Menjadi Bintang [Duka dalam Suka]

0
Selasa, Februari 05, 2013


Pagi itu ponsel Dika tiba-tiba berbunyi. Dengan enggan ia meraih ponselnya yang berada di meja kecil tak jauh dari tempatnya tertidur.
“Hooamm..siapa pagi buta begini menelpon,” ucapnya kesal. “Bocah itu,” ia melihat nama di layer ponselnya. “Ya? Ada apa pagi-pagi begini menelpon? Mengganggu saja,”
“Sorry, sorry. Gue cuma mau ngasih tahu, hari ini lo gak usah ngejemput gue. Gue mau ada urusan dulu sebelum pergi ke sekolah,”
“Emmm..ya ok,” Dika langsung menutup telpon dari Farid karena matanya masih sangat sulit untuk diajak kompromi.


***

 Hari ini Dika berangkat sekolah lumayan siang. Sehabis menutup telpon dari Farid, ia kembali tidur dan akhirnya bangun telat. Untungnya ia tak perlu menjemput sahabatnya itu. Jadi, ia tak perlu khawatir telat datang ke sekolah walau bangun sesiang tadi.
“Dik, Farid kok gak bareng kamu?” tanya Citra ketika Dika sampai di kelas.
Dika menggeleng, “Tadi pagi dia bilang kalau aku tak perlu menjemputnya. Ada urusan dulu katanya. Emang dia belum datang?” tanyanya mengedarkan penglihatannya ke seluruh ruangan kelas.
“Belum. Padahal sebentar lagi udah mau masuk,” jawab Citra yang bertepatan dengan itu bel tanda masuk pun berbunyi. “Lebih baik kamu menelponnya, Dik,”
Dika mengangguk. Namun saat ia hendak mengambil ponselnya dari saku bertepatan dengan itu Farid datang bersamaan dengan guru mata pelajaran pertama hari itu.

***

“Ka, Farid kemana sih?” Citra bertanya pada Dika ketika mereka sedang menunggu pesanan di kantin.
Dika menggeleng “Entahlah. Tadi pas bel bunyi dia langsung pergi entah kemana,”
“Kalian gak lagi berantem kan? Masalah kemarin di mall udah beres?”
“Gak kok. Masalah itu udah beres. Mungkin dia emang lagi ada urusan aja,”
“Urusan apa yah? Kok gak bilang-bilang sama kita?”
“Ya..mungkin urusan pribadi kali. Tapi biasanya dia cerita sih sama aku. Paling juga kalo urusan cinta dia gak cerita,”
“Cinta? Dia lagi jatuh cinta?”
“Ya..mana aku tahu. Kan udah aku bilang dia gak suka cerita kalo urusan cinta. Lagian responnya gitu banget,”
“Ah..biasa aja,”
“Tenang entar kalo dia cerita aku kasih tahu. Gak usah seih fans nya hilang,”
“Siapa yang sedih,” ucap Citra manyun.
“Makin keliatan tahu gak sukanya. Bilang aja kalo jealous,”
“Siapa juga yang jealous,”
“Muka kamu yang bilang,”
“Huuuh…so tahu,” Citra mulai khawatir sama kemampuan Dika membaca isi hati orang lewat raut wajah. Jadi dia memalingkan wajahnya memutari seluruh kantin mencari hal yang menarik.
“Haduuh..udah gak usah cemberut. Tuh makanan udah datang,”
“Permisi, Mas, Mbak,” ucap Bang Somad sambil menyimpan pesanan mereka berdua.

***

“Farid ngilang lagi?” Citra bertanya pada Dika ketika mereka keluar dari kelas hendak.
Dika hanya mengangguk.
“Aneh banget tuh anak,”
“Udahlah jangan dipikirin. Entar makin suka lho,”
“Ih..Eh, mumpung gak bareng Farid aku ikut pulang yah,”
“Tuh kan, ada untungnya tuh anak ngilang,”
“Manfaatkan kesempatan yang ada,” Citra cengengesan.
“Ya udah sekali-sekali,”
Mereka sampai di parkiran sekolah kemudian Dika langsung menaiki motornya dan melesat keluar sekolah sambil membonceng Citra.

***

Tiga hari telah berlalu. Malam ini Dika sedang di rumah Farid. Lebih tepatnya di kamar milik sahabatnya itu.
“Rid, lo kenapa ngilang mulu?” Dika bertanya pada sahabatnya itu.
“Gak kenapa-kenapa,”
“Citra nanyain terus lo tau. Gue bosen ngejawab ‘gak tahu’ mulu,”
“Oh ya?” Farid jadi bersemangat langsung menghampiri Dika. “Terus dia nanya apa lagi?”
Dika memperhatikan tingkah sahabatnya itu. “Hmmm..gue sekarang ngerti,”
“Ngerti apaan?”
“Ngerti kenapa belakangan ini lo ngilang terus,”
“Kenapa?”
“Lo sengaja kan mau ngejalanin misi lo kayak dulu-dulu,”
“Hahaha..lo emang sahbat yang paling mengerti,”
“Lo gak kasian apa sama Citra. Dia udah kayak yang kalang kabut gitu gara-gara lo,”
“Itu kan emang tujuan gue,”
“Hmmm..emang gak ada cara lain untuk dapetin hatinya dia. Gue juga jadi kasian sama dia,”
“Ini cara yang paling ampuh tahu. Baru juga empat hari gue tinggalin rencana gue udah berhasil,”
“Lo sengaja dulu deket-deket dia sekarang ninggalin dia cume buat dapetin hati dia. Gue gak habis piker lo dapet cara sadis itu dari mana,”
“Yang penting cara itu ampuh banget,”
“Nah…terus sekarang lo mau gimana? Kasian kan dia,”
Farid menghampiri lemarinya kemudian membuka pintunya dan menggambil sesuatu dari sana. Kotak kaca berisi dua ekor kupu-kupu.
“Buat apa lo nyimpen kupu-kupu di kamar?”
“Buat rencana besok,”
“Besok? Emang ada apa?”
“Tunggu waktunya datang,”
Dika mendengus, “Lo mau nembak Citra sama yang begituan?”
“Hmmm..susah yah mau bikin lo penasaran. Sekali-sekali nonaktifin dulu tuh kemampuan,” kini Farid yang sebal, rencana jadi ketahuan.
“Hahaha..itu udah jadi bakat gue. Emang lo yakin dia bakal nerima lo?”
“Ya. Ngeliat reaksi dia beberapa hari terakhir gue jadi makin yakin,” Farid cengengesan.
“Gak butuh bantuan gue?”
“Gak. Semua udah beres. Awas kalo lo bikin semuanya gagal,”
“Iya. Iya. Gue gak sesadis itu,”
“Ok sip. Pulang sana. Gue mau tidur biar besok kelihatan seger,”
“Gila lo. Belum jadian aja gue udah diusir gini. Gimana kalo entar udah jadian,”
“Haduh..cup,cup,cup, dede manis jangan ngambek,”
“Ih..najis gue,” Dika bergidik melihat sikap sahabatnya kemudian langsung berlari keluar kamar Farid hendak pulang.

***

Pagi itu Dika bangun dengan wajah tak bersemangat. Memang ia terkadang menjalani hari-harinya dengan tak bersemangat. Namun  kali ini ia merasa ada firasat buruk dalam dirinya. Semuanya jadi serba tak enak. Bahkan sarapan pun jadi enggan ia lakukan. Ia langsung berangkat sekolah dengan semangat yang makin menurun. Sebelumnya ia pergi ke rumah Farid dahulu.
“Eh, Den Dika,” sapa Mang Ujang, tukang kebun di rumahnya Farid.
“Pagi, Mang! Faridnya masih ada?”
“Den Farid udah berangkat dari tadi, Den”
“Oh..makasih, Mang. Kalau gitu saya berangkat dulu,”
“Iya, Den. Hati-hati,” tukang kebun itu tersenyum ramah.
Dika langsung melesat meninggalkan halaman rumah sahabatnya itu. Dia mengkhayalkan rencana seperti apa yang akan Farid lakukan. Dan apa firasat buruk yang ia rasakan ada hubungannya dengan rencana Farid itu. Semakin ia berpikir ia malah semakin pusing.

***

“Lihat tuh anak udah ngilang lagi aja,” ucap Citra kepada Dika melihat Farid yang sudah duluan meninggalkan kelas ketika bel tanda selesainya acara belajar mengajar hari itu.
“Sudahlah, gak usah bete gitu. Mending kita juga pulang”
Mereka meninggalkan kelas. Namun baru beberapa langkah, Citra dipanggil oleh teman sebangkunya.
“Cit!” serunya.
“Eh, Ratih. Ada apa?”
“Aku lupa mau ngebahas tugas dari Ibu Salma tadi,”
Dika menunggu mereka berdua selesai. Ternyata lumayan lama juga. Tapi Dika merasa ada yang aneh dengan Ratih. Dia merasa Ratih sengaja memperlama obrolannya dengan Citra.
“Ok, kalau gitu berarti tinggal kita kerjain bareng besok,” Ratih menutup obrolannya dengan Citra.
Melihat itu Dika melangkah terlebih dulu menuju parkiran. Citra langsung menyusulnya.
“Maaf yah lama,” ucap Citra ketika ia telah berjalan sejajar dengan Dika.
Dika hanya membalasnya dengan senyuman.
Ketika sampai di parkiran, seperti biasa Dika langsung mengambil motornya dan menyalakannya kemudian melesat meninggalkan area tempat parkir. Namun ketika di depan gerbang sekolah, ternyata gerbang tertutup dan Dika menghentikan motornya. Ia hendak turun untuk membuka gerbang. Namun tiba-tiba gerombolan orang datang membuka gerbang dari luar. Dika mengamati mereka. Mereka teman-teman sekolahnya. Seketika ia mengerti keadaan tersebut. Inilah rencana Farid. Sebuah spanduk terbentang dari atas gerbang ke bawah. Spanduk bertuliskan “Will You Be Mine?”. Citra terkejut dan kebingungan dengan semua itu. Ia hanya diam menyaksikan semuanya.
Tiba-tiba Farid datang dari arah luar gerbang. Ia membawa sebuah kotak yang ditutupi secarik kain. Ia menghampiri Citra yang masih diam. Kemudian berlutut dihadapannya. Ia kemudian membuka kain yang menutupi kotak yang ia bawa. Citra menatap isi kotak tersebut. Sepasang kupu-kupu yang sangat cantik.
“Aku tahu kamu suka kupu-kupu,” Farid memecah keheningan. “Kamu lihat tulisan di spanduk itu,” Farid menunjuk spanduk yang dimaksud. “Itu yang aku ingin tanyakan. Will you be mine? Jika kamu mau aku ingin kamu buka kotak ini dan terbangkan sepasang kupu-kupu ini. Jika kamu menolak, kamu bisa mengambil kotak ini dan kamu boleh memiliki kedua kupu-kupu cantik ini,” jelas Farid kemudian.
Dika memperhatikan sahabatnya itu. Sepertinya Farid memang sudah mempersiapkannya secara matang. Tak ada keraguan dalam kata-katanya. Citra menatap Dika meminta pendapat. Dika hanya tersenyum dan mengangguk.
Citra mengambil kotak itu dari tangan Farid. Menatap lama sepasang kupu-kupu yang beterbangan di dalamnya. Kini Farid mulai gelisah. Citra kemudian berbalik kemudian melangkahkan kakinya beberapa langkah menjauhi Farid. Farid semakin cemas melihat itu. Semua temannya yang menyaksikan pun ikut gelisah. Farid berdiri. Matanya mulai berkaca.
“Apa kamu menolakku?” tanyanya.
Citra berbalik menatap Farid. Ia tersenyum kemudian kembali menghampiri Farid. Ia memberikan kembali kotak tersebut pada Farid.
“Kenapa kamu memberikannya lagi padaku?” Farid menatap bingung.
“Hmmm..kupu-kupu itu sangat cantik,” Citra tersenyum. “Aku ingin melihatnya terbang menghirup kebebasan. Tapi bukannkah itu kupu-kupu milikmu. Jadi maukah kamu mebebaskannya untukku,”
Farid makin bingung merasa pertanyaannya masih menggantung. Namun karena diminta oleh gadis yang sangat dicintainya itu akhirnya ia melepaskan sepasang kupu-kupu itu.
“Mereka terlihat sangat bahagia,” Citra melihat sepasang kupu-kupu itu terbang kemudian kembali menatap Farid. “Terimakasih kamu mau melepaskannya,”
“Lalu jawaban untuk pertanyaanku?” Farid kembali bertanya.
“Aku tak akan menyakiti orang baik seperti kamu,”
“Jadi?” Farid memastikan.
Citra mengangguk.
Dari dekat gerbang Dika ikut tersenyum menyaksikan kebahagiaan kedua sahabatnya itu. Farid kemudian hendak kemudian hendak memeluk Citra namun Citra menahannya. Farid meluapkan kebahagiaannya dengan berlari sambil berteriak kegirangan. Dika hanya menggelengkan kepala melihat tingkah bodoh sahabatnya itu.
Farid terus berlari-lari hingga keluar sekolah. Namun ia tak melihat sebuah mobil melesat kencang kencang ke arahnya. Dika yang mengetahui itu langsung berlari hendak menyelamatkan sahabatnya. Ia mendorong sekuat tenaga tubuh sahabatnya hingga ke pinggir jalan. Namun naas ia tak sempat menyelamatkan dirinya. Tubuhnya tertabrak mobil itu dan terpental beberapa meter. Darah segar mengalir dari tubuhnya mengotori badan jalan. Sempat ia mendengar terikan histeris dan melihat Farid menghampirinya sebelum semua menjadi gelap dan ia tak bisa melihat apa pun yang terjadi kemudian.

About the author

Donec non enim in turpis pulvinar facilisis. Ut felis. Praesent dapibus, neque id cursus faucibus. Aenean fermentum, eget tincidunt.

0 komentar: