Kembang Api Perpisahan
2
Seberkas cahaya matahari menerobos masuk melalui jendela dan jatuh tepat di atas mukaku, membangunkanku dari tidurku. Ketika bangun aku langsung menatap jam yang berada di samping tempat tidur.
“Wah…..gawat, bisa kesiangan nih…!” teriakku.
Aku pun langsung bergegas mengambil handuk dan berlari menuju kamar mandi. BRUK…suara bantingan pintu kamar mandi. Tak lama kemudian aku pun selesai mandi dan segera berseragam. Selasai bersiap-siap aku pun langsung berlari ke garasi.
“Bi….tolong beresin kamar yah! Udah telat nih,” teriakku ketika menuruni tangga.
“Iya,Den !” terdengar balasan dari dapur.
Ketika aku melewati meja makan, tak lupa aku mengambil sebuah roti isi dan melahapnya sambil tetap berlari.
“Kunci….! Dimana kuncinya ?” ucapku sambil mencari-cari kunci motorku.
“Den…ini kunci motornya terjatuh didekat meja makan,” seru Bi Inah sambil menodorkan kunci kepadaku.
Aku pun langsung mengambilnya dan segera menyalakan motor.
“Makasih yah,Bi !” ucapku pada Bi Inah sambil mengendarai motorku.
Dengan sedikit ngebut aku mengendarai motorku karena takut telat masuk sekolah.
“Pak,tunggu…! Jangan ditutup dulu !” teriakku pada satpam penjaga sekolah ketika melihat ia akan menutup gerbang.
Setelah melewati gerbang aku pun segera memarkirkan motorku. Setelah memarkirkan motor, aku bergegas menuju kelasku.
“Akh…..sial. Kelasku kok jauh amat dari tempat parkir. Semoga Pak Samsul belum masuk kelas,” Gerutuku sambil berlari melintasi setiap lorong disekolah.
Brak..suara tasku yang ku bantingkan ke atas meja.
“Kamu kenapa, Dri? Udah datang telat,sekarang malah ngamuk-ngamuk ke meja. Untung Pak Samsul belum masuk” kata Bimo yang kaget ketika mendengar suara hantaman tas ke meja.
“Sial banget ni aku. Pagi-pagi udah harus lari-lari.”
“Makanya, kalau tidur jangan kaya kerbau!”ejek Bimo.
“Sialan! Semalam aku gak bisa tidur, jadi tadi telat deh bangunnya.”
“Terserah! Udah cepet duduk ! Pak Samsul udah datang tuh.”
Semua siswa pun duduk rapih dan pelajaran Pak Samsul pun dimulai. Pak Samsul adalah guru fisika. Seluruh siswa selalu merasa ketakutan dengannya karena ia adalah guru yang amat sangat tegas. Oleh karena itu, setiap pelajarannya, kelas selalu hening, hanya suara Pak Samsullah yng menggema di dalam kelas.
Teng..teng..teng..suara bel tanda jam istirahat berbunyi.
“Ye…!” seluruh isi kelas bersorak.
“Ingat, minggu depan tugas kelompok kalian harus sudah dikumpulkan !” ucap Pak Samsul membuyarkan seluruh kebahagiaan para siswa.
“Iya, Pak” jawab seluruh siswa dengan nada tidak bersemangat.
Pak Samsul pun langsung keluar kelas dan di ikuti oleh para siswa.
“Dri, kekantin yuk! Belum sarapan nih, tadi bangun kesiangan,” ajak Bimo padaku.
“Dasar! Tadi kamu bilang aku tidur kaya kerbau, kamu sendiri juga gitu,”
Bimo hanya tersenyum.
Kami pun menyusuri lorong yang sudah dipenuhi siswa-siswa. Sesampainya dikantin kami mencari tempat duduk.
“Dri,pesen sana ! aku titip bakso satu mangkok yah !”
“Lah, kok aku yang pesen? Kan kamu yang ngajak kekantin,jadi kamu dong yang pesen!” jawabku.
“Males ngantri. Udah cepet, ntar aku traktir!”
Mendengar kata traktir, aku pun meniyakan permintaannya. “lumayan lah.” Ucapku dalam hati.
“Dri, jangan lupa, baksonya yang pedes !” teriak Bimo ketika aku mulai melewati beberapa orang dikantin.
Antriannya lumayan panjang. Terpaksa aku berdiri agak lama untuk menunggu antrian habis. Lalu aku memesan dua mangkok bakso. Setelah pesananku siap,aku membawanya menuju meja tempat Bimo menunggu tadi.
“Eh…Nis. Kalau tahu ada kamu, tadi aku sekalian pesen tiga,”
“Eh….udah gak apa-apa.” jawabnya dengan wajah yang agak kaget.
Nisa adalah kekasihku. Sudah hampir dua bulan kami menjalani hubungan. Ketika aku menyantap baksoku, sesekali aku memperhatikan Bimo dan Nisa. Aku melihat beberapa kali mereka saling memandang dengan tatapan yang aneh. Aku sedikit cemburu melihat hal itu. Semenjak seminggu yang lalu, aku merasa ada sesuatu yang aneh pad mereka. Ketika kami bertiga berkumpul, Bimo dan Nisa terlihat canggung dan malu-malu. Tapi, semua pikiran buruk segera aku hapus. “Nisa itu kekasihku dan Bimo adalah sahabtku. Tak mungkin mereka akn mengkhianatiku,” pikirku.
Teng…teng..teng…suara bel menggema disetiap lorong dan ruangan kelas. Kami bertiga segera meninggalkan kantin dan berjalan menuju kelas. Aku dan Nisa memang berbeda kelas, namun kelas kami bersebelahan. Ketika Nisa masuk kelas, Bimo menatapnya dengan pandangan seperti tak ingin berpisah. Namun aku segera menariknya menuju kelas karena guru sudah terlihat memasuki kelas.
“Ayo cepat !” ajak dengan suara gk membentak.
Ketika memasuki kelas, aku kembali berpikir sesungguhnya ada apa antara Bimo dan Nisa. Namun aku segera melupakannya karena pelajaran sudah dimulai.
Ketika seluruh pelajaran habis, aku segera keluar kelas dan menyusuri lorong menuju perpustakaan.
“Dri, pulang bareng yuk !” ajak seseorang dari arah belakang.
“Kamu, pulang duluan aja ya! aku mau ke perpus dulu.” Jawabku ketika mengetahui yang mengajakku adalah Nisa.
“Bareng aku aja, Nis!” ajak Bimo yang baru keluar dari kelas.
“Dri, gak apa-apa kan aku pulang bareng Bimo?” tanya Nisa padaku.
“Ya gak apa-apa. Bim, jaga pacar aku yah. Awas kalau sampe lecet,” jawabku sambil tersenyum.
“Sip, bakalan aku jaga intan permata yang cantik ini” jawabnya. ”Eh,eh intan permatamu” lanjutnya.
Aku agak terkejut mendengar perkataannya. Namun aku langsung menganggapnya gurauan dan segera melangkah menuju perpustakaan. Di sebuah belokkan aku kembali menoleh kebelakang, terlihat Nisa dan Bimo yang sedang bersenda gurau. Hatiku kembali seperti tersayat, namun aku segera melanjutkan langkahku.
“Hai, Des !” sapaku pada Desi ketika melihatnya sedang sibuk membaca buku di perpustakaan.
“Hai juga !” jawabnya singkat.
Desi adalah sahabat Nisa dan teman baikku. Ia yang mengenalkan Nisa padaku dan karena bantuan dialah akhirnya aku dan Nisa dapat berpacaran.
“Eh, Des. Boleh aku minta waktu kamu sebentar !” tanyaku.
“Boleh, emang ada apa?”
“Apa kamu tahu sesuatu mengenai Nisa dan juga Bimo? Aku rasa belakangan ini ada hal yang aneh antara mereka berdua.” Kataku.
“Maaf, Dri! “ jawabnya dengan wajah seperti merasa bersalah.
“Kenapa kamu minta maaf?” tanyaku.
“Maaf, aku gak ngasih tahu kamu dari kemarin-kemarin.”
“Ada apa sih?” tanyaku dengan nada semakin penasaran.
“Sebenarnya, Nisa pernah mengatakan kalau ia punya perasaan yang aneh pada Bimo. Ia juga mengatakan kalau akhir-akhir ini ia selalu memikirkan Bimo dan merasa ada hal yang aneh pada hatinya ketika bersama Bimo. Bahkan ia mengatakan kalau ia merasa lebih bahagia ketika bersama Bimo dibandingkan bersamamu,” Desi menceritakan semuanya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Ternyata benar pikiranku selama ini. Aku melihat dimata mereka sebuah perasaan ketika mereka saling bertatapan.” Tak terasa mataku pun ikut berka-kaca menahan perih yang terasa didalam atiku.
“Aku harap kamu bisa bersabar yah. Mungkin semua itu hanya ujian didlam kisah cintamu bersama Nisa. Aku yakin Nisa bakalan kembali mencintaimu lagi. Lebih baik kamu berusaha untuk mengambil hatinya lagi!”
Kami pun bercakap-cakap sejenak lalu meninggalkan perpustakaan dn pulang bersama. Aku lupa dengan niatku pergi keperpustakaan, semua berita yang disampaikan oleh Desi membuatku melupakan segala hal.
Dua minggu telah berlalu sejak berita pahit itu aku dengar. Setiap hari aku selalu menghabiskan waktu berdua dengan Nisa. Aku berharap Nisa bakalan jadi seperti dulu, Nisa yang mencintai aku. Tapi, semakin hari Nisa semakin berubah. Ia lebih sering melamun ketika bersamaku. Perasaanku semakin hancur melihat sikapnya yang seperti itu, namun aku tetap berusaha untuk mencuri hatinya lagi.
Minggu depan Nisa berulang tahun. Aku sudah membuat sebuah rencana untuk merayakan ulang tahunnya. Aku sudah mempersiapkan sebuah kejutan yang sangat indah sebagai kado ulang tahunnya.
“Des, gimana? Rencana aku baguskan?” tanyaku pada Desi.
“Bagus..! aku yakin, Nisa bakalan suka kejutan yang telah kamu rencanain itu.” Jawabnya dengan senyuman.
“Aku juga berharap seperti itu”
Dua hari lagi ulang tahun Nisa. Aku semakin sibuk mengurus seluruh persiapan untuk kejutan di hari ulang tahunnya. Karena aku begitu sibuk, aku menjdi tak punya waktu bersama dengannya.
Tanpa ku ketahui ternyata Nisa dan Bimo semakin sering bersama. Sampai suatu ketika aku melihat mereka berdua sedang berjalan berdua di taman. Aku pun mengikuti mereka berdua. Sampai akhirnya mereka berdua duduk di sebuah bangku taman. Aku mengikuti mereka dan bersembunyi di balik sebuah batu besar di belakang bangku tempat mereka duduk. Lama mereka terdiam sampai akhirnya Bimo mulai berbicara…
“Nis, aku sayang sama kamu,” ucap Bimo.
Ucapan Bimo membuat aku terkaget, begitu juga Nisa. Dengan jelas aku mendengar Bimo mengatakan perasaannya pada kekasihku.
“Aku juga sayang kamu, Bim” jawab Nisa.
“ Hah…!” ucap Bimo dengan menunjukkan ekpresi kaget. “Lalu Andi?” lanjutnya.
“Dulu aku suka dia, tapi sekarang aku lebih menyukaimu,”
“Maaf, maaf, karena aku sudah merusak hubungan kamu dengan Andri. Aku sayang kamu, tapi aku sadar sekarang kamu milik Andri. Aku tak mau mengkhianati persahabatan aku dengannya, walau aku sayang kamu tapi aku mu kamu tetap menjalani hubungan dengannya,” jelas Bimo
“Iya. Andri begitu baik padaku. Aku tak mau menyakiti perasaannya. Aku akan tetap menjalani hubungan dengannya sampai ia sendiri yang memutuskan hubungan ini,” jawab Nisa.
Dibalik batu aku mendengarkn dengan serius pembicaraan mereka. Aku terus berusaha agar air mataku tak menetes. Pembicaraan yang ku dengar sangat menyayat hati. Aku pun segera meninggalkan mereka karena sudah tak kuat mendengar pembicaraan mereka. Aku pergi menuju rumah Desi untuk menceritakan hal ini.
“Itu tadi adalah pembicaraan yang aku dengar dari mereka ketika di taman,” menutup ceritaku pada Desi. Dimataku sudah terdapat air mata yang akan keluar, namun aku tetap memendungnya agar tidak menetes.
“Aku tahu, sekarang perasaan kamu sangat kecewa. Lalu apa yang akan kmu lakukan sekarang?” tanya Desi.
“Aku gak tahu, aku masih bingung dan tak percaya,”
“Lebih baik, sekarang kamu pulang dan beristirahat!” ucap Desi.
Aku pun segera pulang. Hingga malam aku tetap tidak bisa terlelap. Pembicaraan antara Bimo dan Nisa masih terngiang dalam otakku.
Pagi pun datang. Seberkas cahaya yang menembus jendela seakan menyambut hari yang baru. Aku pun terbangun dari tidurku. Aku segera mandi dan berseragam. Di meja makan aku menyantap sarapan sambil otakku tetap memikirkan masalah antara aku, Bimo dan juga Nisa.
“Baiklah, aku akan melakukannya walau berat. Besok aku akan melakukannya.” Kataku pad diriku sendiri.
Di sekolah aku menceritakan semua rencana untuk menyelesaikan masalahku pada Desi.
“Apa kamu yakin mau melakukannya? Lalu bagaimana dengan perasaanmu sendiri?” tanya Desi ketika aku selesai memeberkan rencanaku.
“Aku yakin. Aku sangat sayang pada Nisa, karena itu apa pun akan ku lakukan untuk kebahagiaannya” jawabku dengan yakin.
“Kamu begitu baik, aku harap suatu saat kamu akan mendapatkan seseorang yang bisa mencintai kamu seperti kamu mencintai Nisa.”
Hari esok pun tiba. Aku mengirimkan sebuah sms pada Bimo dan Nisa. Aku meminta agar nanti malam mereka bisa datang ke bukit tempat kami biasa berkumpul. Aku mengatakan bahwa aku akan mengadakan pesta ulang tahun untuk Nisa.
Malam pun tiba. Seluruh persiapan sudah selesai. Aku sendiri menunggu di bukit sambil menatap langit. Kembali terbayang seluruh kenangan antara aku dan Nisa. Hingga seseorang mengagetkanku.
“Hai…!” suara seorang perempuan dari belangkangke mengagetkanku. “Katanya mau bikin pesta, tapi mana para undangannya?”
“Cuma kamu dan Bimo yang aku ajak!” jawabku
Tak lama kemudian Bimo datang. Acara tiup lilin dan potong kue pun dimulai. Setelah acara selesai kami bertiga duduk diatas rumput sambil menatap langit.
“Nis, apa kamu senang?” tanyaku.
“Aku bener-bener bahagia, kamu emang pacarku yang baik” jawabnya.
“Nis, maafin aku yah.!” ucapku
“Kenapa kamu minta maaf?” tanya Nisa dengan wajah penasaran.
“Maaf karena aku telah membuatmu tidak bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan.”
“Maksudnya?” tanyanya lagi dengan muka yang mkin penasaran.
“Aku tahu kamu mencintai Bimo,” jawabku.
Bimo yang sedari tadi terdiam kaget mendengar apa yang aku katakan.
“Aku juga tahu kalau Bimo pun menyukai kamu. Walau aku sayang kamu dan aku senang bisa berpacaran dengan kamu. Tapi aku lebih bahagia jika kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan. Jadi, lebih baik sekarang kita akhiri saja hubungan kita !” jelasku
“Tapi….” Ucap Nisa dengan air mata menetes dari kedu pipinya.
“Udah, gak usah tapi-tapian. Anggap saja ini hadiah ulang tahun untukmu.” Ucapku memotong perkataan Nisa “Bim, kok diam aja? Bicara dong !” ujarku ketika menyadari kalau sedari tadi Bimo hanya diam. “Kayanya lebih baik aku pergi supaya kalian bisa lebih nyaman.” Lanjutku lalu bangkit dari dudukku, “Udah…gak usah bengong!” kataku sambil menepuk bahu Bimo. “Eh kalau kalian sudah jadian jangan sampe lupa sama persahabatan kita yah…! Jangan lupa juga traktirannya, hehehe” aku tersenyum nakal pada mereka berdua dan pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah turun dari bukit, aku segera mengambil HPku dari saku dan mengirimkan sebuah sms pada seseorang. Duar….suara kembang api yang meledak terdengar.
“Itu adalah hadiah dariku untuk kalian berdua. Aku harap kalian akan bahagia” gumamku dalam hati.Lalu aku pergi dari bukit dengan mengendarai motorku.
“Mereka pasti sedang menikmati pesta kembang apinya” pikirku dalam hati ketika motorku melesat meninggalkan bukit.
Keesokan harinya disekolah aku melihat Nisa dan Bimo sedang berjalan berdua. Melihat hal itu, hatiku seakan tertusuk ribuan pedang, namun ketika melihat sebuah senyuman yang terlukis di wajah Nisa semua rasa sakit itu pun sirna.
“Cinta tak harus memiliki, aku senang melihat orang yang aku sayangi bisa tersenyum. Itu sudah cukup membuatku bahagia.” ucapku pada Desi yang memperhatikan ekspresiku ketika melihat kebersamaan Nisa dan Bimo.
Desi hanya tersenyum dan menepuk pundakku lalu berkata, “Semangat yah…aku yakin suatu saat akan datang sebuah balasan atas pengorbananmu ini,”




nice story...
BalasHapusbukannya sad story yah?
BalasHapus