Bintang di Siang Hari
0
Seorang
laki-laki duduk di bawah pohon besar, menyandarkan tubuhnya ke pohon itu. Memetik
pelan gitar yang ia pegang. Sesekali ia menoleh ke arah gadis di depannya.
Gadis yang baru beberapa bulan pindah ke sekolahnya. Gadis yang sekarang telah
menjadi sahabat terdekatnya. Memperhatikan wajah serius gadis itu. Wajah yang
selalu ia lihat ketika gadis itu sedang asik meliuk-liukkan jemarinya dengan
lincah di atas buku gambar, meninggalkan goresan-goresan indah pada buku gambar
itu.
Laki-laki
itu bangkit, menaruh gitarnya menyandar ke batang pohon kemudian menghampiri
gadis itu.
“Mau
apa?” tanya gadis itu sambil menutup buku gambarnya.
“Aku
ingin melihat apa yang kamu gambar,”
“Belum
selesai,”
“Biarlah,
aku yakin gambarmu bagus,”
“Aku
akan memperlihatkannya jika sudah selesai,”
Laki-laki
itu menyerah kemudian kembali menyandarkan tubuhnya ke batang pohon dan
memainkan kembali gitarnya.
“Lihatlah!”
tak lama kemudian gadis itu memperlihatkan hasil gambarnya.
Laki-laki
itu memperhatikan gambar yang gadis itu buat. “Risa, kenapa kamu menggambar aku
lagi?”
“Kamu
yang sekarang ada di depanku, Gilang,”
“Kapan
aku bergaya seperti ini?” tanya Gilang menunjuk gambar itu.
“Saat
kita datang tadi dan kamu bersandar di pohon itu,”
“Haha,
ingatanmu selalu membuatku takjub. Apa benar wajahku seperti ini?”
“Tentu.
Aku masih sangat mengingatnya,”
Gilang
kembali memperhatikan gambar itu. Gambar itu memang terlihat sempurna. Ia
memang selalu mengagumi gambar hasil buatan sahabatnya itu.
“Sekarang
kamu mainkan sebuah lagu untukku,” pinta Risa pada Gilang.
“Hah?
Kenapa aku harus melakukannya?”
“Sebagai
bayaran untuk gambar itu,” Risa duduk di samping Gilang.
Akhirnya
Gilang memetik senar-senar gitarnya. Memainkan nada-nada indah yang selalu
membuat Risa senang. Tak ada kata pun terucap. Mereka berdua larut dalam
lantunan irama yang keluar dari gitar yang Gilang mainkan.
¶¶¶
Gilang
dan Rasi duduk di bangku sebuah taman. Menatap langit malam bertabur bintang.
Terkadang angin malam berhembus di sekitar mereka. Dinginnya menembus pakaian serba
berwarna biru muda yang sama-sama mereka kenakan.
“Sekarang
kita di sini. Berdua. Bersama. Karena rahasia yang kita simpan,” ucap Gilang
memecah keheningan.
Risa
menatap Gilang, air mata mulai keluar dari matanya.
“Waktu
yang membuka rahasia kita,”
Risa
hanya diam. Air matanya terus mengalir.
Gilang
menatap Risa. Menghampus air mata di pipi Risa. “Berhentilah menangis,”
“Kenapa?
Kenapa semuanya terungkap saat seperti ini? Ini semakin membuat ku terluka,”
“Aku
pun merasakan apa yang kamu rasakan. Aku tak tega bila memberitahukannya
langsung. Aku yakin kamu pun seperti itu. Karena itu takdir yang mengungkap
rahasia yang kita simpan,”
“Tapi
sejak kapan?”
“Sejak
kapan?” Gilang tak mengerti dengan pertanyaan yang Risa lontarkan.
“Sejak
kapan cidera di kepalamu itu ada?”
“Oh
itu,” Gilang kembali menatap langit. Menarik napas dalam kemudian
menghembuskannya kembali. “Sejak kecelakaan yang memisahkan ku dengan kedua
orang tuaku. Sepertinya kecelakaan itu tak hanya meminta mereka yang menjadi
korban,”
Risa
menatap Gilang. Ia merasa bersalah. “Maaf,”
Gilang
menggelengkan kepala. “Tak apa,”
“Bagaimana
rasanya?”
“Rasanya?”
“Bagaimana
rasanya kehilangan orang yang kamu sayangi?”
“Dulu
aku masih kecil. Saat aku tahu semuanya, aku benar-benar terpuruk. Aku
merasakan bagaimana rasanya kekosongan, kesepian, sendirian. Tapi semakin lama
aku menjadi mengerti. Orang yang aku sayangi tak akan benar-benar hilang. Bahkan
saat mereka benar-benar telah pergi. Walau aku tak lagi bisa melihatnya,
menyentuhnya, mendengar suaranya, bercanda dengannya, berbagi dengannya, namun
orang yang aku sayangi akan selalu hidup bersamaku, hidup di hatiku, bagai
bintang di siang hari, meski tak terlihat, mereka tetap ada bersamaku, mereka
akan selalu menyinari hari-hariku,”
Mata
Risa berbinar mendengar perkataan Gilang. Ia terpesona dengan kata-kata yang
baru ia dengar. Sama seperti terpesonanya ia pada kedewasaan sahabatnya itu.
Sangat berbeda dengan dirinya. Ia benar-benar bersyukur memiliki sahabat
seperti Gilang. Walau mungkin di akhir kehidupannya.
“Risa!”
Gilang menatap Risa.
“Ya,”
“Apa
kamu membawa alat menggambarmu?”
“Emm..ya.
Ada di dalam,”
“Bolehkah
aku meminta sesuatu?”
“Apa?”
“Maukah
kamu menggambar ku saat kita berdua pertama kali pergi ke pohon tempat kita
selalu berdua? Aku yakin dengan kemampuan fotographic
memorymu kamu masih mengingat saat itu,”
“Kenapa
kamu ingin aku menggambarnya?”
“Aku
ingin melihat kembali saat-saat itu,”
“Baiklah.
Tapi sekarang sudah malam,”
“Aku
tak memintanya sekarang,”
“Nanti
besok aku akan menggambarnya,”
“Terima
kasih. Lebih baik kita cepat ke dalam. Angin malam semakin berhembus kencang,”
Gilang bangkit dari duduknya kemudian berjalan.
Risa
menarik tangan Gilang. Menahan Gilang untuk pergi. “Apa kita bisa ke sana lagi berdua?”
Gilang
nampak berpikir sejenak kemudian menggangguk. “Aku janji kita berdua akan ke sana lagi dan aku akan
memainkan lagu untukmu,”
Risa
tersenyum. Sambil menggenggam tangan Gilang, ia melangkahkan kakinya. Mereka kembali
masuk ke dalam rumah sakit dan pergi ke ruang inap mereka masing-masing.
¶¶¶
Risa
datang ke tempat dekat pohon yang menjadi tempat favoritnya dan Gilang. Ia
langsung duduk di batu tempat ia selalu menggambar. Membuka sebuah surat yang ia bawa. Surat yang ia dapatkan
beberapa minggu yang lalu. Surat
yang ia dapatkan ketika mengetahui sebuah kenyataan manis yang sekaligus pahit.
Ia baca surat
itu kata demi kata.
Halo! Apa saat ini kamu ada di dekat pohon tempat kita selalu
bersama? Kalau ya, aku sangat bahagia karena itu berarti kamu sudah sehat.
“Ya, sekarang aku ada di sini. Kamu yang memintaku untuk
membuka surat ini di sini dan seperti yang kamu
tulis, sekarang aku sudah sehat,” Risa menjawab pertanyaan yang ada dalam surat itu seakan itu
adalah pertanyaan yang benar-benar harus ia jawab.
Sebelumnya aku mau berterimakasih karena kamu telah mengabulkan
permintaan terakhirku. Walau gambar itu memang belum selesai, tapi aku sudah
berhasil mengingat kembali saat kita pertama datang ke tempat ini. Gambarmu
memang selalu menakjubkan.
Risa tersenyum membaca surat itu.
Untuk membayarnya aku melakukan ini semua. Aku tahu kamu pasti
akan sedikit marah. Karena itu aku tak meminta izin padamu. Kamu pasti akan
mencegahku untuk melakukannya. Aku takut tak akan bisa menepati janjiku. Tapi
dengan ini aku telah menepati janjiku. Walau aku tak benar-benar di sini, tapi
hatiku ada di sini, ada bersamamu. Walau aku tak terlihat namun aku ada di
hatiku yang ada dalam tubuhmu. Kini kita akan selalu bersama, bukan hanya di
tempat ini namun kemana pun kamu pergi aku dan hatiku akan selalu bersamamu.
Air mata Risa mulai mengalir.
Untuk menepati janjiku yang terakhir, aku telah membuat sesuatu
untukmu. Maukah kamu pergi ke bawah pohon? Di sana kamu akan melihat tanda yang
pasti akan kamu kenali. Dan maukah kamu menggali sedikit tanda itu?
Surat
itu telah selesai Risa baca. Ia menghapus air matanya kemudian pergi ke bawah
pohon. Matanya tertuju ke sebuah tanda. Batu berjejer membentuk gambar bintang.
Ia menghampiri tanda itu. Berjongkok. Menyingkirkan batu-batu itu kemudian mulai
menggalinya. Tak terlalu dalam, ia menemukan sebuah kotak. Ia ambil kotak itu.
Membersihkan sisa-sisa tanah di tangannya kemudian membuka kotak tersebut.
Pertama, ia melihat sebuah lipatan kertas, ia mengambilnya. Ia nampak mengenali
kertas tersebut, ia membukanya. “Gambar ini,” ucapnya melihat gambar yang
menjadi permintaan terakhir Gilang. “Ini memang belum selesai,” ucapnya
membenarkan tulisan dalam surat
Gilang yang tadi ia baca.
Risa kembali melihat ke dalam kotak. Kembali lipatan
kertas yang ia temukan. Ia membuka lipatan kertas tersebut. Ternyata itu adalah
sebuah surat.
Kamu pintar bisa mengenali tanda yang aku buat.
“Tanda itu terlalu mudah untukku,” ucap Risa.
Sebelumnya aku minta maaf telah memintamu menggali tanah yang
membuat tanganmu kotor.
Risa memperhatikan tangannya. Ia tersenyum. Membaca surat itu ia merasa Gilang
benar-benar ada di sampingnya.
Sebelum aku melakukan operasi untuk mendonorkan hatiku, aku
telah merekam sesuatu untukmu. Aku harap itu bisa menepati janji terakhirku
untukmu. Risa, aku harap kamu bahagia walau aku telah pergi. Jagalah hatiku
seperti selama ini kamu menjaga hatimu. Jika kamu merindukanku, dengarlah
rekaman itu, tutuplah matamu dan ingatlah saat pertama kita ke tempat ini, jika
kamu lupa, tataplah gambar yang telah kamu buat. Sampai jumpa kembali.
Risa mengambil sesuatu dari dalam kotak. Sebuah MP3 Player. Ia memasang headset ke
telinganya. Kemudian menyalakan MP3
Player itu. Hanya ada satu lagu di dalamnya. Ia putar lagu itu. Ia ingat
lagu itu. Lagu pertama yang Gilang mainkan saat mereka berdua ke tempat ini
sekaligus lagu terakhir yang Gilang mainkan atas permintaannya. Kemudian Risa
memejamkan matanya. Dalam pikirannya, ia membayangkan kejadian seperti gambar
yang ada di sampingnya. Dalam pikirannya, ia benar-benar merasakan Gilang ada
di sampingnya. Dalam pikirannya, ia merasakan Gilanglah yang sedang memainkan
lagu yang ia dengar.
“Terimakasih telah menepati janjimu,” ucapnya setelah
lagu itu berhenti.
Risa membuka matanya. Menatap ke atas langit.
“Sama seperti bintang di langit itu. Aku tak akan
melihatnya di siang hari seperti ini tapi aku tahu bintang itu tetap ada, aku
tahu bintang itu tetap bersinar. Kini aku memang tak dapat melihatmu lagi. Tapi
aku tahu kamu akan tetap hidup bukan hanya di hatiku tapi di hati kita berdua.
Terimakasih atas semuanya. Atas hatimu, kebaikanmu dan atas kedewasaan yang
telah kamu ajarkan. Sampai jumpa kembali. Tunggu aku di sisi Tuhan hingga suatu
saat aku akan menyusulmu dalam senyuman,”




0 komentar: