Menjadi Bintang [Duka dalam Suka]
0
Pagi
itu ponsel Dika tiba-tiba berbunyi. Dengan enggan ia meraih ponselnya yang
berada di meja kecil tak jauh dari tempatnya tertidur.
“Hooamm..siapa
pagi buta begini menelpon,” ucapnya kesal. “Bocah itu,” ia melihat nama di
layer ponselnya. “Ya? Ada
apa pagi-pagi begini menelpon? Mengganggu saja,”
“Sorry,
sorry. Gue cuma mau ngasih tahu, hari ini lo gak usah ngejemput gue. Gue mau
ada urusan dulu sebelum pergi ke sekolah,”
“Emmm..ya
ok,” Dika langsung menutup telpon dari Farid karena matanya masih sangat sulit
untuk diajak kompromi.
***
Hari ini Dika berangkat sekolah lumayan siang.
Sehabis menutup telpon dari Farid, ia kembali tidur dan akhirnya bangun telat.
Untungnya ia tak perlu menjemput sahabatnya itu. Jadi, ia tak perlu khawatir telat
datang ke sekolah walau bangun sesiang tadi.
“Dik,
Farid kok gak bareng kamu?” tanya Citra ketika Dika sampai di kelas.
Dika
menggeleng, “Tadi pagi dia bilang kalau aku tak perlu menjemputnya. Ada urusan dulu katanya.
Emang dia belum datang?” tanyanya mengedarkan penglihatannya ke seluruh ruangan
kelas.
“Belum.
Padahal sebentar lagi udah mau masuk,” jawab Citra yang bertepatan dengan itu
bel tanda masuk pun berbunyi. “Lebih baik kamu menelponnya, Dik,”
Dika
mengangguk. Namun saat ia hendak mengambil ponselnya dari saku bertepatan
dengan itu Farid datang bersamaan dengan guru mata pelajaran pertama hari itu.
***
“Ka,
Farid kemana sih?” Citra bertanya pada Dika ketika mereka sedang menunggu
pesanan di kantin.
Dika
menggeleng “Entahlah. Tadi pas bel bunyi dia langsung pergi entah kemana,”
“Kalian
gak lagi berantem kan?
Masalah kemarin di mall udah beres?”
“Gak
kok. Masalah itu udah beres. Mungkin dia emang lagi ada urusan aja,”
“Urusan
apa yah? Kok gak bilang-bilang sama kita?”
“Ya..mungkin
urusan pribadi kali. Tapi biasanya dia cerita sih sama aku. Paling juga kalo
urusan cinta dia gak cerita,”
“Cinta?
Dia lagi jatuh cinta?”
“Ya..mana
aku tahu. Kan
udah aku bilang dia gak suka cerita kalo urusan cinta. Lagian responnya gitu
banget,”
“Ah..biasa
aja,”
“Tenang
entar kalo dia cerita aku kasih tahu. Gak usah seih fans nya hilang,”
“Siapa
yang sedih,” ucap Citra manyun.
“Makin
keliatan tahu gak sukanya. Bilang aja kalo jealous,”
“Siapa
juga yang jealous,”
“Muka
kamu yang bilang,”
“Huuuh…so
tahu,” Citra mulai khawatir sama kemampuan Dika membaca isi hati orang lewat
raut wajah. Jadi dia memalingkan wajahnya memutari seluruh kantin mencari hal
yang menarik.
“Haduuh..udah
gak usah cemberut. Tuh makanan udah datang,”
“Permisi,
Mas, Mbak,” ucap Bang Somad sambil menyimpan pesanan mereka berdua.
***
“Farid
ngilang lagi?” Citra bertanya pada Dika ketika mereka keluar dari kelas hendak.
Dika
hanya mengangguk.
“Aneh
banget tuh anak,”
“Udahlah
jangan dipikirin. Entar makin suka lho,”
“Ih..Eh,
mumpung gak bareng Farid aku ikut pulang yah,”
“Tuh
kan, ada
untungnya tuh anak ngilang,”
“Manfaatkan
kesempatan yang ada,” Citra cengengesan.
“Ya
udah sekali-sekali,”
Mereka
sampai di parkiran sekolah kemudian Dika langsung menaiki motornya dan melesat
keluar sekolah sambil membonceng Citra.
***
Tiga
hari telah berlalu. Malam ini Dika sedang di rumah Farid. Lebih tepatnya di
kamar milik sahabatnya itu.
“Rid,
lo kenapa ngilang mulu?” Dika bertanya pada sahabatnya itu.
“Gak
kenapa-kenapa,”
“Citra
nanyain terus lo tau. Gue bosen ngejawab ‘gak tahu’ mulu,”
“Oh
ya?” Farid jadi bersemangat langsung menghampiri Dika. “Terus dia nanya apa
lagi?”
Dika
memperhatikan tingkah sahabatnya itu. “Hmmm..gue sekarang ngerti,”
“Ngerti
apaan?”
“Ngerti
kenapa belakangan ini lo ngilang terus,”
“Kenapa?”
“Lo
sengaja kan
mau ngejalanin misi lo kayak dulu-dulu,”
“Hahaha..lo
emang sahbat yang paling mengerti,”
“Lo
gak kasian apa sama Citra. Dia udah kayak yang kalang kabut gitu gara-gara lo,”
“Itu
kan emang
tujuan gue,”
“Hmmm..emang
gak ada cara lain untuk dapetin hatinya dia. Gue juga jadi kasian sama dia,”
“Ini
cara yang paling ampuh tahu. Baru juga empat hari gue tinggalin rencana gue
udah berhasil,”
“Lo
sengaja dulu deket-deket dia sekarang ninggalin dia cume buat dapetin hati dia.
Gue gak habis piker lo dapet cara sadis itu dari mana,”
“Yang
penting cara itu ampuh banget,”
“Nah…terus
sekarang lo mau gimana? Kasian kan
dia,”
Farid
menghampiri lemarinya kemudian membuka pintunya dan menggambil sesuatu dari sana. Kotak kaca berisi
dua ekor kupu-kupu.
“Buat
apa lo nyimpen kupu-kupu di kamar?”
“Buat
rencana besok,”
“Besok?
Emang ada apa?”
“Tunggu
waktunya datang,”
Dika
mendengus, “Lo mau nembak Citra sama yang begituan?”
“Hmmm..susah
yah mau bikin lo penasaran. Sekali-sekali nonaktifin dulu tuh kemampuan,” kini
Farid yang sebal, rencana jadi ketahuan.
“Hahaha..itu
udah jadi bakat gue. Emang lo yakin dia bakal nerima lo?”
“Ya.
Ngeliat reaksi dia beberapa hari terakhir gue jadi makin yakin,” Farid
cengengesan.
“Gak
butuh bantuan gue?”
“Gak.
Semua udah beres. Awas kalo lo bikin semuanya gagal,”
“Iya.
Iya. Gue gak sesadis itu,”
“Ok
sip. Pulang sana.
Gue mau tidur biar besok kelihatan seger,”
“Gila
lo. Belum jadian aja gue udah diusir gini. Gimana kalo entar udah jadian,”
“Haduh..cup,cup,cup,
dede manis jangan ngambek,”
“Ih..najis
gue,” Dika bergidik melihat sikap sahabatnya kemudian langsung berlari keluar
kamar Farid hendak pulang.
***
Pagi
itu Dika bangun dengan wajah tak bersemangat. Memang ia terkadang menjalani
hari-harinya dengan tak bersemangat. Namun
kali ini ia merasa ada firasat buruk dalam dirinya. Semuanya jadi serba
tak enak. Bahkan sarapan pun jadi enggan ia lakukan. Ia langsung berangkat
sekolah dengan semangat yang makin menurun. Sebelumnya ia pergi ke rumah Farid
dahulu.
“Eh,
Den Dika,” sapa Mang Ujang, tukang kebun di rumahnya Farid.
“Pagi,
Mang! Faridnya masih ada?”
“Den
Farid udah berangkat dari tadi, Den”
“Oh..makasih,
Mang. Kalau gitu saya berangkat dulu,”
“Iya,
Den. Hati-hati,” tukang kebun itu tersenyum ramah.
Dika
langsung melesat meninggalkan halaman rumah sahabatnya itu. Dia mengkhayalkan
rencana seperti apa yang akan Farid lakukan. Dan apa firasat buruk yang ia
rasakan ada hubungannya dengan rencana Farid itu. Semakin ia berpikir ia malah
semakin pusing.
***
“Lihat
tuh anak udah ngilang lagi aja,” ucap Citra kepada Dika melihat Farid yang
sudah duluan meninggalkan kelas ketika bel tanda selesainya acara belajar
mengajar hari itu.
“Sudahlah,
gak usah bete gitu. Mending kita juga pulang”
Mereka
meninggalkan kelas. Namun baru beberapa langkah, Citra dipanggil oleh teman
sebangkunya.
“Cit!”
serunya.
“Eh,
Ratih. Ada
apa?”
“Aku
lupa mau ngebahas tugas dari Ibu Salma tadi,”
Dika
menunggu mereka berdua selesai. Ternyata lumayan lama juga. Tapi Dika merasa
ada yang aneh dengan Ratih. Dia merasa Ratih sengaja memperlama obrolannya
dengan Citra.
“Ok,
kalau gitu berarti tinggal kita kerjain bareng besok,” Ratih menutup obrolannya
dengan Citra.
Melihat
itu Dika melangkah terlebih dulu menuju parkiran. Citra langsung menyusulnya.
“Maaf
yah lama,” ucap Citra ketika ia telah berjalan sejajar dengan Dika.
Dika
hanya membalasnya dengan senyuman.
Ketika
sampai di parkiran, seperti biasa Dika langsung mengambil motornya dan
menyalakannya kemudian melesat meninggalkan area tempat parkir. Namun ketika di
depan gerbang sekolah, ternyata gerbang tertutup dan Dika menghentikan
motornya. Ia hendak turun untuk membuka gerbang. Namun tiba-tiba gerombolan
orang datang membuka gerbang dari luar. Dika mengamati mereka. Mereka
teman-teman sekolahnya. Seketika ia mengerti keadaan tersebut. Inilah rencana
Farid. Sebuah spanduk terbentang dari atas gerbang ke bawah. Spanduk
bertuliskan “Will You Be Mine?”.
Citra terkejut dan kebingungan dengan semua itu. Ia hanya diam menyaksikan
semuanya.
Tiba-tiba
Farid datang dari arah luar gerbang. Ia membawa sebuah kotak yang ditutupi
secarik kain. Ia menghampiri Citra yang masih diam. Kemudian berlutut
dihadapannya. Ia kemudian membuka kain yang menutupi kotak yang ia bawa. Citra menatap isi kotak tersebut.
Sepasang kupu-kupu yang sangat cantik.
“Aku
tahu kamu suka kupu-kupu,” Farid memecah keheningan. “Kamu lihat tulisan di
spanduk itu,” Farid menunjuk spanduk yang dimaksud. “Itu yang aku ingin
tanyakan. Will you be mine? Jika kamu mau aku ingin kamu buka kotak ini dan
terbangkan sepasang kupu-kupu ini. Jika kamu menolak, kamu bisa mengambil kotak
ini dan kamu boleh memiliki kedua kupu-kupu cantik ini,” jelas Farid kemudian.
Dika
memperhatikan sahabatnya itu. Sepertinya Farid memang sudah mempersiapkannya
secara matang. Tak ada keraguan dalam kata-katanya. Citra menatap Dika meminta
pendapat. Dika hanya tersenyum dan mengangguk.
Citra
mengambil kotak itu dari tangan Farid. Menatap lama sepasang kupu-kupu yang
beterbangan di dalamnya. Kini Farid mulai gelisah. Citra kemudian berbalik
kemudian melangkahkan kakinya beberapa langkah menjauhi Farid. Farid semakin
cemas melihat itu. Semua temannya yang menyaksikan pun ikut gelisah. Farid
berdiri. Matanya mulai berkaca.
“Apa
kamu menolakku?” tanyanya.
Citra
berbalik menatap Farid. Ia tersenyum kemudian kembali menghampiri Farid. Ia
memberikan kembali kotak tersebut pada Farid.
“Kenapa
kamu memberikannya lagi padaku?” Farid menatap bingung.
“Hmmm..kupu-kupu
itu sangat cantik,” Citra tersenyum. “Aku ingin melihatnya terbang menghirup
kebebasan. Tapi bukannkah itu kupu-kupu milikmu. Jadi maukah kamu mebebaskannya
untukku,”
Farid
makin bingung merasa pertanyaannya masih menggantung. Namun karena diminta oleh
gadis yang sangat dicintainya itu akhirnya ia melepaskan sepasang kupu-kupu
itu.
“Mereka
terlihat sangat bahagia,” Citra melihat sepasang kupu-kupu itu terbang kemudian
kembali menatap Farid. “Terimakasih kamu mau melepaskannya,”
“Lalu
jawaban untuk pertanyaanku?” Farid kembali bertanya.
“Aku
tak akan menyakiti orang baik seperti kamu,”
“Jadi?”
Farid memastikan.
Citra
mengangguk.
Dari
dekat gerbang Dika ikut tersenyum menyaksikan kebahagiaan kedua sahabatnya itu.
Farid kemudian hendak kemudian hendak memeluk Citra namun Citra menahannya.
Farid meluapkan kebahagiaannya dengan berlari sambil berteriak kegirangan. Dika
hanya menggelengkan kepala melihat tingkah bodoh sahabatnya itu.
Farid
terus berlari-lari hingga keluar sekolah. Namun ia tak melihat sebuah mobil
melesat kencang kencang ke arahnya. Dika yang mengetahui itu langsung berlari
hendak menyelamatkan sahabatnya. Ia mendorong sekuat tenaga tubuh sahabatnya
hingga ke pinggir jalan. Namun naas ia tak sempat menyelamatkan dirinya.
Tubuhnya tertabrak mobil itu dan terpental beberapa meter. Darah segar mengalir
dari tubuhnya mengotori badan jalan. Sempat ia mendengar terikan histeris dan
melihat Farid menghampirinya sebelum semua menjadi gelap dan ia tak bisa
melihat apa pun yang terjadi kemudian.




0 komentar: