Pohon Jati

0
Selasa, Februari 05, 2013


Sepasang suami istri sedang duduk di sebuah bangku di taman rumah mereka. Mereka sedang menikmati hari minggu. Melihat indahnya taman rumah mereka.
“Ayah,” ucap sang istri pada suaminya.
“Ya,” jawab suaminya.
“Ayah lihat pohon itu,” ucap sang istri menunjuk sebuah pohon yang menjulang tinggi dibandingkan pohon yang lain yang ada di taman itu.
“Ya, ayah melihatnya,”
“Kenapa pohon itu ada di sana? Bukankah itu tak cocok berada di taman?”
“Memang pohon itu tak wajar ada di taman seperti ini, tapi ayah menyukai pohon itu,”
“Kenapa ayah menyukainya? Bukankah pohon itu akan menggugurkan daunnya yang membuat taman kita menjadi terlihat berantakan ketika musim kemarau datang?”
“Ya, tapi ayah tetap menyukainya,”
“Kenapa ayah menyukainya?” sang istri kembali bertanya.
“Karena pohon itu, pohon jati itu tumbuh atas pengorbanan cinta,”
“Maksud ayah?”
“Seperti yang bunda katakan tadi. Ketika musim kemarau datang, daunnya akan berguguran meninggalkan sang batang pohon,”
“Apa itu yang ayah maksud pengorbanan cinta? Bukankah daun-daun itu seakan meninggalkan batang pohon karena ia pikir batang pohon yang ia tinggali sudah rapuh dan tak pantas menjadi tempatnya lagi?”
“Benarkah?” sang ayah tersenyum. “Apa ketika berguguran daun-daun itu akan hinggap di batang pohon lain yang terlihat lebih kokoh?”
“Sepertinya tidak. Dia akan jatuh ke tanah dan membusuk. Mungkin itu memang balasan karena keegoisannya,”
“Sebenarnya bukan seperti itu. Daun berguguran karena ia rela berkorban demi pohon itu. Ia tahu pohon itu rapuh karena saat musim gugur air yang pohon itu dapatkan semakin sedikit. Daun menggugurkan dirinya agar pohon bisa lebih menghemat air yang ia punya sehingga pohon itu dapat hidup lebih lama. Daun rela jatuh ke tanah, membusuk dan menghilang demi sang pohon yang ia cintai agar tetap dapat hidup. Ia tulus mencintai sang pohon sehingga ia rela berkorban demi sang pohon agar tetap hidup dan tetap bahagia bersama burung-burung yang hinggap di dahannya walau akhirnya ia harus menghilang,”
Sang istri mendengarkan dengan seksama penjelasan suaminya sambil menatap pohon jati itu. “Kalau begitu bukankah batang pohon itu yang menjadi egois karena tetap dapat bahagia melihat penderitaan yang daun rasakan?”
“Benarkah?” sang suami kembali tersenyum.
“Kalau mendengar yang ayah jelaskan memang terlihat seperti itu,”
“Sebenarnya bukan seperti itu. Mungkin sekilas daun itu memang seakan menghilang. Namun sebenarnya tidak. Ketika jatuh ke tanah, daun akan membusuk, terurai menjadi lebih kecil dan masuk ke dalam tanah. Akar pohon akan menyerapnya sebagai pupuk. Memasukkannya ke dalam bagian dalam tubuhnya. Pohon itu bahagia karena ia tahu walau daun telah menghilang namun bagian-bagian dari daun yang terurai tetap ada dalam tubuhnya sampai kapan pun. Ia pun tak ingin pengorbanan daun sia-sia. Ia bahagia karena itu yang daun inginkan. Daun ingin ia bahagia karena itu ia mengabulkannya sebagai rasa cinta dan terimakasihnya atas pengorbanan daun,”
Kini sang istri mengerti mengapa suaminya menyukai pohon jati itu. Memang kalau mendengarkan penjelasan suaminya, pohon itu tumbuh atas perjuangan cinta.
“Ayah ingin kita pun seperti itu,” sang suami kembali berbicara. “Ayah ingin selalu berkorban untuk bunda hingga ayah mati karena ayah ingin bunda selalu bahagia,”
“Bunda tak ingin berpisah dengan ayah. Tapi bila memang takdir berbicara lain. Bunda akan menjadi seperti batang pohon jati itu. Bunda akan tetap menjalani hidup dengan bahagia seperti keinginan ayah. Karena walau ayah telah menghilang, bunda yakin ayah akan tetap ada dan tetap hidup di hati bunda sampai bunda mati,”

About the author

Donec non enim in turpis pulvinar facilisis. Ut felis. Praesent dapibus, neque id cursus faucibus. Aenean fermentum, eget tincidunt.

0 komentar: