Bintang di Siang Hari

0
Selasa, Februari 05, 2013


Seorang laki-laki duduk di bawah pohon besar, menyandarkan tubuhnya ke pohon itu. Memetik pelan gitar yang ia pegang. Sesekali ia menoleh ke arah gadis di depannya. Gadis yang baru beberapa bulan pindah ke sekolahnya. Gadis yang sekarang telah menjadi sahabat terdekatnya. Memperhatikan wajah serius gadis itu. Wajah yang selalu ia lihat ketika gadis itu sedang asik meliuk-liukkan jemarinya dengan lincah di atas buku gambar, meninggalkan goresan-goresan indah pada buku gambar itu.
Laki-laki itu bangkit, menaruh gitarnya menyandar ke batang pohon kemudian menghampiri gadis itu.
“Mau apa?” tanya gadis itu sambil menutup buku gambarnya.
“Aku ingin melihat apa yang kamu gambar,”
“Belum selesai,”
“Biarlah, aku yakin gambarmu bagus,”
“Aku akan memperlihatkannya jika sudah selesai,”
Laki-laki itu menyerah kemudian kembali menyandarkan tubuhnya ke batang pohon dan memainkan kembali gitarnya.
“Lihatlah!” tak lama kemudian gadis itu memperlihatkan hasil gambarnya.
Laki-laki itu memperhatikan gambar yang gadis itu buat. “Risa, kenapa kamu menggambar aku lagi?”

“Kamu yang sekarang ada di depanku, Gilang,”
“Kapan aku bergaya seperti ini?” tanya Gilang menunjuk gambar itu.
“Saat kita datang tadi dan kamu bersandar di pohon itu,”
“Haha, ingatanmu selalu membuatku takjub. Apa benar wajahku seperti ini?”
“Tentu. Aku masih sangat mengingatnya,”
Gilang kembali memperhatikan gambar itu. Gambar itu memang terlihat sempurna. Ia memang selalu mengagumi gambar hasil buatan sahabatnya itu.
“Sekarang kamu mainkan sebuah lagu untukku,” pinta Risa pada Gilang.
“Hah? Kenapa aku harus melakukannya?”
“Sebagai bayaran untuk gambar itu,” Risa duduk di samping Gilang.
Akhirnya Gilang memetik senar-senar gitarnya. Memainkan nada-nada indah yang selalu membuat Risa senang. Tak ada kata pun terucap. Mereka berdua larut dalam lantunan irama yang keluar dari gitar yang Gilang mainkan.


Gilang dan Rasi duduk di bangku sebuah taman. Menatap langit malam bertabur bintang. Terkadang angin malam berhembus di sekitar mereka. Dinginnya menembus pakaian serba berwarna biru muda yang sama-sama mereka kenakan.
“Sekarang kita di sini. Berdua. Bersama. Karena rahasia yang kita simpan,” ucap Gilang memecah keheningan.
Risa menatap Gilang, air mata mulai keluar dari matanya.
“Waktu yang membuka rahasia kita,”
Risa hanya diam. Air matanya terus mengalir.
Gilang menatap Risa. Menghampus air mata di pipi Risa. “Berhentilah menangis,”
“Kenapa? Kenapa semuanya terungkap saat seperti ini? Ini semakin membuat ku terluka,”
“Aku pun merasakan apa yang kamu rasakan. Aku tak tega bila memberitahukannya langsung. Aku yakin kamu pun seperti itu. Karena itu takdir yang mengungkap rahasia yang kita simpan,”
“Tapi sejak kapan?”
“Sejak kapan?” Gilang tak mengerti dengan pertanyaan yang Risa lontarkan.
“Sejak kapan cidera di kepalamu itu ada?”
“Oh itu,” Gilang kembali menatap langit. Menarik napas dalam kemudian menghembuskannya kembali. “Sejak kecelakaan yang memisahkan ku dengan kedua orang tuaku. Sepertinya kecelakaan itu tak hanya meminta mereka yang menjadi korban,”
Risa menatap Gilang. Ia merasa bersalah. “Maaf,”
Gilang menggelengkan kepala. “Tak apa,”
“Bagaimana rasanya?”
“Rasanya?”
“Bagaimana rasanya kehilangan orang yang kamu sayangi?”
“Dulu aku masih kecil. Saat aku tahu semuanya, aku benar-benar terpuruk. Aku merasakan bagaimana rasanya kekosongan, kesepian, sendirian. Tapi semakin lama aku menjadi mengerti. Orang yang aku sayangi tak akan benar-benar hilang. Bahkan saat mereka benar-benar telah pergi. Walau aku tak lagi bisa melihatnya, menyentuhnya, mendengar suaranya, bercanda dengannya, berbagi dengannya, namun orang yang aku sayangi akan selalu hidup bersamaku, hidup di hatiku, bagai bintang di siang hari, meski tak terlihat, mereka tetap ada bersamaku, mereka akan selalu menyinari hari-hariku,”
Mata Risa berbinar mendengar perkataan Gilang. Ia terpesona dengan kata-kata yang baru ia dengar. Sama seperti terpesonanya ia pada kedewasaan sahabatnya itu. Sangat berbeda dengan dirinya. Ia benar-benar bersyukur memiliki sahabat seperti Gilang. Walau mungkin di akhir kehidupannya.
“Risa!” Gilang menatap Risa.
“Ya,”
“Apa kamu membawa alat menggambarmu?”
“Emm..ya. Ada di dalam,”
“Bolehkah aku meminta sesuatu?”
“Apa?”
“Maukah kamu menggambar ku saat kita berdua pertama kali pergi ke pohon tempat kita selalu berdua? Aku yakin dengan kemampuan fotographic memorymu kamu masih mengingat saat itu,”
“Kenapa kamu ingin aku menggambarnya?”
“Aku ingin melihat kembali saat-saat itu,”
“Baiklah. Tapi sekarang sudah malam,”
“Aku tak memintanya sekarang,”
“Nanti besok aku akan menggambarnya,”
“Terima kasih. Lebih baik kita cepat ke dalam. Angin malam semakin berhembus kencang,” Gilang bangkit dari duduknya kemudian berjalan.
Risa menarik tangan Gilang. Menahan Gilang untuk pergi. “Apa kita bisa ke sana lagi berdua?”
Gilang nampak berpikir sejenak kemudian menggangguk. “Aku janji kita berdua akan ke sana lagi dan aku akan memainkan lagu untukmu,”
Risa tersenyum. Sambil menggenggam tangan Gilang, ia melangkahkan kakinya. Mereka kembali masuk ke dalam rumah sakit dan pergi ke ruang inap mereka masing-masing.


Risa datang ke tempat dekat pohon yang menjadi tempat favoritnya dan Gilang. Ia langsung duduk di batu tempat ia selalu menggambar. Membuka sebuah surat yang ia bawa. Surat yang ia dapatkan beberapa minggu yang lalu. Surat yang ia dapatkan ketika mengetahui sebuah kenyataan manis yang sekaligus pahit. Ia baca surat itu kata demi kata.
Halo! Apa saat ini kamu ada di dekat pohon tempat kita selalu bersama? Kalau ya, aku sangat bahagia karena itu berarti kamu sudah sehat.
“Ya, sekarang aku ada di sini. Kamu yang memintaku untuk membuka surat ini di sini dan seperti yang kamu tulis, sekarang aku sudah sehat,” Risa menjawab pertanyaan yang ada dalam surat itu seakan itu adalah pertanyaan yang benar-benar harus ia jawab.
Sebelumnya aku mau berterimakasih karena kamu telah mengabulkan permintaan terakhirku. Walau gambar itu memang belum selesai, tapi aku sudah berhasil mengingat kembali saat kita pertama datang ke tempat ini. Gambarmu memang selalu menakjubkan.
Risa tersenyum membaca surat itu.
Untuk membayarnya aku melakukan ini semua. Aku tahu kamu pasti akan sedikit marah. Karena itu aku tak meminta izin padamu. Kamu pasti akan mencegahku untuk melakukannya. Aku takut tak akan bisa menepati janjiku. Tapi dengan ini aku telah menepati janjiku. Walau aku tak benar-benar di sini, tapi hatiku ada di sini, ada bersamamu. Walau aku tak terlihat namun aku ada di hatiku yang ada dalam tubuhmu. Kini kita akan selalu bersama, bukan hanya di tempat ini namun kemana pun kamu pergi aku dan hatiku akan selalu bersamamu.
Air mata Risa mulai mengalir.
Untuk menepati janjiku yang terakhir, aku telah membuat sesuatu untukmu. Maukah kamu pergi ke bawah pohon? Di sana kamu akan melihat tanda yang pasti akan kamu kenali. Dan maukah kamu menggali sedikit tanda itu?
Surat itu telah selesai Risa baca. Ia menghapus air matanya kemudian pergi ke bawah pohon. Matanya tertuju ke sebuah tanda. Batu berjejer membentuk gambar bintang. Ia menghampiri tanda itu. Berjongkok. Menyingkirkan batu-batu itu kemudian mulai menggalinya. Tak terlalu dalam, ia menemukan sebuah kotak. Ia ambil kotak itu. Membersihkan sisa-sisa tanah di tangannya kemudian membuka kotak tersebut. Pertama, ia melihat sebuah lipatan kertas, ia mengambilnya. Ia nampak mengenali kertas tersebut, ia membukanya. “Gambar ini,” ucapnya melihat gambar yang menjadi permintaan terakhir Gilang. “Ini memang belum selesai,” ucapnya membenarkan tulisan dalam surat Gilang yang tadi ia baca.
Risa kembali melihat ke dalam kotak. Kembali lipatan kertas yang ia temukan. Ia membuka lipatan kertas tersebut. Ternyata itu adalah sebuah surat.
Kamu pintar bisa mengenali tanda yang aku buat.
“Tanda itu terlalu mudah untukku,” ucap Risa.
Sebelumnya aku minta maaf telah memintamu menggali tanah yang membuat tanganmu kotor.
Risa memperhatikan tangannya. Ia tersenyum. Membaca surat itu ia merasa Gilang benar-benar ada di sampingnya.
Sebelum aku melakukan operasi untuk mendonorkan hatiku, aku telah merekam sesuatu untukmu. Aku harap itu bisa menepati janji terakhirku untukmu. Risa, aku harap kamu bahagia walau aku telah pergi. Jagalah hatiku seperti selama ini kamu menjaga hatimu. Jika kamu merindukanku, dengarlah rekaman itu, tutuplah matamu dan ingatlah saat pertama kita ke tempat ini, jika kamu lupa, tataplah gambar yang telah kamu buat. Sampai jumpa kembali.
Risa mengambil sesuatu dari dalam kotak. Sebuah MP3 Player. Ia memasang headset ke telinganya. Kemudian menyalakan MP3 Player itu. Hanya ada satu lagu di dalamnya. Ia putar lagu itu. Ia ingat lagu itu. Lagu pertama yang Gilang mainkan saat mereka berdua ke tempat ini sekaligus lagu terakhir yang Gilang mainkan atas permintaannya. Kemudian Risa memejamkan matanya. Dalam pikirannya, ia membayangkan kejadian seperti gambar yang ada di sampingnya. Dalam pikirannya, ia benar-benar merasakan Gilang ada di sampingnya. Dalam pikirannya, ia merasakan Gilanglah yang sedang memainkan lagu yang ia dengar.
“Terimakasih telah menepati janjimu,” ucapnya setelah lagu itu berhenti.
Risa membuka matanya. Menatap ke atas langit.
“Sama seperti bintang di langit itu. Aku tak akan melihatnya di siang hari seperti ini tapi aku tahu bintang itu tetap ada, aku tahu bintang itu tetap bersinar. Kini aku memang tak dapat melihatmu lagi. Tapi aku tahu kamu akan tetap hidup bukan hanya di hatiku tapi di hati kita berdua. Terimakasih atas semuanya. Atas hatimu, kebaikanmu dan atas kedewasaan yang telah kamu ajarkan. Sampai jumpa kembali. Tunggu aku di sisi Tuhan hingga suatu saat aku akan menyusulmu dalam senyuman,”

About the author

Donec non enim in turpis pulvinar facilisis. Ut felis. Praesent dapibus, neque id cursus faucibus. Aenean fermentum, eget tincidunt.

0 komentar: