Menjadi Bintang [Mata - Mata]

0
Selasa, Februari 05, 2013


Waktu terus berlalu. Kini Dika, Farid dan Citra sudah menjadi sahabat dekat. Bahkan saking dekatnya, teman-teman mereka pernah memberikan mereka julukan sebagai tiga serangkai. Namun, suatu ketika Citra protes kepada teman-temannya. Bagi dia sebutan tiga serangkai tak cocok untuk menggambarkan persahabatannya dengan Dika dan Farid. Kenapa? Coba kalian ingat kembali pelajaran sejarah kalian di masa sekolah dulu. Ingatkah sosok yang disebut tiga serangkai itu. Coba kalian lihat apa diantara mereka ada seorang gadis? Tidak, kan? Nah…karena itu Citra protes. Jelas-jelas diantara persahabatannya dengan Dika dan Farid ada dia yang seorang gadis. Jadi tak cocok disebut tiga serangkai. Mendengar protesan Citra itu, teman-temannya menjadi berhenti memanggil mereka bertiga dengan sebutan tiga serangkai. Awalnya mereka mulai mencari julukan lain, namun karena tak kunjung mendapatkan sebutan yang tepat, akhirnya mereka putus asa dan tak memikirkannya lagi. Mereka berpikir mengapa mereka harus pusing memikirkan hal tak penting seperti itu.


***

Sore itu, Dika, Farid dan Citra sedang berada di rumah Citra. Sejak pulang sekolah tadi, mereka langsung melancong ke rumah Citra. Mereka sedang melaksanakan kewajiban yaitu mengerjakan tugas yang diberikan guru mereka. Lama? Ya, memang. Tapi bukan karena tugas yang mereka dapat itu sulit dan banyak. Tapi hampir dari setengah waktu yang mereka jalani dihabiskan dengan kegiatan diluar niat awal. Maklum, para remaja. Apalagi Farid sejak awal memang sudah menaruh hati pada Citra. Jadi, ia lebih sering mencari perhatian pada Citra yang pada akhirnya acara mengobrol jauh lebih dominan dari pada acara mengerjakan tugas. Dan Dika lah yang akhirnya menjadi korban. Kenapa? Karena ia lebih sering diacuhkan. Sebenarnya ia tidak seratus persen diacuhkan. Namun karena pada dasarnya ia pendiam, ia jadi tak tahu bagaimana cara ikut serta dalam topik yang sedang kedua temannya bahas. Yang hal itu mengakibatkan ia lebih sering diam dan menseriuskan diri dalam mengerjakan tugas.
Karena waktu yang berputar dengan cepatnya. Matahari mulai menghilang dari peraduannya. Sederhananya, sudah mau malam. Akhirnya Dika memutuskan untuk pulang. Dan dengan berat hati Farid pun mengakhiri acara pedekatenya. Ketika berada di teras luar rumah Citra pun, Farid masih terlihat sangat enggan meninggalkan kediaman pujaan hatinya tersebut. Ia masih saja mengobrol dengan Citra. Selagi mendengar kedua temannya masih bercuap-cuap ria, Dika memperhatikan sesuatu yang aneh. Ia melihat seorang gadis berada di depan pagar rumah Citra. Gadis itu memperhatikan mereka bertiga. Namun ketika mata gadis itu beradu pandang dengan mata Dika, ia langsung pergi menghilang. Dika bingung dengan tingkah gadis itu. Awalnya ia ingin bertanya kepada kedua temannya, namun karena tak ingin mengganggu ia urungkan niatnya tersebut.
“E..heeem,” Dika mencoba menghentikan perbincangan kedua sahabatnya itu. Lama-lama pegal juga ia menunggu mereka selesai.
“Apa?” tanya Farid merasa terganggu.
“Jadi pulang gak? Kalau gak gue duluan aja,”
“Hey! Kalau lo duluan, terus nasib gue gimana?”
“Itu bukan urusan gue. Gue bosan denger omongan kalian. Gue ngerasa jadi seonggok kayu kalian acuhkan,”
“Hahaha..mulai deh. Aku kan belum membunyikan lonceng. Kenapa kalian sudah mulai bertarung,” Citra ikut bicara di tengah perdebatan kedua temannya itu yang langsung mendapat tatapan dari mereka. “Kalian terlalu sering ribut sih. Lebih baik kalian pulang saja. Sebelum para arwah turun dari bulan,”
“Tega. Kamu mengusirku,” gumam Farid lemah sambil melangkahkan kaki dengan enggan mendekati motor Dika.
“Akhirnya,” Dika malah bergembira di atas penderitaan temannya itu .
“Haha..kau terlalu lebay, Rid” Citra malah tertawa melihat respon Farid atas ucapannya.

***

Sebuah mobil berwarna hitam sedang melaju melintas jalanan kota. Membawa tiga sekawan Dika, Farid dan Citra menjauh dari sekolah mereka. Kemarin mereka bertiga sudah membuat janji untuk pergi ke mall hendak membeli buku di salah satu toko buku di mall tersebut. Karena itu, tadi pagi Dika sengaja membawa mobil hitam kesayangannya ke sekolah.
Sekitar setengah jam kemudian, mereka telah sampai di mall dan langsung memarkirkan mobil. Mereka tak langsung pergi ke toko buku. Seperti gadis-gadis lain, Citra memang selalu tertarik dengan hal-hal lucu dan cantik. Karena itu, setiap melewati sebuah toko yang di dalamnya terdapat hal yang menarik perhatiannya, ia menyempatkan diri untuk melihat-lihat. Awalnya Dika protes, karena dia memang tak suka acara berbelanja seperti itu. Namun karena tak ada yang mendukungnya dia jadi ikut walau dengan ogah-ogahan. Farid? Tak usah ditanya lagi. Walau pada dasarnya ia juga sama seperti Dika tak suka berbelanja. Namun ia tak mungkin mengatakannya pada sang pujaan hatinya. Apalagi dengan semakin seringnya Citra memasuki toko-toko makin lama pula waktunya bersama Citra. Ia sudah seperti satpam bagi Citra. Ia selalu berada di samping Citra. Lihatlah. Tangannya pun terus dipegang Citra supaya mereka selalu berdekatan. Mereka sudah seperti sepasang kekasih.
Dika memang bosan. Sangat bosan. Ia lebih sering menunggu di depan toko. Ia memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di dalam mall tersebut. Terkadang sesekali ia masuk memastikan kedua sahabatnya masih ada di dalam.  Di balik kebosanannya ia juga senang melihat kedekatan kedua sahabatnya itu. Ketika sedang memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang, matanya tiba-tiba melihat seorang gadis yang tak asing baginya berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri. Mata gadis itu tertuju ke dalam toko. Ia melihat Citra dan Farid. Gadis itu tersenyum. Sekarang Dika ingat gadis itu sama dengan yang ia lihat di depan rumah Citra kemarin. Ketika gadis itu menyadari keberadaan Dika yang sedang memperhatikannya, ia langsung pergi menjauh sambil menarik seorang temannya. Kini Dika kembali melihat keanehan pada gadis itu. Ia masuk ke dalam toko menghampiri.
“Rid,” ucapnya menepuk pundak Farid.
“Ada apa?”
“Gue ke toilet dulu yah. Nanti kita ketemu di toko buku aja,”
“Heemmm,” jawab Farid sambil kembali melihat-lihat barang yang menarik perhatian pujaan hatinya.
Dika meninggalkan toko itu. Bukan ke arah toilet. Tapi kea rah gadis tadi menghilang. Ia penasaran dengan gadis itu. Ia yakin ada sesuatu . Karena itu ia mengejarnya. Dari wajah gadis itu Dika tak melihat ada hal jahat. Ketika gadis itu tersenyum melihat Farid dan Citra pun Dika merasa senyumnya sangat tulus. Tapi mengapa ia harus menjauh setiap Dika mengetahui jika ia sedang memperhatikan Farid dan Citra. Pertanyaan-pertanyaan muncul di kepala Dika. Dia amat sangat penasaran. Namun sedari tadi ia tak melihat gadis itu. Ia telah mengelilingi mall. Masuk ke dalam toko. Namun tetap tak menemukan gadis itu. Tiba-tiba ponselnya bergetar.
“Dik, lo dimana? Ke toilet lama banget,” terdengar ocehan Farid langsung terdengar ketika Dika mengangkat panggilan masuk di ponselnya.
“Tadi gue ketemu temen. Jadi gue mengobrol dulu,” ia berbohong namun dengan nada sangat meyakinkan. “Kalian sekarang dimana?” tanyanya.
“Kita udah di toko buku. Cepat ke sini,”
“Iya,” Dika langsung memutuskan panggilannya. Perasaan penuh penasarannya seketika hilang. Ia jadi sangat bete. Ia yang sedari awal masuk tak diacuhkan saja tak protes seperti itu. Tapi ia yang hanya pergi sebentar saja langsung mendapat protesan seperti itu.

***

Saat Dika sampai di toko buku, seperti yang ia pikirkan, Farid pasti akan mengomel. Ya…hal itu sontak membuat sedikit keributan. Citra hanya tertawa melihat kedua sahabatnya itu kembali berdebat. Baginya perdebatan kedua sahabatnya itu sudah menjadi hiburan tersendiri. Namun karena banyak orang yang jadi memperhatikan mereka akhirnya Citra melerainya.
“Sudah! Gak enak tahu dilihatin banyak orang,”
Akhirnya Farid dan Dika berhenti berdebat. Tapi bukan berarti perdebatan itu selesai dengan damai, mereka berdua malah langsung saling menjauh. Citra hanya geleng-geleng kepala dan tak ambil pusing karena hal itu sudah biasa, toh pada akhirnya mereka berdua pasti akan akur kembali.
Dika hanya berkeliling toko buku tanpa sedikit rasa tertarik untuk memilih buku bahkan hanya sekedar melirik judul buku pun ia enggan. Farid? Jangan ditanya. Yang awalnya memang ikut tidak mood namun karena melihat Citra tersenyum moodnya kembali membaik dan mulai asik mencari buku-buku tentunya tetap berada di samping sang pujaan hati.
“Gadis itu,” tiba-tiba Dika melihat seorang gadis yang dari belakan terlihat seperti gadis yang tadi ia cari. Ia mendekati gadis itu dengan sangat pelan karena ia khawatir gadis itu akan kembali kabur seperti sebelumnya. Dika menepuk pundaknya. Gadis itu berbalik.
“Ada apa mas?”
“Ah..gak apa-apa, Mbak. Saya salah orang. Maaf,” ternyata ia salah. Gadis itu bukan gadis yang ia cari. Kini pikirannya kembali memikirkan gadis itu. Ah…ia menjadi makin penasaran. Ia ingin meminta pendapat dari Farid namun ia masih terkuasai ego nya karena perdebatan tadi.

About the author

Donec non enim in turpis pulvinar facilisis. Ut felis. Praesent dapibus, neque id cursus faucibus. Aenean fermentum, eget tincidunt.

0 komentar: