasaran dengan gadis itu. Ia yakin ada sesuatu . Karena itu ia
mengejarnya. Dari wajah gadis itu Dika tak melihat ada hal jahat. Ketika gadis
itu tersenyum melihat Farid dan Citra pun Dika merasa senyumnya sangat tulus.
Tapi mengapa ia harus menjauh setiap Dika mengetahui jika ia sedang
memperhatikan Farid dan Citra. Pertanyaan-pertanyaan muncul di kepala Dika. Dia
amat sangat penasaran. Namun sedari tadi ia tak melihat gadis itu. Ia telah
mengelilingi mall. Masuk ke dalam toko. Namun tetap tak menemukan gadis itu.
Tiba-tiba ponselnya bergetar.
“Dik,
lo dimana? Ke toilet lama banget,” terdengar ocehan Farid langsung terdengar
ketika Dika mengangkat panggilan masuk di ponselnya.
“Tadi
gue ketemu temen. Jadi gue mengobrol dulu,” ia berbohong namun dengan nada
sangat meyakinkan. “Kalian sekarang dimana?” tanyanya.
“Kita
udah di toko buku. Cepat ke sini,”
“Iya,”
Dika langsung memutuskan panggilannya. Perasaan penuh penasarannya seketika
hilang. Ia jadi sangat bete. Ia yang sedari awal masuk tak diacuhkan saja tak
protes seperti itu. Tapi ia yang hanya pergi sebentar saja langsung mendapat
protesan seperti itu.
***
Saat
Dika sampai di toko buku, seperti yang ia pikirkan, Farid pasti akan mengomel.
Ya…hal itu sontak membuat sedikit keributan. Citra hanya tertawa melihat kedua
sahabatnya itu kembali berdebat. Baginya perdebatan kedua sahabatnya itu sudah
menjadi hiburan tersendiri. Namun karena banyak orang yang jadi memperhatikan
mereka akhirnya Citra melerainya.
“Sudah!
Gak enak tahu dilihatin banyak orang,”
Akhirnya
Farid dan Dika berhenti berdebat. Tapi bukan berarti perdebatan itu selesai
dengan damai, mereka berdua malah langsung saling menjauh. Citra hanya
geleng-geleng kepala dan tak ambil pusing karena hal itu sudah biasa, toh pada
akhirnya mereka berdua pasti akan akur kembali.
Dika
hanya berkeliling toko buku tanpa sedikit rasa tertarik untuk memilih buku
bahkan hanya sekedar melirik judul buku pun ia enggan. Farid? Jangan ditanya.
Yang awalnya memang ikut tidak mood
namun karena melihat Citra tersenyum moodnya
kembali membaik dan mulai asik mencari buku-buku tentunya tetap berada di
samping sang pujaan hati.
“Gadis
itu,” tiba-tiba Dika melihat seorang gadis yang dari belakan terlihat seperti
gadis yang tadi ia cari. Ia mendekati gadis itu dengan sangat pelan karena ia
khawatir gadis itu akan kembali kabur seperti sebelumnya. Dika menepuk
pundaknya. Gadis itu berbalik.
“Ada apa mas?”
“Ah..gak
apa-apa, Mbak. Saya salah orang. Maaf,” ternyata ia salah. Gadis itu bukan
gadis yang ia cari. Kini pikirannya kembali memikirkan gadis itu. Ah…ia menjadi
makin penasaran. Ia ingin meminta pendapat dari Farid namun ia masih terkuasai
ego nya karena perdebatan tadi.




0 komentar: