BINTANG #1#
0
Rama berlari menyeberang jalan untuk menyelamatkan seorang gadis yang hampir tertabrak truk. Namun naas, ketika ia menyelamatkan gadis itu, ia terjatuh dan tangannya terlindas truk itu. Sejenak ia mendengar suara gadis tu menjerit namun tak lama pandangannya menjadi buram dan ia pingsan. ketika ia sadar, ia sudah berada di dalam sebuah kamar rumah sakit. Ia mencoba menerawang kejadian yang di alaminya. Tak beberapa lama ia mulai mengingat kecelakaan yang di alaminya. Ia memperhatikan ibunya yang duduk di sampingnya. Raut wajahnya memancar aura keprihatinan.
"gadis itu..?" tanya Rama dengan suara yang lirih.
"kamu tak perlu khawatir.ia tak apa-apa nak. ia sudah pulang bersama ayahnya" jelas ibu Rama.
Setelah kejadian itu Rama tak pernah bertemu dengan gadis itu lagi. Ibunya mengatakan bahwa gadis itu tinggal di kota.
****
Setahun telah berlalu. Rama mencoba mencari pekerjaan ke kota. Ia mencoba melamar pekerjaan di sebuah kantor majalah. BRUUK..ia menabrak seorang gadis ketika ia melewati pintu kantor.
"maaf..aku tak sengaja.." ucap Rama sambil berdiri.
"tak apa.." jawab gadis itu.
karena terburu-buru, Rama segera meninggalkan gadis itu.
"dia.." batin gadis yang di tabrak Rama ketika melihat pria yang menabraknya.
ia mencoba mengingat-ingat siapa pria itu,ia menunduk lalu melihat sebuah kalung berliontinkan batu hitam berbentuk prisma segi delapan dengan ujung yang tak beraturan tergeletak tak jauh dari kakinya.ia langsung mengambil kalung itu.
"ini pasti miliknya" batin gadis itu.
"he..y..!" teriak gadis itu mencoba memanggil Rama, namun sebuah tangan menariknya melewati pintu dan meninggalkan kantor.
****
"Nis..kamu kenapa..?" tanya Citra yang keheranan melihat sahabatnya yang sedari tadi hanya diam.
"emm.." jawab Nisa singkat sambil memperlihatkan kalung yang ia temukan tadi pada Citra.
"wah...bagus banget. kamu dapat dari mana..?" ucap Citra yang kagum dengan kalung yang di pegang Nisa.
"kalung ini milik penyelamat hidupku""maksudmu..?" tanya Citra yang tak mengerti dengan ucapan Nisa.
"Tadi aku bertemu dengan pria yang menyelamatkanku dari kecelakaan setahun yang lalu. ketika aku bertubrukan dengannya, aku menemukan kalung ini, aku yakin ini miliknya" jelas Nisa menerawang kejadian tadi.
"dimana kamu bertemu dengan pria itu...?" tanya Citra.
"di kantor"
"benarkah...?"
"sepertinya ia ingin melamar pekerjaan di kantor""kalau begitu kita harus segera menemuinya" ajak Citra sambil menarik tangan Nisa meninggalkan cafe.
*****
"Cit..tunggu..!" Nisa menghentikan langkahnya ketika akan melewati pintu depan kantornya.
"kenapa,Nis..?"
"aku gak mungkin ketemu dia"
"memangnya kenapa?"
"menurutku dia tak mengingatku. aku tak mungkin tiba-tiba bertemu dengannya dan mengatakan kalau aku adalah orang yang dulu ia tolong. dia pasti akan menganggap aku sebagai orang yang tak tahu terimakasih" jelas Nisa.
"ehmm..benar juga sih. kalau gitu apa yang akan kamu lakukan?" tanya Citra.
"aku tak tau" jawab Nisa sambil menggelengkan kepala. "mungkin lebih baik aku membalas perbuatannya tanpa ia tau siapa aku sebenarnya" lanjut Nisa.
setelah itu Nisa menghampiri ruangan bosnya. seperti dugaannya, disana ia melihat bosnya sedang menginterview pria itu. ia mencoba mendengarkan perbincangan mereka. ketika mengetahui bahwa lamaran sang penyelamat jiwanya ditolak oleh bosnya. sejenak ia berpikir lalu mendapatkan ide untuk membalas budi pada penyelamat jiwanya itu. Ia segera menjauh dari ruangan bosnya ketika pria itu akan keluar dari ruangan. sesudah pria itu keluar dari ruangan, Nisa menghampirinya.
"hai..!" sapa Nisa.
Rama hanya mengangguk. dari wajahnya terlukis kemurungan.
"ini punya kamukan?" ucap Nisa sambil memperlihatkan sebuah kalung.
Rama segera mengambil kalung itu, "dari mana kamu mendapatkannya?"
"kalung itu terjatuh ketika tadi kita bertabrakan" jelas Nisa.
setelah berterimakasih pada Nisa, Rama langsung pergi meninggalkannya dan keluar dari kantor.Nisa memperhatikan kepergian pria itu, "aku akan menolongmu, penyelamat jiwaku" batin Nisa. ia berjalan menuju ruangan bosnya dan masuk ke dalam ruangan itu.
****
Rama berjalan menyusuri jalanan. Langit sudah berwarna oranye tanda matahari sudah mulai tenggelam. Ia terhenti di dekat sebuah taman dan duduk di bangku taman. Ia masih merenungkan kejadian tadi. Sudah banyak kantor ia kunjungi untuk melamar pekerjaan, namun tak satu kantor pun yang menerimanya. Ketika ia melamun, sebuah tangan menepuk pundaknya. Ia menoleh dan melihat seorang gadis sedang memperhatikannya."Kamu.." ucapnya ketika menyadari gadis itu adalah gadis yang ia tabrak di kantor majalah."Untung kita bertemu" ucap gadis itu sambil tersenyum ramah."Apa maumu?" tanya Rama."Ini." ucap gadis itu sambil memberikan sebuah amplop."Apa ini?""Bacalah..!"Rama membuka amplop itu dan membaca surat yang ada di dalam. Tak lama, sebuah senyuman terlukis di wajahnya. Melihat itu, gadis itu pun tersenyum puas."Bosku berubah pikiran dan menyuruhku untuk memberikan surat itu padamu" jelas gadis itu yang melihat Rama yang menatapnya."Terimakasih""Nisa" gadis itu mengulurkan tangannya."Rama" Rama menyambut tangan gadis itu.Mereka berdua akhirnya terlibat perbincangan kecil. Seperti yang dipikirkan Nisa, Rama memang tak mengingat bahwa Nisa adalah gadis yang ditolong Rama pada kecelakan setahun yang lalu."Aku senang bisa membantumu" batin Nisa di tengah-tengah perbincangan mereka.
"gadis itu..?" tanya Rama dengan suara yang lirih.
"kamu tak perlu khawatir.ia tak apa-apa nak. ia sudah pulang bersama ayahnya" jelas ibu Rama.
Setelah kejadian itu Rama tak pernah bertemu dengan gadis itu lagi. Ibunya mengatakan bahwa gadis itu tinggal di kota.
****
Setahun telah berlalu. Rama mencoba mencari pekerjaan ke kota. Ia mencoba melamar pekerjaan di sebuah kantor majalah. BRUUK..ia menabrak seorang gadis ketika ia melewati pintu kantor.
"maaf..aku tak sengaja.." ucap Rama sambil berdiri.
"tak apa.." jawab gadis itu.
karena terburu-buru, Rama segera meninggalkan gadis itu.
"dia.." batin gadis yang di tabrak Rama ketika melihat pria yang menabraknya.
ia mencoba mengingat-ingat siapa pria itu,ia menunduk lalu melihat sebuah kalung berliontinkan batu hitam berbentuk prisma segi delapan dengan ujung yang tak beraturan tergeletak tak jauh dari kakinya.ia langsung mengambil kalung itu.
"ini pasti miliknya" batin gadis itu.
"he..y..!" teriak gadis itu mencoba memanggil Rama, namun sebuah tangan menariknya melewati pintu dan meninggalkan kantor.
****
"Nis..kamu kenapa..?" tanya Citra yang keheranan melihat sahabatnya yang sedari tadi hanya diam.
"emm.." jawab Nisa singkat sambil memperlihatkan kalung yang ia temukan tadi pada Citra.
"wah...bagus banget. kamu dapat dari mana..?" ucap Citra yang kagum dengan kalung yang di pegang Nisa.
"kalung ini milik penyelamat hidupku""maksudmu..?" tanya Citra yang tak mengerti dengan ucapan Nisa.
"Tadi aku bertemu dengan pria yang menyelamatkanku dari kecelakaan setahun yang lalu. ketika aku bertubrukan dengannya, aku menemukan kalung ini, aku yakin ini miliknya" jelas Nisa menerawang kejadian tadi.
"dimana kamu bertemu dengan pria itu...?" tanya Citra.
"di kantor"
"benarkah...?"
"sepertinya ia ingin melamar pekerjaan di kantor""kalau begitu kita harus segera menemuinya" ajak Citra sambil menarik tangan Nisa meninggalkan cafe.
*****
"Cit..tunggu..!" Nisa menghentikan langkahnya ketika akan melewati pintu depan kantornya.
"kenapa,Nis..?"
"aku gak mungkin ketemu dia"
"memangnya kenapa?"
"menurutku dia tak mengingatku. aku tak mungkin tiba-tiba bertemu dengannya dan mengatakan kalau aku adalah orang yang dulu ia tolong. dia pasti akan menganggap aku sebagai orang yang tak tahu terimakasih" jelas Nisa.
"ehmm..benar juga sih. kalau gitu apa yang akan kamu lakukan?" tanya Citra.
"aku tak tau" jawab Nisa sambil menggelengkan kepala. "mungkin lebih baik aku membalas perbuatannya tanpa ia tau siapa aku sebenarnya" lanjut Nisa.
setelah itu Nisa menghampiri ruangan bosnya. seperti dugaannya, disana ia melihat bosnya sedang menginterview pria itu. ia mencoba mendengarkan perbincangan mereka. ketika mengetahui bahwa lamaran sang penyelamat jiwanya ditolak oleh bosnya. sejenak ia berpikir lalu mendapatkan ide untuk membalas budi pada penyelamat jiwanya itu. Ia segera menjauh dari ruangan bosnya ketika pria itu akan keluar dari ruangan. sesudah pria itu keluar dari ruangan, Nisa menghampirinya.
"hai..!" sapa Nisa.
Rama hanya mengangguk. dari wajahnya terlukis kemurungan.
"ini punya kamukan?" ucap Nisa sambil memperlihatkan sebuah kalung.
Rama segera mengambil kalung itu, "dari mana kamu mendapatkannya?"
"kalung itu terjatuh ketika tadi kita bertabrakan" jelas Nisa.
setelah berterimakasih pada Nisa, Rama langsung pergi meninggalkannya dan keluar dari kantor.Nisa memperhatikan kepergian pria itu, "aku akan menolongmu, penyelamat jiwaku" batin Nisa. ia berjalan menuju ruangan bosnya dan masuk ke dalam ruangan itu.
****
Rama berjalan menyusuri jalanan. Langit sudah berwarna oranye tanda matahari sudah mulai tenggelam. Ia terhenti di dekat sebuah taman dan duduk di bangku taman. Ia masih merenungkan kejadian tadi. Sudah banyak kantor ia kunjungi untuk melamar pekerjaan, namun tak satu kantor pun yang menerimanya. Ketika ia melamun, sebuah tangan menepuk pundaknya. Ia menoleh dan melihat seorang gadis sedang memperhatikannya."Kamu.." ucapnya ketika menyadari gadis itu adalah gadis yang ia tabrak di kantor majalah."Untung kita bertemu" ucap gadis itu sambil tersenyum ramah."Apa maumu?" tanya Rama."Ini." ucap gadis itu sambil memberikan sebuah amplop."Apa ini?""Bacalah..!"Rama membuka amplop itu dan membaca surat yang ada di dalam. Tak lama, sebuah senyuman terlukis di wajahnya. Melihat itu, gadis itu pun tersenyum puas."Bosku berubah pikiran dan menyuruhku untuk memberikan surat itu padamu" jelas gadis itu yang melihat Rama yang menatapnya."Terimakasih""Nisa" gadis itu mengulurkan tangannya."Rama" Rama menyambut tangan gadis itu.Mereka berdua akhirnya terlibat perbincangan kecil. Seperti yang dipikirkan Nisa, Rama memang tak mengingat bahwa Nisa adalah gadis yang ditolong Rama pada kecelakan setahun yang lalu."Aku senang bisa membantumu" batin Nisa di tengah-tengah perbincangan mereka.




0 komentar: