Pohon Jati
0
Sepasang
suami istri sedang duduk di sebuah bangku di taman rumah mereka. Mereka sedang
menikmati hari minggu. Melihat indahnya taman rumah mereka.
“Ayah,”
ucap sang istri pada suaminya.
“Ya,”
jawab suaminya.
“Ayah
lihat pohon itu,” ucap sang istri menunjuk sebuah pohon yang menjulang tinggi
dibandingkan pohon yang lain yang ada di taman itu.
“Ya,
ayah melihatnya,”
“Kenapa
pohon itu ada di sana?
Bukankah itu tak cocok berada di taman?”
“Memang
pohon itu tak wajar ada di taman seperti ini, tapi ayah menyukai pohon itu,”
“Kenapa
ayah menyukainya? Bukankah pohon itu akan menggugurkan daunnya yang membuat
taman kita menjadi terlihat berantakan ketika musim kemarau datang?”
“Ya,
tapi ayah tetap menyukainya,”
“Kenapa
ayah menyukainya?” sang istri kembali bertanya.
“Karena
pohon itu, pohon jati itu tumbuh atas pengorbanan cinta,”
“Maksud
ayah?”
“Seperti
yang bunda katakan tadi. Ketika musim kemarau datang, daunnya akan berguguran
meninggalkan sang batang pohon,”
“Apa
itu yang ayah maksud pengorbanan cinta? Bukankah daun-daun itu seakan
meninggalkan batang pohon karena ia pikir batang pohon yang ia tinggali sudah
rapuh dan tak pantas menjadi tempatnya lagi?”
“Benarkah?”
sang ayah tersenyum. “Apa ketika berguguran daun-daun itu akan hinggap di
batang pohon lain yang terlihat lebih kokoh?”
“Sepertinya
tidak. Dia akan jatuh ke tanah dan membusuk. Mungkin itu memang balasan karena
keegoisannya,”
“Sebenarnya
bukan seperti itu. Daun berguguran karena ia rela berkorban demi pohon itu. Ia
tahu pohon itu rapuh karena saat musim gugur air yang pohon itu dapatkan
semakin sedikit. Daun menggugurkan dirinya agar pohon bisa lebih menghemat air
yang ia punya sehingga pohon itu dapat hidup lebih lama. Daun rela jatuh ke
tanah, membusuk dan menghilang demi sang pohon yang ia cintai agar tetap dapat
hidup. Ia tulus mencintai sang pohon sehingga ia rela berkorban demi sang pohon
agar tetap hidup dan tetap bahagia bersama burung-burung yang hinggap di
dahannya walau akhirnya ia harus menghilang,”
Sang
istri mendengarkan dengan seksama penjelasan suaminya sambil menatap pohon jati
itu. “Kalau begitu bukankah batang pohon itu yang menjadi egois karena tetap
dapat bahagia melihat penderitaan yang daun rasakan?”
“Benarkah?”
sang suami kembali tersenyum.
“Kalau
mendengar yang ayah jelaskan memang terlihat seperti itu,”
“Sebenarnya
bukan seperti itu. Mungkin sekilas daun itu memang seakan menghilang. Namun
sebenarnya tidak. Ketika jatuh ke tanah, daun akan membusuk, terurai menjadi
lebih kecil dan masuk ke dalam tanah. Akar pohon akan menyerapnya sebagai
pupuk. Memasukkannya ke dalam bagian dalam tubuhnya. Pohon itu bahagia karena
ia tahu walau daun telah menghilang namun bagian-bagian dari daun yang terurai
tetap ada dalam tubuhnya sampai kapan pun. Ia pun tak ingin pengorbanan daun sia-sia.
Ia bahagia karena itu yang daun inginkan. Daun ingin ia bahagia karena itu ia
mengabulkannya sebagai rasa cinta dan terimakasihnya atas pengorbanan daun,”
Kini
sang istri mengerti mengapa suaminya menyukai pohon jati itu. Memang kalau
mendengarkan penjelasan suaminya, pohon itu tumbuh atas perjuangan cinta.
“Ayah
ingin kita pun seperti itu,” sang suami kembali berbicara. “Ayah ingin selalu
berkorban untuk bunda hingga ayah mati karena ayah ingin bunda selalu bahagia,”
“Bunda
tak ingin berpisah dengan ayah. Tapi bila memang takdir berbicara lain. Bunda
akan menjadi seperti batang pohon jati itu. Bunda akan tetap menjalani hidup
dengan bahagia seperti keinginan ayah. Karena walau ayah telah menghilang,
bunda yakin ayah akan tetap ada dan tetap hidup di hati bunda sampai bunda
mati,”




0 komentar: